by : Radi Chow
Hawa dingin itu begitu menakutkan, terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Membuat darah yang tadinya mendidih, kemudian menjadi hangat dan kini membeku. Setiap hembusan nafas membentuk uap panas yang kemudian hilang, lenyap dalam sekali terpaan angin. Berkali-kali kulakukan dan sangat menyesakkan ketika hawa dingin itu mengalahkan kondisi tubuhku yang mulai melemah. Terasa udara itu begitu menyakitkan ketika kuhirup dan kulepaskan dari paru-paruku. Sarung tangan berbulu tebal itu tidak sanggup lagi untuk menjaga tanganku agar tetap hangat, juga syal warna-warni itu, membeku kaku, tak bergeming, semua pakaian yang kukenakan seperti mengucap kalah pada hawa dingin ini. “Aku akan mati,” ucapku dengan nada bergetar dan gemeretuk gigiku semakin membising bersama tiupan angin yang semakin kencang. Aku akan mati, batinku. “Semua karena kebodohanku dan aku akan mati,” ucapku separuh dan kemudian kepalaku terhuyung, terasa berat, tubuhku jatuh dan merebah ke belakang, di atas gundukan meteran kubik salju yang walaupun terasa lembut, namun itu sekarang mematikan. “Aku akan mati,” terdengar bisikan yang seperti ucapan terakhir dariku sebelum hawa dingin itu merenggut kesadaranku.
Dunia berkabut, atau ini hanya perasaanku saja. Kabut putih itu berbau teh hijau yang menyerebak di sekitarku. Aku dapat mencium aroma teh yang tajam, namun hangat dan itu membuatku menelan ludah. Aku tidak melihat seorangpun di sana, jauh dari pandangan mataku hanya mendapatkan kabut putih yang semakin tebal. “Dunia apakah ini?” batinku. Pelahan rasa hangat seperti mengalir melewati setiap lekukan tubuhku, rasa gigil itu segera berganti menjadi kenyamanan yang luar biasa, seperti membawa ragaku keluar dari siksaaan rasa dingin yang amat sangat mengerikan.
“Tidak!!! Aku tidak mungkin mati. Bukan ini tujuanku, lari dari rumah dan menghindari segala persoalan sialan ini. Lebih baik mengikuti perjodohan orang tua yang bisa kutolak jika tidak mau, daripada memilih tersasar, kemudian terdampar di gunung bersalju yang tebal dan mati.”
Aku melangkah dengan tergesa menelusuri kabut yang beraroma teh, tidak ada jalan untuk keluar dari kepungan kabut. Begitu frustasinya hingga air mataku jatuh membuncah tak terkendali. “Aku harus pulang,” teriakku berkali-kali untuk meyakinkan ada orang yang akan mendengarnya. Namun suaraku hanya berputar di sekeliling. Tubuhku jatuh rubuh ke tanah yang kering dan hangat, aku merasa sangat lelah dan mataku tiba-tiba begitu beratnya, kemudian rasa kantuk itu seperti membawaku ke dunia lain.
Aku terbangun dan mendapatkan diriku berbaring di dekat perapian. “Perapian,” pikirku sengit. Kemudian tanpa menunggu lama aku segera mencubit pipiku dan merasakan rasa sakit menjalar di sana. Jika ini bukan mimpi, aku benar-benar mendekati kematian dan berhalusinasi tanpa arah mungkin penjelasan yang tepat untuk orang yang sedang sekarat. Aku menarik nafas dalam-dalam, aroma teh kembali menyengat hidungku, aku terkejut ketika menyadari tubuhku sekarang hanya berbalut selimut tebal yang nyaman. Kuangkat tubuhku berdiri dengan susah payah, pergelangan tanganku terasa kebas, tungkai kakiku terasa lemas, berdenyut ketika hendak menahan beban tubuhku. “Aku masih hidup,” batinku.
“Kamu sudah bangun?”
