Kamis, 16 Desember 2010

Letter From Heaven



by : Radi Chow


Present Day

Hiruk pikuk terdengar riuh di setiap telinga murid-murid yang berlalu-lalang di lorong sekolah. Perasaan gugup bercampur-aduk dengan kecemasan yang berlebihan, mendera ketika pandangan mereka menuju ke arah mading sekolah yang menempelkan pengumuman kelulusan, membuat nafas mereka menderu seiring detak jantung mereka. Teriakan histeris hingga isak tangis menghiasi wajah setiap murid yang namanya tertera dalam pengumuman, yang mengartikan kelulusan mereka mutlak telah diberikan oleh sekolah. Ada beberapa murid yang diam, terpaku linglung, bertanya-tanya, mengapa nama mereka tidak tertera di sana? Pengumuman kelulusan menjadi momok paling menakutkan bagi sebagian orang, yang mungkin telah berusaha keras mengukir sebuah prestasi di dalam dinding sekolah namun apa boleh buat jika akhirnya mereka kecewa dan kembali menerima kenyataan pahit, mengenyam bangku sekolah untuk setahun lagi.

“Lihat, Mia mendapatkan juara umum,” ucap seorang murid cewek berkepang dua menunjuk mading sekolah, membuat puluhan pasang mata ikut melihat.
“Tidak mungkin!!” teriak gadis berkacamata silinder tebal yang berdiri di belakang kerumunan.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Mia dapat mengalahkan aku? Semua hanya gurauan, ya gurauan, sebab, sebab aku telah belajar lebih giat dari siapapun yang ada di sini. Mengapa? Mengapa?”
Gadis berkacamata silinder tebal itu berhambur menjauh dari kerumunan, kemudian mengacak-acak rambut hitamnya, berseru dengan keras kekalahan pahit yang baru menimpanya beberapa tahun ini. Posisi kedua membuatnya shock setengah mati, ingin rasanya ia melompat dari lantai empat untuk menebus kekalahannya yang pahit. Ia telah kehilangan semangat, rasa bangga menjadi yang pertama, semuanya karena ia tidak rela, sebab yang mengalahkan dirinya adalah seorang gadis yang dianggapnya tidak pantas untuk meraih gelar kehormatan tersebut, menjadi orang paling pintar di sekolahnya sekarang.

Mia duduk dengan anggun di taman sekolah, merapatkan kakinya, menekan roknya dengan sebelah tangan sedangkan jari-jari tangan yang lain menyisir rambut panjangnya yang lembut, berusaha untuk bertahan dengan angin sepoi yang berhembus menerpa sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia merasa ingin menangis, ia sangat menderita, batinnya terasa terbakar, tersayat oleh pilu kesedihan yang mendalam, semua karena pria itu, yang berada untuknya dan selalu melindunginya tanpa ia sadari. Dan sekarang betapa ia ingin melihat pria itu sekali lagi, orang yang telah ia sia-siakan dan konsekuensinya ia akan menderita sepanjang hidupnya. Tiba-tiba kenangan itu muncul menghampiri Mia tanpa ia bisa mengelak, dan sekali lagi ia kembali terlarut dalam pusaran kejadian masa lalu.

Two Years Ago

Langit sedang benderang, terik memanasi bumi seperti kompor gas yang siap meledak kapan saja, tapi itu tidak terlalu berlebihan, jika dipikir-pikir lagi semua akibat ulah manusia itu sendiri, sombong dan terlanjur manja untuk menghamburkan seisi dunia tanpa memikirkan akibatnya. Jika tidak diimbangi dengan keseriusan untuk menjaganya agar tetap aktif berproduksi, maka ramalan 2012 mungkin akan benar menjadi kenyataan dan kita siap-siap akan menjadi bulan-bulanan dunia di akhir zaman.
Pak Joko sedang bertutur panjang lebar mengenai pelajaran Geografi yang telah dikuasainya dengan matang sejak menjadi guru di sekolah ini, baginya ramalan suku Maya bukan isapan jempol belaka, apalagi didukung dengan berbagai perihal riset ilmiah yang membingungkan, namun seratus persen akurat, maka sudah jelas ia sangat percaya ramalan itu akan menjadi kenyataan.
“Apes deh, hari gini masih ngomongin kiamat, capek dehh,”
“Betul, betul, betul,..”
“Jika kiamat itu datang maka, nasib lagi apes, sebab gue belum kawin..,”
“Huh..huhh..,”
“Pak, yang lain napa, kok tiap kali masuk bahasin 2012, emang rencananya Bapak mau merit tahun segitu?”
“Betul, betul, betul..,”
“Wah..ha..ha,”
“Stopp… sudah anak-anak, tapi jika kita mengerti dan segera mengambil tindakan maka…,”
“Yahh, dilanjutin lagi, capek dehh,”
“Huh..huhh…,”
Keriuhan begitu terasa di kelas Geografi, murid-murid merasa begitu jengkel karna Pak Joko selalu mengungkit masalah 2012 di setiap kelas yang ia berikan, berturut-turut tanpa mengenal bosan dan lelah, beliau begitu bersemangat untuk menceritakan hal-hal yang berbau dengan suku Maya, dan jika diperlukan maka pelajaran tentang yang satu itu akan menemani soal-soal ujian yang bakal dikeluarkan untuk ulangan semester. Bagi murid-murid yang pintar hal itu sangat menjengkelkan, namun bagi murid-murid lain, itu adalah berkah, sebab jawaban itu telah melekat seperti perangko di dalam kepala mereka, dan kenyataannya jawaban untuk soal yang satu ini selalu membantu nilai mereka. Bahkan Pak Joko tak tanggung-tanggung memberikan nilai sempurna jika soal yang satu ini dikerjakan dengan karangan bebas sesuka hati alias diberi penjelasan panjang lebar.

“Tok, tok, tok....”
“Iya, silahkan masuk.”
Sejenak suasana kelas menjadi hening, suara murid-murid itu seperti teredam di dalam kaset pita suara mereka. Wajah mereka tampak terkejut melihat sosok kurus tinggi
memakai kacamata telah berdiri di ambang pintu. Wajah orang itu terlihat sangat pucat, ia tampak lebih tua dari mereka, seperti seorang senior yang kekurangan gizi atau yang sedang didera stress berat, kedua bola matanya tampak suram dan warna hitam disekitar kantong matanya melukiskan dirinya sebagai seorang pesakitan.

 “J.J., apakah itu namamu?” tanya Pak Joko saat membaca sepucuk surat yang diserahkan murid itu kepadanya.
Murid itu mengangguk dan kemudian mengikuti Pak Joko ke dalam barisan kursi murid-murid, menunjukkan tempat kosong yang disebelahnya duduk seorang gadis berambut panjang.
“Mia, dia akan duduk bersamamu, kuharap kau  bisa membantunya.”
“Nah, kamu bisa duduk di sebelahnya.”
Gadis yang bernama Mia itu tampak sangat tidak tertarik, ia tidak menyahut saat pria itu memanggilnya. Anehnya sepanjang pelajaran hari ini, Mia merasa pria itu terus memperhatikan dirinya, namun ia toh tidak peduli.

Two Weeks Later

Mia merasa ada yang aneh dengan pria itu, sejak ia masuk ke kelas ini, belum sekalipun ia mendengar pria itu meminjam catatan ataupun bertanya mengenai pelajaran sekolah kepadanya. Dan setelah dua minggu ia berada di sini tak seorangpun yang berani mendekatinya, ataupun berteman dengannya. Mia merasakan sesuatu yang miris menyayat kalbunya hari ini, betapa ia telah tega menghiraukan pria itu beberapa minggu ini, tanpa mau bercakap ataupun memandang wajah pria itu, walau hanya sekilas. Sebenarnya Mia merasa ia tidak perlu melakukan apa-apa, sebab jika bertanya mengenai pelajaran sekolah kepadanya, maka ia juga harus angkat tangan karena beberapa bulan ini ia susah untuk berkonsentrasi dalam pelajaran, sering kali ia ketiduran di kelas dan catatannya yang carut marut tak mungkin ia pinjamkan untuk pria itu.
Pria itu tidak datang hari ini, dan tidak seorangpun yang membicarakannya, mereka menganggap dirinya seperti ‘invisible man’ atau manusia yang tak tampak, yang tidak perlu untuk dihiraukan apalagi diajak berbicara seperti layaknya teman. Terkadang mereka melihat pria itu sebagai pesakitan yang harus dijauhi. Mia merasa aneh, melihat sosok pria asing  itu tidak berada di sebelahnya hari ini, hatinya bertanya-tanya apakah pria itu telah menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan sekolah ini untuk selamanya. Masa bodoh dengan semua itu, pria itu bukan siapa-siapa, ia hanyalah orang asing yang tidak dikenal olehnya.
Lonceng bermain dan murid-murid telah membentuk antrian panjang di kantin, sedang Mia hanya duduk di taman, menyesap minuman botol yang berisi air mineral yang dibawanya dari rumah. Kemudian berhenti minum ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan saat Pak Joko berbicara kepada Kepala Sekolah yang duduk tepat di belakang, sambil memunggungi Mia.
“Murid itu, maksudku Jojo, bagaimana keadaannya, Pak? Bukankah ia terlalu mengambil resiko untuk bersekolah padahal ada kanker ganas sedang menggorogoti kepalanya?”
“Mungkin ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, dokter telah angkat tangan dan itu berarti ia tidak akan selamat, hanya mukjizatlah yang dapat menyembuhkan dirinya.”
“Aneh, mengapa ia malah memilih sekolah di sini dan memilih duduk bersama Mia?”
Kedua pria itu berbicara tanpa menyadari Mia telah mendengar semua percakapan mereka. Mia menebak-nebak apa yang sedang mereka bicarakan, di sekitar suara yang membisingkan, hanya beberapa kalimat yang dapat ditangkap olehnya. Jojo, kanker dan dirinya. Tanpa berpikir lagi ia berdiri dan berteriak sedikit kencang ke arah kedua pria yang memunggunginya sekarang. Dan mereka berbalik dengan wajah tampak terkejut.
“Apa yang kalian ucapkan? Jojo, siapa pria itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan saya?”
“Tenang, Mia. Kami tidak sedang membicarakan siapa-siapa.” terang Pak Jojo dibarengi dengan anggukan pelan Pak Kepala Sekolah.
“Tidak, kalian pasti bohong, jelas saya mendengarkan kalian menyebut nama Jojo dan saya. Kumohon bapak dapat memberitahu saya sekarang.”
Setelah berusaha menenangkan Mia yang berteriak, sehingga membuat murid-murid yang berada di sekitar melihat dengan tanda-tanya. Pak Jojo dan Kepala Sekolah segera menggiring Mia ke kantor mereka. Tidak ada pilihan lain, mereka memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, terutama siapa jati diri Jojo sebenarnya.

