by : Radi Chow
“Plakk..”
“May, apa yang kamu lakukan?” ketus Mira, membelalakan matanya, menghardik teman sebangkunya itu dengan suara keras. Lalu melihat gadis itu bangkit dari aspal tempat ia merebah.
“Kok ditampar?” ketusnya geram. Namun sebelum Maya menelan perkataan Mira, pria itu telah berlalu, melangkah ke depan jalan kemudian berbelok ke kanan. Memasuki gerbang sekolah.
“Maksud lo? Pria itu tidak melakukan sesuatu padamu? Ia hanya ingin membantumu bangun karena kamu tiba-tiba terjatuh?” tanya Maya, dan tanpa basa-basi gadis itu membalas dengan anggukan.
“Apakah itu benar?”
“Iya. Iya.”
“Pokoknya nanti kamu harus minta maaf pada Fabian. Titik.”
“Fabian? Maksud lo ketua Osis kita?”
Tenggorokan Maya tercekat. Suaranya tidak dapat mengudara. Malu dan rasa bersalah berlomba dan berlari menembus barikade otaknya. Membuatnya lumpuh di tempat. Ia masih tidak percaya pria yang ditamparnya barusan adalah Fabian, sang ketua Osis. Entah mengapa ia baru menyadarinya, sekarang, pria yang berdiri semenit yang lalu sangat mendekati kemiripan wajah Fabian.
Maya berusaha mengembalikan ingatannya. Mengecek adegan sebelum dan setelah ia menampar pria itu. “Ya, pause di sana,” pinta Maya pada batinnya. Pria itu mempunyai mata biru keabuan. Rambutnya sedikit pirang dan itu bukan akibat diwarnai. Maya yakin itu akibat penyilangan ras alias peranakan dua orang dari negara yang berbeda. Mungkin salah satu ortunya adalah orang bule. Ah, namun itu semua tidak terlalu penting. Maya menutup matanya memandangi sekilas wajah yang muncul di benaknya. Seperti sebuah kamera, ia berhasil menangkap wajah pria itu. Ia tertegun. “Tidak salah lagi ia adalah Fabian,” batin Maya.
“May, ayo cepetan ntar pintu gerbangnya ditutup Mr. Pincher,” teriak Mira, membuyarkan lamunan Maya yang sedang asik ber-zoom-in ria.
“Iya,” jawab Maya dengan tatapan bak anak panah yang hendak menjadikan Mira sebagai sasarannya. Namun gadis belagu itu menangkis dan tidak tergubris sedikitpun. Ia lebih takut pada Mr. Pincher yang terkenal dengan keganasannya dalam menuang dosa murid-murid yang terlambat dan tidak mematuhi peraturan sekolah ke dalam buku hitam.
“Pake acara jatuh segala,” Maya membatin diselingi desahan panjang, menyusul teman sebangkunya yang sudah lari estafet masuk ke dalam sekolah.
Acara belajar mengajar yang membosankan akhirnya berakhir begitu saja. Namun kegelisahan yang mengumpal dalam hati Maya tak kunjung hilang. Ia risau, karena tamparan itu seharusnya tak melayang jatuh ke wajah Fabian, cinta pertamanya.
“Tunggu dulu, cinta pertamanya? Maksud lo?” ia meralat suara hatinya. Namun berat untuk mengingkari perasaannya sendiri. Ya walau sedikit, namun ia hanya ingin menjadi secreat admired-nya Fabian saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan Mira selalu mendecap dan bergeleng setiap kali Maya mengucapkan hal itu berulang kali.
Seperti mendengar bisikan gosip seminggu yang lalu, yang tiba-tiba muncul. Membuat Maya sedikit merenggut.
“Fabian gay, tapi…,” Maya segera menendang jauh-jauh pikiran itu. Terlalu sayang untuknya, ia tidak mau mencoreng apalagi menyiramkan sekaleng cat minyak pada wajah pria yang telah dipahat dalam dinding hatinya. Terlalu sayang, terlalu berat untuk…
“Ahh.. pokoknya tidak mau,” tukasnya selagi gossip itu mencoba untuk menembus dinding hatinya yang terlihat goyah, dan rapuh.
Sebenarnya Maya sangat sulit untuk tidak sedikit percaya. Ia punya alasan,
Pertama, pria seperti Fabian belum punya pacar. Mungkin ia terlalu banyak milih, atau ia belum berencana untuk pacaran. Namun apakah harus seperti itu? Kalau diingat-ingat sudah selusin makhluk-makhluk cantik berseliweran untuk mengemis cintanya. Semua adalah bibit unggul, cantik, pintar, anggun, baik hati, manis, dan masih banyak lagi kategori yang menggiurkan. Walau Maya harus jujur dia tidak ada di antara mereka. Ya, bolehlah ia dikatakan manis, walau sedikit terpaksa. Tapi mungkin cuma itu saja.