Seseorang muncul tiba-tiba, kemudian berdiri di hadapanku dengan tangan di masukan ke dalam saku celana. Wajahnya terlihat santai dan ia tersenyum ke arahku. Aku terkejut, wajahku merona seketika, kemudian rasa panik mulai menghantui diriku. Dengan tangan mencengkram erat selimut tebal yang membungkus tubuhku lalu pandanganku melihat ke sekeliling mencari pakaianku.
“Kemana pakaianku?”
Ia tidak menjawab kemudian berbalik. Aku berusaha untuk melangkah dengan pelan dan menyesal ketika selimut itu terinjak kakiku yang kaku. Badanku terhempas ke depan, aku berteriak pelan dan memejamkan mata. Tidak terjadi apa-apa, sesuatu memegang erat kedua bahuku. Ketika badanku didorong pelan dan ditegakkan, wajah pria itu terasa begitu dekat dengan wajahku, kedua matanya tidak melihat ke arahku melainkan kaget, pandangannya turun ke bawah dan kemudian menatap ke dalam mataku, berulang kali.
“Ahhh, dasar mesum!!!!”
“Plakkk.”
Tanganku melayang ke wajahnya kemudian aku buru-buru meraih selimut yang jatuh teronggok di lantai yang dingin. Menariknya untuk membalut tubuhku yang tidak mengenakan apapun alias terlanjang.
“Telanjang.” Pikirku.
“Ahhhh…….”
Mataku membelalak dan menatap garang, namun pria itu tidak lagi berada di sana. Ia lenyap begitu saja. Meninggalkan rasa malu dan wajah merona yang tidak terbantah.
“Ada yang bisa saya bantu, nona?”
“Hah…?”
Aku duduk di kursi meja makan berbentuk persegi yang ada di ruang dapur, mengenakan daster yang kepanjangan, menyesap teh hijau hangat yang sudah kuidamkan, yang sejak tadi membuat tenggorokanku frustasi karena kering kerontang. Cairan itu perlahan mengisi seluruh tubuhku, membawa kehangatan yang sangat kubutuhkan sekarang. Setelah keadaan menjadi tenang, mungkin akibat teh hijau yang sedang kuminum, perlahan aku memasang telinga, mataku menatap wanita paruh baya memakai celemek bermotif bunga yang duduk di hadapanku, sedang menjelaskan apa yang sedang terjadi padaku, semuanya.
Pria itu adalah penyelamatku, begitulah yang bisa kutangkap dari pembicaraan yang panjang dengan wanita paruh baya itu. Ceritanya sewaktu pria itu hendak kembali ke rumah kabin yang ia tempati sehabis mencari kayu bakar, tanpa sengaja ia menemukan diriku sudah pingsan dan tidak sadarkan diri. Buru-buru pria itu meninggalkan seluruh kayu bakar itu, memapahku menyusuri jalanan bersalju dan membawaku ke rumah kabinnya. Lalu ia meminta wanita paruh baya itu melepas semua pakaianku yang basah, menyelimutiku dengan selimut dan setelahnya ia dan wanita itu mengangkatku dekat ke perapian. Wanita itu berani bersumpah jika pria itu tidak melakukan apa-apa terhadapku, dan aku harus percaya padanya.
Aku meringis saat mendengar pria itu telah membakar beberapa perabot kayu yang mengisi rumah kabin ini hanya karena ia tidak dapat kembali mengambil kayu bakar yang ia tinggalkan sewaktu ia menyelamatkan hidupku. Badai salju yang semakin lebat membuatnya rela untuk mengorbankan perabot kesayangannya dan dibutuhkan lebih ekstra untuk mencairkan dan menghangatkan tubuhku yang beku.
Jika semua itu benar maka aku adalah salah satu orang yang paling tidak tahu diri, tidak tahu malu dan tidak berperasaan karena telah menampar pria itu. Logikanya adalah bahwa selimut itu terjatuh karena diriku yang tidak sengaja melakukannya sedangkan pria itu mau tidak mau menangkapku agar tubuhku tidak hancur berkeping di lantai. Bagaimana semua ini dapat menjadi alasan untuk menyalahkan pria itu, setelah begitu banyak yang telah ia lakukan untukku.