Mia berlari, terisak keluar dari kantor Kepala Sekolah, setelah menerima penjelasan dari kedua pria itu. Betapa tidak, setelah mendengar semuanya, ia akhirnya menyadari sesuatu, pria asing yang duduk bersamanya sejak dua minggu yang lalu, tidak lain dan tidak bukan adalah Jojo, pria yang sangat ia cintai, cinta pertamanya yang begitu saja raib dari kehidupannya, hingga untuk melupakan pria itu, dirinya memutuskan untuk berpindah sekolah. Dan pria itu sekarang sedang sekarat, menunggu ajal, tapi sebelum itu ia sangat ingin bertemu dengan Mia untuk terakhir kalinya. Mia mungkin sangat menyesal karena selama ini tidak menghiraukan pria itu, jika saat itu ia sadar dan mencoba mencari siapa jati diri pria itu, mungkin semuanya tidak akan begini. Ia akan sangat bahagia menemani pria itu, orang yang sangat ia rindukan dan cintai dengan segenap jiwanya, walau pria itu berada di ujung nafas terakhirnya.

Rintik hujan telah membasahi seluruh jalanan yang tadinya kering kerontang. Mia telah diberi izin keluar sekolah. Ketika di dalam mobil, Mia tidak dapat menahan isak tangis, air matanya mengucur kian deras, jatuh membasahi rok abu-abunya hingga membuat dua lingkaran yang kian merembes lebar. Nafasnya terasa sangat berat. Di ingatannya sekarang berkelebat wajah Jojo yang masih sangat muda, yang sedang tersenyum kepadanya, saat pria itu menolongnya ketika hampir tenggelam di kolam renang, ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Juga saat pria itu memberikan semangat padanya di kejuaraan lari nasional antar sekolah yang menjadi satu-satunya kelihaian Mia, dan saat Mia sedang mengalami kemunduran dalam pendidikannya, pria itu juga yang mengajarinya metode belajar instan yang unik, menghafal pelajaran dengan memakai ikat kepala yang bertuliskan ‘semangat’ sambil menghadap cermin, dan Jojo selalu berkata, “Jika ada orang yang harus memberikanmu semangat, dirinya adalah dirimu sendiri, dan bayanganmu di cermin itu akan menjadi penyemangat dirimu.”

Sesampainya di rumah sakit, Mia segera berlari menuju ke lobi, menanyakan kepada perawat yang sedang bertugas, kamar Jojo yang sedang dirawat. Kemudian setelah berada di pintu kamar Jojo dirawat, Mia hanya berdiri mematung, ia merasa sangat berat untuk bertemu dengannya, ia tidak ingin melihat kondisi pria itu sekarang, melihat puluhan alat bantu sedang terpasang di dadanya, selang-selang yang menjadi penompang hidupnya dan penyakit sialan yang menggerogoti seisi tubuhnya. Ia tidak rela dan marah kepada Jojo karena menghadapi semua itu tanpa dirinya. Namun Mia segera menepis segala perasaan yang menyambanginya, sekarang ia harus memberi pria itu semangat seperti yang  pernah dilakukan dulu terhadapnya.
Mia terkejut saat masuk ke dalam ruangan, ketika melihat apa yang menjadi bayangannya tadi tidak menjadi kenyataan, namun ia bisa merasakan penderitaan kedua orang tuanya, yang sedang berdiri di sana, melihat anak semata wayang mereka sedang sekarat, tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Tante, Om,” sapa Mia dan kedua orang tua Jojo segera mengangguk lemah kemudian menyeret langkah mereka keluar dari ruangan, membiarkan Mia dan Jojo berdua di sana, berbicara setelah hampir beberapa tahun lamanya mereka tidak bertemu.
“Mia.”
Pria itu terbaring, lemah dan kini tanpa bantuan alat sedikitpun, ia merasa semua itu tidak penting lagi, ia merasa waktunya akan berakhir sebentar lagi, dan ia tidak akan menyiakan waktu ini begitu saja. Mia menangis, melangkah dengan berat, mendekat, menjatuhkan wajahnya ke dada pria itu, yang  menyambutnya dengan hati yang sangat sakit, perasaan yang bercampur aduk, ia meraung dan menangis dengan pilu, seperti seseorang yang tidak ingin merelakan kebahagiaannya terenggut oleh kematian, yang ingin merasakan kembali kenangan di masa lalunya yang indah. Ia terlanjur mencintai Mia dan begitupula sebaliknya.
Jojo didorong dengan kursi roda, menuju ke taman. Hujan rintik itu tidak ada lagi, meninggalkan bau tanah yang basah. Bunga serta rerumputan kini bercahaya, terbilas butiran air hujan yang memantulkan cahaya mentari yang akan segera meredup di hujung senja. Mia membungkuk, memeluk leher Jojo dari belakang, kemudian bersama mereka menatap mentari senja itu dalam diam. Wajah Mia tampak tegang, pucat dan khawatir, tangannya terasa sangat dingin, tapi entah mengapa Jojo dapat memberikan kehangatan ketika ia memeluknya. Detik-detik itu terasa sangat berharga sekaligus menyakitkan, ia merasakan akan kehilangan pria itu sekali lagi, dan kali ini untuk selamanya.
“I love you, Mia,” bisik pria itu ke dalam telinga Mia sebelum nafas terakhir itu memutuskan kebahagiaan mereka. Gadis itu menangis, memeluk Jojo seerat mungkin, dan ia harus siap merelakan pria itu pergi untuk selamanya.

Present Day

Mia membaca surat terakhir yang ditulis Jojo sebelum ia menemui ajalnya. Kemudian merasakan seolah tulisan itu berbicara kepadanya,

“Apa kabar, Mia. Lama kita tidak bertemu. Mungkin dirimu sudah melupakan diriku saat ini. Apakah kamu masih marah? Oh tentu saja, buktinya kamu tidak mau melihatku saat aku memasuki kelasmu waktu itu. Dan tidak menyahut panggilanku saat aku duduk di sebelah bangkumu. Aku tidak tahu bagaimana hatimu sekarang, mungkin dirimu tidak dapat memaafkan diriku, soal pernyataan cintamu yang kutolak mentah-mentah, soal diriku yang berpura-pura tidak menghiraukan dirimu lagi saat itu. Dan ketika diriku tiba-tiba lenyap dari hatimu dan kehidupanmu.
Semua kulakukan bukan untuk menyakitimu, terus terang aku terlanjur cinta padamu, bahkan saat pertama kali kita jumpa, mungkin kamu sudah tidak mengingatnya, bocah kecil yang terjatuh saat berlari dan kemudian kamu mengendongnya seperti anak cewek tomboy ke dalam ruang kesehatan. Sejak itu aku telah memutuskan untuk membalas kebaikan hatimu dan Tuhan mengizinkan aku untuk menolongmu saat dirimu hampir tenggelam di dalam kolam renang. Dan kita mulai berteman sejak saat itu.
Aku mencintaimu, tentu saja, jika dirimu tidak percaya maka kamu bisa mempercayai-Nya, seperti diriku mempercayai-Nya, namun aku tidak akan menyatakan perasaanku padamu jika pernyataan itu akan berhujung pada penyesalan atas penderitaan dan hilangnya kebahagiaanmu.
Ya, penyakit sialan ini telah menjalariku sejak kecil, walau tidak begitu kelihatan di awal mulanya, tapi perlahan namun pasti usiaku akan berakhir di usia mudaku yang tidak bakal lama lagi. Pernyataan cintamu sungguh membuatku terharu sekaligus miris, terharu karena dirimu begitu mencintaiku, begitu juga sebaliknya, dan miris karena cintamu bukan diperuntukan bagiku. Aku berusaha untuk tidak menghalangi kebahagianmu, walau hatiku sakit namun kuputuskan untuk meninggalkan kehidupanmu untuk selamanya. Dan membawa kenangan kita untuk kupendam dalam perjalananku menuju ajal.
Namun penyesalan rupanya selalu datangnya terlambat, aku menyadari menghabiskan sisa hidupku denganmu mungkin dapat memperpanjang usiaku, aku bahkan harus menjadi orang yang lebih egois, mempertahankan dirimu untukku. Dan ketika dirimu melepaskan tanganku maka aku akan rela, pergi untuk selamanya.
Tapi aku tidak melakukannya, tidak berani, seperti seorang pengecut diriku terus bersembunyi melawan takdir. Dan sejak kematian terasa begitu dekat, akhirnya diriku memutuskan untuk bertemu lagi denganmu, untuk yang terakhir kali, dan kali ini tetap sama, tanpa kata pisah tentunya.  
Jika kamu sudah membaca surat ini, maka aku ingin kamu tetap tegar, kumohon maafkan aku.”
“Bagiku, cintamu adalah anugerah yang terindah yang dihadiahkan oleh-Nya.”
“I love you, Mia”

Mia mendekap surat itu erat di dadanya, tidak perduli dengan berita juara umum yang ia dapatkan dengan metode belajar instan unik yang diajarkan Jojo kepadanya. Ketika angin kembali menerpanya ia merasa Jojo telah duduk disampingnya, tersenyum dan tanpa sadar, Mia menempelkan kepalanya di bahu pria itu.