“Apa, masa cuma itu saja?” gerutu batinnya seraya memaki-maki dirinya sendiri. Kemudian memulai penyelidikan, mencari apakah masih ada kategori yang lain, yang dapat ia banggakan.
Kalau dibilang cantik, anggun dan manis sepertinya ia pernah dengar, tapi itu meletup keluar dari mulut kedua ortunya saja. Mungkin mereka mencoba untuk menjaga perasaan buah hatinya saja. Lalu untuk kategori pintar, tentu saja ia tidak tergolong, rapor-nya selalu kebakaran jika ia menatap sekilas.
“Tidak semuanya ya… Kan masih ada dua atau tiga yang tidak hangus terbakar,” protes Maya.
Terakhir, baik hati, ini adalah pilihan yang sulit. Ya, sulit untuk diajukan. Sebab pada sehariannya, Maya merasa ia belum pernah memberi, sedikitpun. Selalu saja meminta, dan kebanyakan meminta.
Namun sebelum Maya terperosok lebih jauh dengan terkaannya yang tak karuan, ia segera menarik nafas dan melepaskan desahan panjang. Seharusnya ia tidak membuat dongkol para pembaca, namun alasan kedua sepertinya belum terpikirkan. Baginya untuk apa membuat seribu alasan jika ia tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Fakta selalu menang. Sedangkan terkaan terkadang benar dan terkadang salah. Buat apa ia harus pusing, ia mungkin akan kalah dalam peperangan. Mending kalau ia dapat ikut berperang, sebab takutnya sebelum ia mengangkat senjata, seluruh keberaniannya telah luntur. Dan sesaat setelah ia bergumul dengan cermin di kamarnya, menangkap banyaknya kekurangan yang ada pada dirinya. Ia pasti kalah.
“Namun tamparan harus segera dilunasi,” pikirnya, lalu Maya melangkah mengitari seisi sekolah, mencari pria itu.
Saat itu, sekolah telah sepi dan Maya tidak menemukan jejak pria itu. Ia seperti ditelan oleh kesunyian sekolah, sesaat senja akhirnya menyelimuti. Mendung perlahan bergantung, menempel di langit, menghapus cahaya keemasan mentari yang mulai redup.
Lalu Maya sadar, ia ditinggal sendirian di sekolah. Dan hujan perlahan jatuh menghujam bumi, bertubi-tubi.
“Arrgh…,” teriakan Maya berusaha untuk mengalahkan suara hujan yang berlalu-lalang. Wajahnya pucat, seluruh aliran darahnya membeku. Ia melihat sesuatu sedang bergerak, maju mendekati dirinya. Dan tanpa sadar, kedua tangannya sudah menempel bak perangko di wajahnya. Lalu ia merasakan sentuhan hangat menyentuh keningnya. Pelahan membuat Maya merasa damai dan tenang, sehingga berani menyingkirkan kedua tangannya, membuka matanya lebar-lebar.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, May?”
“Fabian.”
“Mira bilang kamu mencariku seharian. Apakah untuk minta maaf?” tanya Fabian dengan nada terdengar jahil.
“Ok, aku terima maafmu. Namun sebagai imbalannya, kamu harus mentraktirku nonton, sepulang sekolah besok.”
Maya kehilangan suaranya, kesadarannya. Otaknya melayang di atas langit. Ia tidak menyangka dapat jalan bareng dengan Fabian, berpayungan berdua, dan itu, sangat dekat. Sepanjang jalan ia seperti kesambar geledek, saat Fabian terus terang, mengatakan kalau Mira itu adalah sepupu jauhnya. Namun Fabian melarang Mira untuk memberitahu orang-orang, termasuk Maya. Cerita selanjutnya seperti menohok tenggorokannya sendiri, pria itu tahu perasaan Maya terhadapnya. Cinta pertama pada pandangan pertama.
Entah harus marah atau tidak, Mira telah menceritakan sifat-sifat Maya pada Fabian, selengkap kamus bahasa Indonesia, beserta penerjemahannya. Membuat pria itu menyungingkan senyuman, berkali-kali, saat ia bercerita. Dan Maya menyukai senyuman itu, begitu hangat, dan sepertinya bunga-bunga cinta telah mekar di pematang hati mereka berdua.
“Terima kasih, Mir,” bisiknya pelan seraya berjalan membelah jalan yang basah karena hujan di senja itu.