Boneka Salju

by : Radi Chow
Hawa dingin itu begitu menakutkan, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Membuat darah yang tadinya mendidih, kemudian menjadi hangat dan kini membeku. Setiap hembusan nafas membentuk uap panas yang kemudian hilang, lenyap dalam sekali terpaan angin. Berkali-kali kulakukan dan sangat menyesakkan ketika hawa dingin itu mengalahkan kondisi tubuhku yang mulai melemah. Terasa udara itu begitu menyakitkan ketika kuhirup dan kulepaskan dari paru-paruku. Sarung tangan berbulu tebal itu tidak sanggup lagi untuk menjaga tanganku agar tetap hangat, juga syal warna-warni itu, membeku kaku, tak bergeming, semua pakaian yang kukenakan seperti mengucap kalah pada hawa dingin ini. “Aku akan mati,” ucapku dengan nada bergetar dan gemeretuk gigiku semakin membising bersama tiupan angin yang semakin kencang. Aku akan mati, batinku. “Semua karena kebodohanku dan aku akan mati,” ucapku separuh dan kemudian kepalaku terhuyung, terasa berat, tubuhku jatuh dan merebah ke belakang, di atas gundukan meteran kubik salju yang walaupun terasa lembut, namun itu sekarang mematikan. “Aku akan mati,” terdengar bisikan yang seperti ucapan terakhir dariku sebelum hawa dingin itu merenggut kesadaranku.

Dunia berkabut, atau ini hanya perasaanku saja. Kabut putih itu berbau teh hijau yang menyerebak di sekitarku. Aku dapat mencium aroma teh yang tajam, namun hangat dan itu membuatku menelan ludah. Aku tidak melihat seorangpun di sana, jauh dari pandangan mataku hanya mendapatkan kabut putih yang semakin tebal. “Dunia apakah ini?” batinku. Pelahan rasa hangat seperti mengalir melewati setiap lekukan tubuhku, rasa gigil itu segera berganti menjadi kenyamanan yang luar biasa, seperti membawa ragaku keluar dari siksaaan rasa dingin yang amat sangat mengerikan.
“Tidak!!! Aku tidak mungkin mati. Bukan ini tujuanku, lari dari rumah dan menghindari segala persoalan sialan ini. Lebih baik mengikuti perjodohan orang tua yang bisa kutolak jika tidak mau, daripada memilih tersasar, kemudian terdampar di gunung bersalju yang tebal dan mati.”
Aku melangkah dengan tergesa menelusuri kabut yang beraroma teh, tidak ada jalan untuk keluar dari kepungan kabut. Begitu frustasinya hingga air mataku jatuh membuncah tak terkendali. “Aku harus pulang,” teriakku berkali-kali untuk meyakinkan ada orang yang akan mendengarnya. Namun suaraku hanya berputar di sekeliling. Tubuhku jatuh rubuh ke tanah yang kering dan hangat, aku merasa sangat lelah dan mataku tiba-tiba begitu beratnya, kemudian rasa kantuk itu seperti membawaku ke dunia lain.

Aku terbangun dan mendapatkan diriku berbaring di dekat perapian. “Perapian,” pikirku sengit. Kemudian tanpa menunggu lama aku segera mencubit pipiku dan merasakan rasa sakit menjalar di sana. Jika ini bukan mimpi, aku benar-benar mendekati kematian dan berhalusinasi tanpa arah mungkin penjelasan yang tepat untuk orang yang sedang sekarat. Aku menarik nafas dalam-dalam, aroma teh kembali menyengat hidungku, aku terkejut ketika menyadari tubuhku sekarang hanya berbalut selimut tebal yang nyaman. Kuangkat tubuhku berdiri dengan susah payah, pergelangan tanganku terasa kebas, tungkai kakiku terasa lemas, berdenyut ketika hendak menahan beban tubuhku. “Aku masih hidup,” batinku.

“Kamu sudah bangun?”
Seseorang muncul tiba-tiba, kemudian berdiri di hadapanku dengan tangan di masukan ke dalam saku celana. Wajahnya terlihat santai dan ia tersenyum ke arahku. Aku terkejut, wajahku merona seketika, kemudian rasa panik mulai menghantui diriku. Dengan tangan mencengkram erat selimut tebal yang membungkus tubuhku lalu pandanganku melihat ke sekeliling mencari pakaianku.
“Kemana pakaianku?”
Ia tidak menjawab kemudian berbalik. Aku berusaha untuk melangkah dengan pelan dan menyesal ketika selimut itu terinjak kakiku yang kaku. Badanku terhempas ke depan, aku berteriak pelan dan memejamkan mata. Tidak terjadi apa-apa, sesuatu memegang erat kedua bahuku. Ketika badanku didorong pelan dan ditegakkan, wajah pria itu terasa begitu dekat dengan wajahku, kedua matanya tidak melihat ke arahku melainkan kaget, pandangannya turun ke bawah dan kemudian menatap ke dalam mataku, berulang kali.
“Ahhh, dasar mesum!!!!”
“Plakkk.”
Tanganku melayang ke wajahnya kemudian aku buru-buru meraih selimut yang jatuh teronggok di lantai yang dingin. Menariknya untuk membalut tubuhku yang tidak mengenakan apapun alias terlanjang.
Telanjang.” Pikirku.
“Ahhhh…….”
Mataku membelalak dan menatap garang, namun pria itu tidak lagi berada di sana. Ia lenyap begitu saja. Meninggalkan rasa malu dan wajah merona yang tidak terbantah.
Ada yang bisa saya bantu, nona?”
“Hah…?”

Aku duduk di kursi meja makan berbentuk persegi yang ada di ruang dapur, mengenakan daster yang kepanjangan, menyesap teh hijau hangat yang sudah kuidamkan, yang sejak tadi membuat tenggorokanku frustasi karena kering kerontang. Cairan itu perlahan mengisi seluruh tubuhku, membawa kehangatan yang sangat kubutuhkan sekarang. Setelah keadaan menjadi tenang, mungkin akibat teh hijau yang sedang kuminum, perlahan aku memasang telinga, mataku menatap wanita paruh baya memakai celemek bermotif bunga yang duduk di hadapanku, sedang menjelaskan apa yang sedang terjadi padaku, semuanya.

Pria itu adalah penyelamatku, begitulah yang bisa kutangkap dari pembicaraan yang panjang dengan wanita paruh baya itu. Ceritanya sewaktu pria itu hendak kembali ke rumah kabin yang ia tempati sehabis mencari kayu bakar, tanpa sengaja ia menemukan diriku sudah pingsan dan tidak sadarkan diri. Buru-buru pria itu meninggalkan seluruh kayu bakar itu, memapahku menyusuri jalanan bersalju dan membawaku ke rumah kabinnya. Lalu ia meminta wanita paruh baya itu melepas semua pakaianku yang basah, menyelimutiku dengan selimut dan setelahnya ia dan wanita itu mengangkatku dekat ke perapian. Wanita itu berani bersumpah jika pria itu tidak melakukan apa-apa terhadapku, dan aku harus percaya padanya.
Aku meringis saat mendengar pria itu telah membakar beberapa perabot kayu yang mengisi rumah kabin ini hanya karena ia tidak dapat kembali mengambil kayu bakar yang ia tinggalkan sewaktu ia menyelamatkan hidupku. Badai salju yang semakin lebat membuatnya rela untuk mengorbankan perabot kesayangannya dan dibutuhkan lebih ekstra untuk mencairkan dan menghangatkan tubuhku yang beku.
Jika semua itu benar maka aku adalah salah satu orang yang paling tidak tahu diri, tidak tahu malu dan tidak berperasaan karena telah menampar pria itu. Logikanya adalah bahwa selimut itu terjatuh karena diriku yang tidak sengaja melakukannya sedangkan pria itu mau tidak mau menangkapku agar tubuhku tidak hancur berkeping di lantai. Bagaimana semua ini dapat menjadi alasan untuk menyalahkan pria itu, setelah begitu banyak yang telah ia lakukan untukku.

Untuk masalah permintaan maaf akan kupikirkan nanti, sekarang yang harus kulakukan adalah mengisi perutku yang keroncongan dengan sepiring sandwich dan secangkir teh hijau hangat. Namun setelah hampir semua makanan yang disajikan wanita itu telah kulahap dan kuhabisi, pria itu belum juga muncul. Aku berjalan dengan tenaga baru yang baru terisi ke ruang tamu yang ada perapian karena di sana terasa sangat hangat, menarik selimut dan berbaring di atas karpet coklat yang baru ditebarkan di sana. Kemudian daripada kepalaku pusing memikirkan ini-itu dan malam badai bersalju akan semakin lebat, kuputuskan untuk merajut mimpi-mimpi indahku selanjutnya.

Suara burung berkicau dan gemerisik ranting pohon yang beradu dengan angin membuat tumpukan salju yang bertengger jatuh ke tanah. Suara gedebuk semakin riuh dalam telingaku membuatku terjaga dan bangkit. Kemudian berlari kecil ke arah jendela, menatap keluar. Langit sudah cerah dan hujan salju ternyata sudah berhenti. Walau matahari masih tampak buram dan tertutup kabut putih yang sedikit tebal namun beberapa hari ke depan mungkin cuaca akan semakin baik dan seminggu lagi mungkin tumpukan salju ini akan meleleh dan musim semi akan dimulai.
Aku tidak melihat siapapun di rumah kabin, wanita itu telah membuat masakan untukku di meja dapur dan pakaianku yang sudah kering ia letakkan di atas dudukan kayu tinggi yang ada dekat dinding. Secarik kertas terselip di bawah piring, kutarik pelan lalu kubaca dengan pelan.
“Aku telah memberitahu kantor polisi terdekat dan mengatakan kepada mereka bahwa kamu selamat. Mungkin siang ini mereka akan datang menjemputmu. Tunggulah di sini dan jangan kemana-mana. Toru.”
Pesan yang begitu singkat dan tanpa basa-basi. Aku merasa bersalah karena belum meminta maaf dan berterima kasih pada pria itu. Mungkin sebelum pulang nanti, aku akan menemuinya.

“Beliau sudah kembali ke kota, dan berpesan kepada saya untuk menjagamu hingga keluargamu menjemputmu.”
“Kemana ia pergi? Bisakah anda memberi alamatnya karena saya harus segera meminta maaf dan berterima kasih padanya.”
“Tentu saja.”
Wanita itu mencari secarik kertas dan menulis alamat pria itu di sana.
“Toru Ishida, Osaka, Kitahama Street Blok 9 No. 25.”

Sambil menunggu keluargaku datang menjemput, diriku membuat boneka dari tumpukan salju yang kubuat kecil-kecil. Ada satu yang kubuat hampir menyerupai wajah pria yang bernama Toru itu. Kedua matanya kupasang dengan menggunakan kancing lengan bajuku, hidungnya dengan ranting kecil yang telah kupatahkan menyerupai hidung Pinokio dan senyuman bibir berbentuk sabit dari saus cabe yang kutemukan di dapur. Membayangkan wajah pria itu membuat jantungku berdegup kencang. Apa yang sedang kupikirkan?

Siang itu keluargaku menjemputku, ayah dan ibuku tidak bersuara dan tidak mengatakan apa-apa bahkan tidak memarahi aku seperti biasanya. Mereka hanya diam di dalam mobil saat aku mengatakan maaf, berulang kali. Mungkin shock karena hampir kehilangan anak kesayangan mereka, jadinya tidak mengungkit masalah perjodohan lagi. Aku merasa bersalah, jika saja aku menerima perjodohan ini dari awal mungkin semua ini tidak bakal terjadi.
Mobil berjalan lambat dan pelan, anehnya tidak mengarah ke arah rumah. Tapi menuju ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi. Aku hanya diam dan menurut saja, kemudian kami sampai ke suatu tempat, sejenak mataku terbelalak melihat palang hijau yang bertuliskan nama jalan yang sedang kami lewati. “Begitu kebetulan.” Pikirku.

Aku dan kedua orang tuaku disambut oleh sepasang suami istri yang usianya tidak jauh beda dengan kedua orang tuaku.
“Apakah ini Sayaka? Aduh ia sudah tumbuh begitu besar dan wajahnya sangat cantik. Seperti ibunya.”
“Apa kabar, Paman, Bibi.” ucapku seraya menatap sepasang suami istri itu. Ibuku berbisik bahwa mereka adalah teman kedua orangtuaku sewaktu sekolah. Ibu juga bilang jika merekalah yang merencanakan perjodohan ini dan berencana melanjutkan perjodohan ini ke arah pertunangan setelah kami sudah cukup umur. Mungkin itulah alasannya kenapa ibu melarangku untuk berpacaran selama ini.
“Mari masuk.”
“Ya, terima kasih.”
“Ishida kamu memang tidak berubah ya. Masih suka melukis rupanya.”
“Ah, itu hanya sekadar iseng saja.”

“Ishida? Apakah nama keluarga mereka Ishida? Mungkin yang ini juga kebetulan.” batinku.
“Di mana putra kalian?” tanya ayahku.
“Saya akan memanggilnya, tunggu sebentar.” Istri pria itu berjalan ke belakang,
“Kamu tidak akan mengenalinya lagi. Ia tumbuh begitu besar dan wajahnya tentu saja mirip denganku sewaktu muda.” kata paman Ishida terbahak-bahak.
“Betulkah itu?”

Hanya beberapa menit dan wanita itu sudah membawa putra mereka ke hadapan kami. Saat itu aku sedang melirik lukisan yang dibuat paman Ishida dan tidak memperhatikan.
“Perkenalkan ini Toru.”
“Hah, sudah sebesar ini.”
Pandanganku seketika beralih ke arah pemuda yang bernama Toru itu, memastikan apakah indera pendengaranku bermasalah. Ternyata ia memang sang penyelamatku. Hari ini aku dapat melihatnya dengan jelas. Wajahnya sangat tampan dan lesung pipi itu begitu menawan saat ia tersenyum. Tidak, kali ini aku akan memastikan jika semua ini bukanlah mimpi, lantas aku menginjak sebelah kakiku, rasa denyut itu  memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Semua adalah kenyataan dan mengapa begitu banyak kebetulan di sini. Aku butuh penjelasan.

“Sayaka, beri salam cepat!!”
“I…iya, hai….”
Tingkahku terlihat aneh dan aku sangat malu karenanya. Pria itu hanya tersenyum membuat jantungku berdetak sangat cepat dan wajahku merona padam. Suaraku seperti tercekat dan begitu minuman dingin itu disajikan oleh wanita paruh baya yang merawatku di rumah kabin. Aku segera meneguknya dengan rakus hingga isinya kosong, begitu mereka melihatku sontak mereka kaget setengah mati, lalu tertawa sedangkan kedua orang tuaku hanya mengangguk malu. Pendekatan kami dimulai sejak saat itu, dan seperti mendapatkan kesempatan kedua maka aku telah bertekad untuk mempertahankan cinta pertamaku, sang penyelamatku, Toru Ishida.

Liburan musim dingin setahun kemudian pun tiba, Ishida mengajakku berlibur ke rumah kabin, dan tidak mengizinkan wanita yang merawatku untuk ikut. Entah mengapa kedua orang tua Toru juga tidak berkomentar, begitu bersemangat ketika kami memberitahukan
rencana ini pada mereka. Tidak ada yang mesti kutakutkan jika Toru ada bersamaku, kebahagiaanku adalah bersamanya dan liburan ini, hanya berdua saja, tak akan kulewatkan.

Langit begitu cerah dan tidak ada badai salju dalam bulan ini. Salju yang turun hanya sepertiga dari salju tahun kemarin dan itu memberi kami banyak kesempatan untuk bermain di luar. Ketika Ishida mencari kayu bakar, aku terpaksa iseng membuat boneka salju yang sedikit lumayan besar, menncoba membuat duplikat boneka salju Toru yang masih kuingat tahun lalu. Bukan hanya satu melainkan dua buah boneka salju, aku dan Toru. Aku menambahkan sepasang ranting panjang untuk masing-masing boneka dan meletakkan topi merah jambuku untuk menunjukkan salah satunya adalah diriku. Kukaitkan ranting itu seperti sedang bergandengan dan kini semua tampak sempurna, perfecto.
Ketika hendak berbalik aku bertubrukan dengan Toru yang sedang memegang kayu bakar. Tubuhku seperti hendak limbung ke belakang, Toru segera melepas kayu bakar itu dan menarikku sebelum diriku menimpa boneka salju. Adegan selanjutnya seperti di film-film, waktu seperti menjadi slow motion dan perlahan tangannya yang hangat telah menyentuh tengkuk belakangku, sebelah tangannya lagi menarik pelan tanganku, tatapan Toru begitu lekat dan dengan mata kupejamkan, pelahan ia menciumku. “Ciuman pertamaku.” Dunia seperti terbalik dan entah hanya perasaan atau halusinasi, ketika kami hendak berbalik dan menutup pintu, dari balik jendela aku melihat sepasang boneka salju saling tersenyum dan kemudian mengulang adegan yang baru aku dan Toru lakukan. It’s amazing.






Selasa, 14 Desember 2010

“Goodbye, Paris.”


by : Radi Chow

Kyla membuka tirai jendela pesawat, awan-awan putih di langit biru, berarak dengan tebal, lembut tersapu sayap pesawat yang berjalan pelan membelahnya. Matahari terlihat sesekali lewat, membiaskan cahaya terang di antara celah lapisan awan yang menghadangnya, dan ketika Kyla memandang luas ke depan, awan itu berpencar, cahaya itu pecah, menyenter ke segala penjuru celah yang dapat dilewati olehnya. Ia membayangkan jika lukisan tentang surga itu mungkin akan seperti yang dilihatnya sekarang. Terlalu indah untuk diutarakan dengan kata-kata.
Pesawat itu terasa begitu lambannya, hingga Kyla sudah merasa jenuh dengannya. Ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, perjalanan ini terlalu jauh untuknya, terkadang ia ingin saja turun dari pesawat itu atau melompat dari pintu pesawat dengan gantungan tas parasut yang dapat membawanya kembali ke paris, kota idaman yang sangat ia cintai.

tu veux quelque chose?” (anda menginginkan sesuatu?) tanya pramugari pada kyla ketika pandangan mereka saling berjumpa. Sepertinya pramugari itu memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi dan mencoba untuk menawarkan keramahan padanya. Ia merasa Kyla mungkin jenuh dengan perjalanan yang jauh seperti ini. Beberapa kali transit, mungkin cobaan yang melelahkan untuk gadis seusianya. Kyla yang ketangkap basah sedang tidak mood, tampak salting dan segera menjawab, “Non, merci.” (tidak, terima kasih).
Pramugari itu mengangguk dan berjalan ke depan, melayani beberapa penumpang, yang meminta ini dan itu kepadanya. Walau pramugari itu tampak lelah, namun ia tidak henti-hentinya tersenyum, tuntutan pekerjaan membuatnya harus berlaku sesopan mungkin. Kyla hanya menghela nafas, beruntung ia memupuskan cita-citanya untuk menjadi pramugari. Berkeliling dunia, mungkin saja dapat dilakukan olehnya, tapi jika harus melayani penumpang dan stand by setiap waktu jika diperlukan, ia tidak sanggup melakukan semua itu.

“Ayah tidak mau mendengar apapun sebelum kamu dapat mengabulkan apa yang ayah inginkan. Bertemulah sekali saja dengan Brian dan beritahu ayah apa yang kamu rasakan. Ayah harap itu adalah kabar baik, jika tidak galeri ini mungkin akan ayah berikan kepada adikmu.”
Ucapan ayah Kyla begitu membekas di otaknya sekarang, permintaan yang aneh dan berlebihan itu membuat Kyla tidak bisa berkutik. Bagaimana tidak, galeri lukisan yang ia dirikan dengan bantuan keuangan ayahnya, akan diserahkan kepada adik tiri Kyla, jika itu terjadi maka Kyla akan kehilangan semuanya.
Sejak kecil Kyla begitu menyukai lukisan, darah seni mengalir dari ibu Kyla yang jelas-jelas peranakan Indo dengan ayahnya Perancis, kemudian setelah ibunya meninggal ia dibawa ke luar negeri dan kini harus tinggal dengan ibu tiri berkebangsaan Perancis. Kyla menyukai ibu tirinya, beliau cantik luar dalam, berkepribadian sederhana namun elegan, memiliki lesung pipi yang menggoda ayahnya dan putra ganteng yang juga ia bawa dari perceraian sebelumnya. Kyla jatuh hati pada keduanya, Ibu dan adik tiri yang sama-sama menyukai seni, seperti dirinya. Tidak peduli apapun yang terjadi, ia telah jatuh cinta pada Paris beserta isinya, sekarang, jika ia harus memilih maka ia tidak ingin meninggalkan Paris, namun tidak ada pilihan jika itu berhadapan dengan ayahnya yang super keras kepala.
“Hanya bertemu dan jika tidak ada perasaan, maka ayah tidak dapat memaksaku lagi,” ucapnya dengan nada separuh hati.
“Baiklah, tapi ayah lebih menyukai jika ada kabar baik.”

“Bertemu dengan Brian, mungkin bukan hal yang sulit, hanya bertatap muka dan endingnya kembali ke Paris. Tugas yang sangat mudah, dan jika ayah bersikeras, maka aku akan mengancam untuk minggat dari rumah, ha.ha.ha.”
Kyla manyut dan tersenyum tidak jelas, bagaimana mungkin ia menyukai pria seperti Brian? Ia sudah gila jika bisa suka pada pria itu, baginya pria itu sangat tidak jelas, pikirannya begitu kosong akan sosok pria itu. Kyla hanya mendengar kabar angin bahwa pria yang namanya Brian itu adalah anak teman ayahnya di Indonesia. Pria itu pernah berkunjung ke rumah Kyla di Indo dan Kyla hanya bertemu dengannya sekali. Pria itu sangat unik bin ajaib, wajah super kuper dengan rambut brokoli, yang hobi menenteng kiloan buku tebel kemana-mana dan menjadi terkenal karena setiap kali berita siaran di telinga Kyla, ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah, seorang kutu buku yang selalu bersembunyi di balik tembok tirani perpustakaan. Kyla merasa kasihan sekarang, jika memikirkan masa lalu Brian yang begitu kelam.

Pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional ibukota, Kyla tampak sedikit lega, namun raut kelelahan terlihat jelas di wajahnya, maklum saja selama perjalanan ini ia hanya terlelap sesekali, sisanya dihabiskan karena kepalanya pusing memikirkan masalahnya sendiri.
Kyla berjalan melewati ruangan panjang yang di sekat dengan kaca yang bening, hingga tampak jejeran taksi maupun mobil pribadi yang sedang bertengger dan berseliweran di luar, berdiri sejenak untuk melihat keramaian yang riuh di depan pintu keluar. Sejumlah orang ternyata sedang berdiri di samping palang pembatas, mengusung spanduk yang berisi nama penumpang yang sedang mereka tunggu. Kyla teringat dengan pesan ayahnya bahwa akan ada orang yang menjemputnya, sesampainya ia di bandara. Dengan mata jeli, Kyla melirik ke sana-sini, melihat apakah ada namanya di antara sejumlah orang yang membawa spanduk itu. Beberapa kali ia memeriksa dengan teliti dan dalam hitungan beberapa menit penumpang yang baru turun dari pesawat, yang berjalan duluan di depan berangsur-angsur berkurang dan sekarang tinggal beberapa.
Pandangan Kyla berhenti tatkala bola matanya membesar menuju ke arah spanduk yang bertuliskan namanya. Ia tidak dapat melihat wajah orang itu sebab spanduk itu menghalanginya. Karena semakin penasaran ia pun bergegas keluar dari pintu bandara, mendekati pria itu.
“Maaf, saya Kyla. Apakah anda…”
Kyla membungkam kembali suaranya, pria itu telah membuatnya terheran-heran ketika menurunkan spanduk yang ia bawa.
“Brian?”
Pria itu mengangguk pelan, bola matanya yang coklat bening membuat ingatan Kyla yang sedikit suram, kini terbuka lebih terang.
Tidak mungkin. Apakah mataku telah rusak. Pria culun dengan rambut brokoli, kaca mata bak LUP. Apa yang sedang terjadi? Kemana itu semua? Bagaimana bisa?”

Mobil merah Ferrari yang mewah itu melaju dengan kencang, membelah jalanan ibukota. Kyla duduk di belakang, terheran-heran karna pria itu telah berubah drastis. Pita suaranya seperti  terputus dan tidak mengeluarkan sedikitpun basa-basi dari mulutnya.
“Bagaimana dengan Paris?”
Kyla  duduk tak bergeming, ia tidak menjawab sedikitpun. Pikirannya sedang kacau, menelaah beberapa kejadian di masa lalu.
“Kyla?!!”
“Ya. Ada apa?”
“Maaf, apa yang kamu ucapkan barusan?”
“Bagaimana Paris?”
“Tentu, masih sama seperti dulu. Menakjubkan, indah dan tak terlukiskan dengan kata-kata.”
Senyum mengembang dari wajah Brian, ia mengangguk dan tertawa pelan. Kyla merasa itu jawaban yang bodoh, mengapa ia tidak terlalu berhati-hati ketika mengucapkannya. Lamunan kemana-mana telah membuatnya tidak sadar. Sekarang, entah apa itu, Kyla merasa sesuatu yang aneh telah terjadi, badannya terasa panas dari ujung kepala ke ujung kaki. Mungkin cuaca di ibukota yang belum terbiasa untuknya. Ia memegang kepalanya dan panas seperti telah menjalar di sana, anehnya mengapa jantungnya berdegup kencang, ia tidak mengerti dengan semua itu. Kelelahan yang amat sangat membuatnya tertidur pulas di perjalanan.


Kyla mengusap tangannya pada sprei lembut yang terbuat dari satin itu, kemudian menarik nafas dalam-dalam, ketika aroma pewangi yang lembut dan harum memenuhi seluruh hidungnya dan sekarang sedang menuju pikirannya. Gadis itu terperanjat, duduk memeluk sprei putih itu, mengumpulkan ingatannya yang berserakan ketika ia tidak sadar, ia merasakan suasana yang aneh, ruangan yang terpampang itu bukanlah kamarnya, ia jelas akan hal itu. Dan terakhir yang ia ingat, ia bersama pria itu, yang mengantarnya ke suatu tempat. Pria itu telah melakukan sesuatu padanya, ruangan ini tampak seperti kamar hotel, ia dapat menebaknya karena tidak beda dengan kamar-kamar hotel di Paris. Lalu kemana seluruh pakaian yang ia kenakan kemarin, daster putih lembut yang melekat di badannya sekarang, sangat asing, dengan mode baru tentunya jika ia tidak salah menebaknya, tapi ia tidak merasa mempunyai daster seperti itu.
“Maafkan saya, apakah saya boleh masuk?”
Seseorang mengetuk pintu, Kyla meyakinkan dirinya bahwa akan ada jawaban untuknya dan dari pendengarannya, sepertinya orang yang bertanya adalah seorang perempuan. Lalu ia memberanikan diri menyahut, namun dengan nada yang ditekan selembut mungkin.
“Ya, silakan.”

Meja makan itu sangat panjang, di atasnya telah terhidang beragam menu pilihan dari masakan eropa hingga Indonesia. Kyla sangat menikmati makanannya, ia merasa begitu bersemangat, nafsu makannya juga, entah kemana perginya perasaan yang menghantuinya beberapa waktu yang lalu. Wajahnya tampak sangat segar dan bersinar kebahagiaan. Ceritanya, ia telah mendengar begitu banyak penjelasan dari pelayan yang mengetuk pintunya saat ia kebingungan ketika menemukan dirinya berada di kamar yang bukan kamarnya. Jawaban yang memuaskan dirinya dari pelayan itu telah membuat ia seperti terbang di awan-awan. Sekarang, segala kepenatan yang ia lewati di pesawat, kini sirna sudah.
Begitu banyak yang belum ia ketahui mengenai Brian dan untuk itu Kyla telah memutuskan menetap di ibukota, sementara dirinya mencari jawaban dari segala pertanyaan yang terus mengiang di telinganya, sekalian ia dapat berziarah ke makam ibu kandungnya dan setelah itu menikmati hingar-bingar ibukota.

“Saya yang melepaskan pakaian anda atas permintaan tuan muda Brian. Beliau sangat khawatir dengan kondisi anda, karna panas yang belum juga reda saat anda dibawa kemari. Kemudian tuan muda-lah yang menjaga anda di sini semalaman.”
“Dimana dia sekarang?”
“Tuan muda pesan untuk melayani anda sebaik mungkin dan memberikan apa saja yang anda perlukan. Mungkin akan terlambat pulang karena ada acara pelelangan di galeri seni kepunyaan beliau.”
Penjelasan pelayan di kamar tidur itu telah menohok tenggorokan Kyla, membuatnya bungkam untuk beberapa saat. Hingga garpu yang ia pegang terlepas. Ia benar-benar tidak bisa percaya, dan menyesal karna telah meremehkan pria itu berkali-kali saat ia masih di Paris dan ketika di pesawat. Ia tidak mengenal sosok Brian sedikitpun, bahkan saat pria itu mengunjunginya dulu, ia tidak peduli dan bersikap acuh. Kini pria itu telah menjelma menjadi seseorang yang tidak sama, berbeda dari segala segi, tampan, berkarisma dan yang lebih mengesankan, ia menyukai seni.
C’mon Kyla apa yang sedang kau tunggu lagi?


Lukisan tua itu, dengan goresan cat minyak dominan kebiruan dan putih seperti cahaya seolah-olah terpancar keluar, menyenter ke segala penjuru celah yang ia lewati, seperti di dunia lain, tepatnya di atas awan, dimana perasaan menyenangkan itu berkumpul untuk merayakan kebebasan, burung-burung merpati putih itu kemudian dengan riangnya menyambut sang cahaya yang pelahan muncul dari tabir yang tersembunyi, merayakan kedatangan Pencipta yang agung di suatu dunia yang megah, sebuah surga.

Kyla begitu terpukau dengan lukisan itu, dan terkejut setengah mati karena Brian-lah yang menggambar itu semua. Brian memiliki mimpi yang sama dengannya, yang sudah lama ingin diwujudkan olehnya, menuangkan surga indah itu ke dalam gambaran lukisan, seperti yang ia lihat saat di pesawat. Surga indah itu sekarang ada di sini, di sebuah galeri seni, di mana orang yang menggambarnya telah membuktikan bahwa ia sangat berbakat dan hati Kyla sekarang terguncang, goncang-gancing oleh perasaan aneh dan setelah dipikir-pikir harus diakui ia telah jatuh cinta pada Brian.

“Bagaimana menurutmu?”
Kyla terperanjat dan berdiri dengan tegang saat Brian datang menghampiri dirinya. Ini bukan mimpi, melainkan kenyataan, pria itu tampak sangat maskulin dan berkharisma serta berbakat dalam seni. Degup jantung dengan cepat merayap, hati yang merah muda kini bersayap, membuat Kyla tidak bisa bernafas, wajahnya merah dan ia tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu boleh memilikinya jika kamu suka,” ucap Brian menatap ke dalam mata Kyla yang indah.
“Be…be..benarkah?”
“Tentu.”
Gadis itu melompat dan memeluk Brian dengan erat, membuat semua orang yang hadir di galeri itu terperangah, kemudian tersenyum, membuat wajah Kyla merah padam, sadar lalu turun dan manggut-manggut tak jelas.
“Tapi.”
“Tapi…apa?”
“Ada satu syarat jika kamu ingin memiliki lukisan itu?”
Brian mengambil sesuatu dari kantong jas hitam yang ia kenakan, kemudian memberanikan diri berlutut dan membuka sebuah kotak hitam kecil lalu disodorkan dekat Kyla yang tampak kebingungan. Sebuah cincin dengan sebutir berlian telah menunggu untuk disematkan di jari Kyla.
“Tunggu sebentar,” ucap Kyla saat hp-nya berdering.
“Nih, ayah? Bagaimana? Apakah kamu berhasil?”
“Jika tidak, kembalilah. Ayah tidak akan menyalahkan dirimu. Ayah cuma mengertakmu saja, galerimu tidak akan ayah berikan pada adikmu.”
“Ayah janji.”
“Halo..halo??”
Kyla tidak lagi mendengarkan dan menurunkan hp-nya. Kemudian menatap Brian yang masih berlutut menunggu giliran bicara. “Lanjutkan,” kata Kyla pada Brian.
“Will you marry me?”
Kyla tidak dapat menunggu lebih lama lagi, kesempatan tidak datang dua kali. Jika ia harus memilih antara Paris dengan Brian, maka jawabannya adalah Brian karna pria itu telah menaklukan dirinya, terasa sakit jika ia harus mencabut kembali panah cinta itu sekarang.
“Yes.”
Ketika Brian menyematkan cincin itu, Kyla berteriak histeris dan melanjutkan pembicaraan dengan ayahnya yang belum terputus.
“Ayah, saya akan menikah. Brian baru saja melamar saya.”
“Apa….?”
“Serahkan saja galeri itu pada adik.”
“Masa bodoh, bukan urusanku lagi.”
Kyla berharap ini bukanlah mimpi, sebab keputusannya yang begitu mendadak, mungkin akan menariknya ke dalam penyesalan kelak. Namun setelah beberapa bulan ia di Indonesia, telah membuatnya sadar dengan keinginan dirinya untuk menetap di sini, bersama Brian yang begitu memesona dan baik padanya, mungkin ia tidak akan menyesal untuk menghabiskan hari-hari itu bersamanya. Dan ia akan rela menyebutkan apa yang selama ini enggan untuk ia pikirkan.
Goodbye, Paris.


Minggu, 12 Desember 2010

Five Things make me ‘BETE’


by : Radi Chow

Pagi yang ngebosenin, cuaca panas dengan teriknya yang giat menyengat, membuat gue gerah setengah mati. Napa sih orang-orang pada tetap nyante memanggang kulit mereka?  Gue menatap ke sekeliling ruangan kelas, kosong melompong, hanya tinggal daku seorang diri,  mengumpat kesal dengan panas. Kemana semua orang?

Mereka semua pada ‘break’, menggosip dan ngoceh tak jelas di luar sana, berdesak dan bergulat ria di kantin demi sebungkus gorengan dan sebotol minuman ringan. Bukankah akan menguras banyak tenaga? Dan mengingatnya saja sudah membuatku merinding setengah mati.  Keringat yang bercucuran dengan aroma terapi bakal menyeruak, bercampur dengan udara, kemudian, nafsu makanku bakal hilang selama berminggu-minggu lamanya. Lalu dimana Pak Moon, sang penjual ice-cream pada jam segini?

“Pak Moon sedang pulang kampung, mungkin sebulan lagi ia baru akan menggelar dagangannya.” Begitulah kabar burung terakhir yang berbisik di telingaku. Sungguh hatiku sangat sedih, sakit mendengarnya, lidahku terasa keluh, air mataku hampir saja menetes tapi gak jadi, sebab kan sayang kalo terbuang sia-sia. Mengapa beliau pulang disaat yang tidak tepat, saat kota sedang dilanda krisis, kekeringan tenggorokan mendera semua orang dan gelombang panas membuat diriku tak lagi dapat berpikir jernih. Loh, kemana juga remote portable AC yang sangat langka untuk saat ini?

Untuk pertanyaan ini, agak sulit, butuh tenaga ekstra untuk menemukan jawabannya, sangat tidak etis untuk dibeberkan, memalukan walau itu bukan lagi rahasia besar. “Tunggu apa lagi? Buat penasaran saja,” ketusku.
“Ya, ya, akan saya jawab. Loh situ kok marah?”
“Gak marah kok?” ucapku sambil mendengus. (Waduh kok gue ngomong sendiri ya???)
Jawabannya tidak ada, sebab AC ini telah ada sejak sekolah ini didirikan, yakni sekitar 25 tahun yang lalu. Lantas? Tentu saja tidak ada remotenya, menurut silsilah keluarga AC, barang ini merupakan keluaran ketiga, dan tidak membawa remote saat ia datang dan masuk ke sekolah. Titik. Bukankah tanpa remote, kok gak diidupin pake tangan, atau manual gitu?

AC sekolah sudah tercatat di MURI, membanggakan sekaligus tragis. Membanggakan
karena pihak sekolah mendapat piagam MURI, tragis karena AC kita tercatat sebagai AC terbutut yang pernah ada di Indonesia, yang masih berfungsi sampai sekarang.
Lihat saja, zaman sudah modern, AC baru dengan penampilan modis dan desain keren telah berjamur dimana-mana, namun pihak sekolah dengan berpegang pada piagam MURI yang mereka dapatkan, beralasan kita harus melestarikan warisan sekolah, budaya dan sebagainya. Apaan tuh?! AC butut kok dilestarikan?! Gue melirik jam dinding, tepat di depan ruangan, dipajang dengan mereng sedikit ke kanan. Mungkin yang pasang pada mereng kali otaknya? He.he. “What?”

Jam setengah satu siang, dan aku masih tetap di kelas, menunggu setengah jam lagi untuk memulai pelajaran sejarah yang membosankan selangit. “Setengah jam?” desahku panjang.  AC yang berhembus tak mempan sedikitpun, karena takut dehidrasi, akhirnya kuputuskan untuk berkipas dengan buku pelajaran Dona Toon, teman sebangkuku.
“Dona Toon, dimana kamu berada sekarang?” bisikku.
Kita tak butuh orang pintar, dukun, paranormal, anjing pelacak ataupun sejenisnya untuk melacak dan menyium jejak yang terakhir ditinggal oleh Dona Toon. Walau ia pandai mengelak namun gue toh tetap tahu dimana ia bersembunyi sekarang?
Gadis itu dapat ditemukan di salah satu sudut sekolah, tepatnya sudut yang bangkunya tepat menghadap lapangan basket. Dan untuk orang baru yang belum mengenalnya, jangan takut, sebab kalian akan menemukan dirinya di sana, di antara kerumunan semut, dan tak ada yang lain. (Pernah dengar pepatah gak? Di mana ada gula, di situ ada semut?)

Dona Toon begitu tergila-gila dengan basket, bukan bolanya, melainkan pemainnya. Matanya selalu minta dimanja dengan cowok-cowok ganteng yang tidak jelas tingginya, lalu pernah sekali ia bilang, “ Gue sangat suka dengan cowok atletis, apalagi yang abis berkeringat, seksi banget.”
“Berkeringat itu seksi? Nih cewek pasti stress banget,” batinku.

Sedikit bocoran, dapat kurasakan kekecewaan yang mendalam pada diri Dona, sejak dirinya didiskualifikasi dari tim basket cewek beberapa bulan yang lalu. Alasannya jelas, ia melempar bola, tepat ke arah ‘vital’ pelatih basket, yang terkenal ‘killer’ plus cerewet luar biasa. Katanya pelatih itu gila, tak memberi dirinya ruang, privasi, untuk istirahat dan ngemil walau cuma  beberapa menit. Trus kesalnya lagi, ia menyuruh gadis yang lemah dan ayu seperti dirinya, dengan perut keroncongan, lari berkeliling lapangan dan push up. (Untuk referensi biro jodoh, Dona, gadis berponi lurus kayak Dora,  kulit sawo matang, mata bulat, muka bulat, pokoknya rata-rata serba bulat, berat diatas normal, 70kg, kekar, dan calon pesumo masa depan. Dan katanya ia adalah gadis lemah nan ayu. Bisa dibayangkan?! Waduh jadi ngomongin orang, tapi gpp cuma Tuhan yang tahu, he.he.)
Berita baiknya, sang pelatih tidak sampai dirawat inap, walau selama beberapa hari langkah kakinya terlihat diseret-seret, dan untuk kali ini, Dona berkilah ia tidak sengaja, kemudian memohon maaf dengan tidak tulus sambil mengumpat sumpah serapah. Namun sang pelatih yang malang, belakangan ini mulai melupakan kejadian tragis yang menimpanya, dan sedikit merubah sifat otoriternya.

Lamunanku seketika itu buyar, seorang cowok ganteng dan kelihatan putus asa, tiba-tiba masuk ke dalam kelas, diikutin oleh cewek berambut panjang. Dan mereka berdua tampak tidak asing. Dan setelah otakku berputar, akhirnya profil mereka kemudian muncul. Sang cowok bernama Fabian, pria idaman semua cewek di seantero sekolah, termasuk gue. Memiliki tinggi syarat pragawan, atletis, dengan rambut cepak dunk mirip Beckham, dan senyumannya bagai bisa yang mematikan hati semua hawa yang menghuni dunia. Beralih ke Mia, penyihir yang suka ngekorin Fabian kemana-mana, cewek genit dengan mata sipit, mulut jeber dan sok imut. Gayanya sangat centil kalo jalan, dan sering kali ia mengibas rambutnya kesana-kemari seperti iklan sampo berjalan. Cukup!! Memikirkan Mia, membuat moodku bertambah jelek, udara bertambah panas, gerah, dan keringat kembali menguyur sekujur tubuh.
“Pokoknya elu harus jelasin, buat sapa sms ini?” teriak Mia dengan nada tinggi, sambil mengarahkan hp yang ia pegang ke arah Fabian. Pria itu hanya diam, tak berkata apa-apa, terlihat sangat pasrah. Gadis itu terus menuntut penjelasan, dan Fabian seperti tidak menghiraukan.
“Halo,” tegurku pada mereka, tak ada respon sedikitpun, membuat adrenalin darahku mendidih yang siap untuk mengunyam mereka berdua.
“Klu you pada ingin maen sinetron jangan di sini, tuh masuk tv, ato kalo gak di jalan tuh,” ketusku kesal.
“Bukan urusanmu,” balas mereka bersamaan.
Bukan urusanku kata mereka? Bagus, kini mereka telah memancing hiu di air keruh, membuat suasana hatiku panas, mendidih luar dalam, dan tanpa pikir panjang lebar, kuraih tas yang terletak di samping tempat dudukku, lalu kulempar.  Tas itu melesat cepat, melewati beberapa meja, namun tampaknya mereka cerdik, lalu menghindar, mundur ke belakang. Alhasil, tas itu mengenai papan tulis, dan mendarat dengan sempurna di lantai.
“Dasar gila,” ucap mereka, kembali bersamaan dan melanjutkan pertengkaran. Tapi sebelum kukorbankan tas yang tergeletak di belakang mejaku, tiba-tiba terdengar pernyataan yang mencekat suaraku. Rasanya bumi terbalik 360 derajat, gempa dahsyat mengutak-atik kepalaku dan nafasku seperti terhenti untuk beberapa saat. 
“Gue mencintai Dona. Dan sekarang kamu puas?” Mia terbelalak, ia seakan tak percaya dengan ucapan Fabian barusan. Dan sepertinya Mia merasakan apa yang kurasakan barusan.
“Plaak.”
“Kita putus.”
Kejadiannya begitu cepat, dan untung saja sempat terekam di memori otakku. Mungkinkah telingaku rusak? Atau komponen di isi kepalaku mulai karatan, sudah tak muat, terasa berita yang masuk, terdengar samar dan kurang jelas.
Mia telah berhambur keluar, kini tinggal Fabian yang berdiri sambil mengelus pipinya yang kepanasan karena tamparan barusan. Pandangannya mengarah padaku, dan ia berucap….
“Tolong bilangin Dona, gue cinta sama dia.”
Padahal tidak mendung dan hujan, tapi mengapa gue seperti mendengar ada sambaran geledek yang lewat?

Bel berbunyi, waktu setengah jam seperti begitu cepat berlalu. Dan Dona mulai merepet panjang lebar, karena tasnya tiba-tiba sudah ada di depan kelas. Gue hanya diam, dan memberikan alasan singkat, tanpa mengungkit masalah Fabian. Ia menganguk, dan memukul-mukul noda putih kapur yang menempel di tasnya. Kemudian menjejalkan tangan ke dalam tas, mengais isinya. Wajahnya kembali merona setelah membaca isi sms yang tertera di hpnya.
“Sial, gue lupa tadi Mia ada bilang soal sms,” batinku kesal.
Kesimpulannya, hari ini benar-benar apess bangett. Pertama, karena panas sedang ngambek, dan dampaknya menuai seember keringat gue. Kedua, Pak Moon tidak jualan, beliau memilih pulang kampung ketimbang menyogok kerongkongan gue yang kering karena kemarau yang panjang. Ketiga, pihak sekolah tidak menguburkan AC butut yang menjadi kebanggaan sekolah. Keempat, gue gak diopenin sedikitpun oleh Fabian dan Mia, menganggap gue ini patung usang tak bernyawa. Dan kelima adalah penyebab utama mengapa gue bete banget hari ini? Jelas gue ‘jealous’ banget dengan Dona Toon, ternyata ia beneran jadian dengan Fabian, alasannya sepele, cowok itu salut dengan keberanian Dona yang telah memberikan pelajaran berharga buat pelatih basket, yang notabene sangat dibenci oleh anggota tim basket cowok. Alhasil, Dona sekarang menjadi primadona alias bunga kembang sekolah, semua cowok pada berebut mengerumuni dirinya. (Jadi teringat pepatah, ada bunga ada kumbang. Duh!!!)
Jadi lengkap sudah penderitaan gue, namun walaupun berat tapi gue sudah ikhlas kok sekarang. Buat Dona, gue sangat senang karena ia sudah mendapat pacar yang ganteng, dan akhir kata gue ucapin semoga bahagia. (Tuhan, bolehkan gue meralat ucapanku yang ngawur tentang profil Dona. Gue gak mau kena karma karenanya. Peace!!!)
      


Arigato, Sakura-san


by : Radi Chow

“Apakah kalian sudah dengar gossip baru hari ini?” begitulah yang terdengar oleh Mike ketika ia menempelkan bokongnya di tempat duduk yang telah dibagi semalam oleh wali kelas mereka. Ia tidak peduli sedikitpun dengan berita itu. Kemudian menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangannya. Sekilas tampak ia tidak menyimak namun telinganya masih menangkap samar berita bahwa akan ada pertukaran pelajar asing hari ini. Sekarang ia acuh dan tak mengubris perkataan orang-orang disekitarnya lagi.  
Derap kaki menderu, berserakan masuk ke dalam kelas. Murid yang lain duduk menempati kursi mereka.
“Silent, please.”
Suasana sejenak hening ketika Miss Silent, sang wali kelas muncul dan kemudian berdiri tepat di tengah papan tulis. Namun ia tidaklah sendiri. Seseorang mengekori beliau dari belakang. Mike mengangkat kepalanya, melewati pagar bahu murid yang duduk di depannya. Ia sedikit tertarik. Apa yang membuat teman sekelasnya menelan suara mereka sendiri?
Mike tertegun. Di depan matanya telah berdiri sesosok gadis cantik dengan rambut hitam kecoklatan. Poni rambutnya yang lurus dan lembut membelah setengah dahinya. Wajahnya yang bulat dengan lesung pipi yang berisi bergantung bersampingan dengan senyumannya yang merekah. Kulitnya putih mulus bak pualam. Memantulkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Mungkin hanya khayalan Mike. Bibirnya yang terlipat dengan senyuman yang menyerupai bulan sabit membuat semua orang tak berhenti berdecak kagum. Dan bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang berdiri di depan kelas?
“Ayo, jangan takut. Kamu dapat memperkenalkan dirimu sekarang,” pinta Miss Silent pada gadis itu.
“Hai, Watashi wa Sakura-san desu,” ucap gadis itu dengan gugup, namun masih menyimpan tatapan ramah terhadap semua yang duduk di hadapannya sekarang.
Miss Silent meneruskan lanjutan ceritanya. Rupanya gadis yang bernama Sakura adalah petukaran pelajar yang berasal dari negeri matahari terbit, Jepang. Namun tidak seperti kebanyakan orang jepang dengan mata sipitnya, ia tampak berbeda.  Matanya begitu indah, coklat, bulat dan bening. Ada lagi, sakura adalah blasteran indo-jepun. Ayahnya adalah seorang duta besar, yang fallin luv dengan perempuan Indo, saat ia berdinas di Jakarta. Trus kemudian ayahnya membawa keluarganya untuk tinggal di Jepang. Walau Sakura tidak pandai ngomong bahasa Indonesia namun ia mengerti apa yang teman-temannya ucapkan karena ibunya sering berbicara dengan bahasa Indonesia kepadanya.
“Kamu dapat duduk di sebelah Mike,” tambah Miss Silent dengan telunjuk  mengarah  ke arah Mike yang duduk di barisan kelima dari depan. Dan gadis itu mengangguk dan melangkah maju ke kursi kosong yang yang telah ditunjuk oleh Miss Silent. Lalu duduk seraya tersenyum ke arah Mike yang terlihat acuh.
P.S : Oh ya, mungkin temen-temen pada bengong, siapa Miss Silent sebenarnya? Hm.., beliau adalah wali kelas Mike, tadi sudah dibahas di atas. Dipanggil Miss Silent sebab tiap hari tanpa pandang bulu, jika beliau melihat ada kebisikan maka ia akan segera berucap “Silent, please,” segitu aja.
----//----
Mike terlihat berantakan, dekil, dengan rambut yang acak-acakan. Pakaiannya kusut, wajahnya seperti hanya dibilas air secukupnya sewaktu hendak kemari. Dan ia tidak ingat apakah ia telah gosok gigi atau belum. Ia seharusnya malu sekali. Terutama dengan penampilannya sekarang.
Malu? Mengapa juga ia harus malu dan minder? Itu bukanlah sifatnya. Biasanya ia acuh saja dipanggil pengemis atau gelandangan. Walaupun ia anak konglomerat. Namun kesehariannya ia tidak peduli sedikitpun mengenai penampilan, style rambut ataupun semacamnya. Ia merasa bebas memilih. Dan tak seorangpun yang bisa mengaturnya.
Bel istirahat berbunyi dan murid-murid kembali berdesakan. Seperti burung yang diberi kebebasan untuk sesaat. Mereka berhamburan dari seluruh kelas. Ada yang langsung menuju kantin. Adapula yang cuma duduk dan hang out di taman dan koridor sekolah. Namun Sakura hanya duduk tak berkutik. Jujur saja ia sebenarnya belum memahami sistem dan situasi belajar di Indonesia.
Mike tidak menghiraukan Sakura sejak tadi. Ia langsung beranjak keluar bersama yang lain. Membuat Sakura hampir menangis. Namun ia tahan sebisa mungkin. Ia hanya harus mencoba bersabar, membaur dan beradaptasi dengan lingkungan yang asing baginya.
“Ini untukmu,” kata Mike ketika meyodorkan sebungkus roti dan sebotol air mineral ke hadapan Sakura.
“Arigato gozaimasu,” sahutnya sembari menyapu air mata dengan punggung tangannya yang lembut.
“Sumimasen,” tambah Mike dengan menundukan kepalanya. Seperti kebiasaan orang Jepang pada umumnya. Membuat Sakura merasa geli dan menyungingkan kembali senyumannya.
----//----
Enam bulan berlalu sejak Sakura kembali ke Jepang. Dan kelas kembali pada keadaannya semula. Tidak ada yang berubah sedikitpun di sini. Mereka masih murid yang sama. Duduk di bangku yang sama. Dan mengenyam buku pelajaran yang sama, walau sebagian sudah kumal dan tercoret-coret sana sini. Namun itu masih buku yang sama yang akan mereka pakai sampai akhir semester, hingga waktu meluluskan mereka dari bangku sekolah.
Walau semua tampak sama, namun seseorang ditemukan telah berubah total. Mike telah menemukan sesuatu. Inspirasi bagi kaum cendekiawan. Namun ia menganggapnya sebagai berkah dan motivasi yang mendidihkan darahnya. Semangat empat lima yang menggelora di sekujur tubuhnya. Ia mendapatkan kembali kepingan jiwanya yang melayang di dunia lain. Dan semua itu berkat Sakura. Gadis manis itu telah merubahnya mati-matian. Tidak ada lagi tingkat kemiringan, yang ada hanyalah pengembalian putaran otaknya yang telah mencapai 360 derajat. Dan mungkin para psikolog akan terheran-heran dan bertekuk lutut menyembah Sakura karena telah menyembuhkan semua penyakit Mike yang ganjil.
Murid dan para guru telah mengenal Mike sejak ia masih ngompol di bangku Sekolah Dasar. Sikapnya yang hiperaktif, acuh, suka berantem plus main hakim sendiri, malas, langganan tidur di kelas, kumal, dekil, ditambah dua atau tiga lusin buku dosa yang telah menumpuk di kantor kepala sekolah. Membuatnya menjadi satu-satunya murid yang mendapat penghargaan sebagai murid terfavorit untuk kategori pemanggilan orang tua. Dan besar harapan ia akan diselamatkan, didoakan dan segera ditamatkan dari SMU sesegera mungkin. Agar sekolah dapat menutup dan menambal malu yang selama ini menggerogoti. Terbukti Mike selalu naik kelas walaupun rapornya berdarah semua. Anehnya lagi tidak ada satupun keluhan yang keluar dari guru maupun orang tua murid.
Sepulangnya Sakura ke negeri matahari terbit akhirnya menambah polemik dan spekulasi bahwa Mike akan kembali ke wujudnya semula. Namun semua itu tidaklah terbukti sama sekali. Entah janji apa yang telah diberikan Sakura kepadanya, hingga ia dapat berubah seratus persen. Ia tidak lagi culas. Ia tidak lagi ngorok di kelas. Ia tidak lagi malas. Ia tidak lagi dan tidak lagi mengisi buku dosa. Penampilannya, perubahan sikapnya yang kontras telah memukau orang-orang yang melihatnya.
---//---
Pengumuman kelulusan telah digelar di dinding sekolah. Dan menurut kabar yang tersiar seminggu lagi akan diadakan pesta dansa untuk melepas kelulusan mereka. Mike yang tidak diunggulkan dan diremehkan kerajinannya telah menohok dan mencekat tenggorokan semua orang. Ia mendapat ranking sepuluh besar dan nilai kelulusannya ternyata tak disangka-sangka. Di atas rata-rata. Sekaligus memuaskan. Tahun-tahun yang berat baginya telah berlalu. Dan hati kecilnya bersyukur sebab Tuhan sudah berbaik hati mempertemukan dirinya dengan Sakura.
Acarapun berlangsung meriah. Semua murid berkumpul di aula sekolah sambil bersendau gurau. Kesempatan yang begitu indah. Mengingat dan mengenang masa-masa sekolah adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka semua. Tangisan dan kebahagiaan silih berganti menyeruak di antara kerumunan.
Dan puncak acara yang ditunggu akhirnya memenuhi klimaksnya. Pesta dansa itu pun digelar. Murid-murid berhamburan ke tengah aula. Hanya tampak Mike yang berdiri lesu. Menyandar pada dinding di pojok ruangan. Tiba-tiba lampu padam. Namun tidak terdengar keriuhan di telinga Mike. Lampu sorot kemudian hidup menyinari seseorang yang telah berdiri di tengah aula. Dan murid-murid yang lain bergegas mundur beberapa langkah. Berusaha untuk tidak menghalangi pandangan Mike pada orang itu. Gadis itu memakai gaun putih yang tergerai di bawah lutut, dengan sepatu hak tinggi berkilau keemasan. Memperlihatkan keanggunan yang membuat semua pria tidak rela untuk mengedipkan mata.
“Sakura,” bisik Mike dalam hati. Kemudian ia berjalan mendekati cahaya itu, untuk memastikan keburaman matanya. Gadis itu melempar senyum yang begitu menghenyakan, membuat Mike semakin yakin dengan tebakannya. Segera saja Mike mengulurkan telapak tangannya. Lalu gadis itu segera menyambutnya hingga tubuhnya terlempar dalam pelukan Mike. Musik segera diputar dan akhirnya memaksa sepasang kaki mereka untuk ikut berdansa. Dan murid yang lain juga ikut terhanyut dalam alunan musik slow and melow abis.
“Sakura, bagaimana kamu bisa datang ke sini,” tanya Mike tanpa basa-basi.
“Hanya untuk memenuhi janjiku padamu,” ucapnya seraya membisikannya di telinga Mike.
“Janji?”
“Ya, aku akan melamarmu menjadi pacarku.”
“Hah?”
Ucapan terakhir Sakura membuat hati Mike hampir kepelanting. Senang, bahagia sekaligus malu dan tak dapat berkata apa-apa. Dan ketika musik akhirnya berhenti. Mike berguman sambil menatap ke dalam mata Sakura yang coklat bening.
“Arigato, Sakura-san.”