Untuk masalah permintaan maaf akan kupikirkan nanti, sekarang yang harus kulakukan adalah mengisi perutku yang keroncongan dengan sepiring sandwich dan secangkir teh hijau hangat. Namun setelah hampir semua makanan yang disajikan wanita itu telah kulahap dan kuhabisi, pria itu belum juga muncul. Aku berjalan dengan tenaga baru yang baru terisi ke ruang tamu yang ada perapian karena di sana terasa sangat hangat, menarik selimut dan berbaring di atas karpet coklat yang baru ditebarkan di sana. Kemudian daripada kepalaku pusing memikirkan ini-itu dan malam badai bersalju akan semakin lebat, kuputuskan untuk merajut mimpi-mimpi indahku selanjutnya.
Suara burung berkicau dan gemerisik ranting pohon yang beradu dengan angin membuat tumpukan salju yang bertengger jatuh ke tanah. Suara gedebuk semakin riuh dalam telingaku membuatku terjaga dan bangkit. Kemudian berlari kecil ke arah jendela, menatap keluar. Langit sudah cerah dan hujan salju ternyata sudah berhenti. Walau matahari masih tampak buram dan tertutup kabut putih yang sedikit tebal namun beberapa hari ke depan mungkin cuaca akan semakin baik dan seminggu lagi mungkin tumpukan salju ini akan meleleh dan musim semi akan dimulai.
Aku tidak melihat siapapun di rumah kabin, wanita itu telah membuat masakan untukku di meja dapur dan pakaianku yang sudah kering ia letakkan di atas dudukan kayu tinggi yang ada dekat dinding. Secarik kertas terselip di bawah piring, kutarik pelan lalu kubaca dengan pelan.
“Aku telah memberitahu kantor polisi terdekat dan mengatakan kepada mereka bahwa kamu selamat. Mungkin siang ini mereka akan datang menjemputmu. Tunggulah di sini dan jangan kemana-mana. Toru.”
Pesan yang begitu singkat dan tanpa basa-basi. Aku merasa bersalah karena belum meminta maaf dan berterima kasih pada pria itu. Mungkin sebelum pulang nanti, aku akan menemuinya.
“Beliau sudah kembali ke kota, dan berpesan kepada saya untuk menjagamu hingga keluargamu menjemputmu.”
“Kemana ia pergi? Bisakah anda memberi alamatnya karena saya harus segera meminta maaf dan berterima kasih padanya.”
“Tentu saja.”
Wanita itu mencari secarik kertas dan menulis alamat pria itu di sana.
“Toru Ishida, Osaka, Kitahama Street Blok 9 No. 25.”
Sambil menunggu keluargaku datang menjemput, diriku membuat boneka dari tumpukan salju yang kubuat kecil-kecil. Ada satu yang kubuat hampir menyerupai wajah pria yang bernama Toru itu. Kedua matanya kupasang dengan menggunakan kancing lengan bajuku, hidungnya dengan ranting kecil yang telah kupatahkan menyerupai hidung Pinokio dan senyuman bibir berbentuk sabit dari saus cabe yang kutemukan di dapur. Membayangkan wajah pria itu membuat jantungku berdegup kencang. Apa yang sedang kupikirkan?
Siang itu keluargaku menjemputku, ayah dan ibuku tidak bersuara dan tidak mengatakan apa-apa bahkan tidak memarahi aku seperti biasanya. Mereka hanya diam di dalam mobil saat aku mengatakan maaf, berulang kali. Mungkin shock karena hampir kehilangan anak kesayangan mereka, jadinya tidak mengungkit masalah perjodohan lagi. Aku merasa bersalah, jika saja aku menerima perjodohan ini dari awal mungkin semua ini tidak bakal terjadi.
Mobil berjalan lambat dan pelan, anehnya tidak mengarah ke arah rumah. Tapi menuju ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi. Aku hanya diam dan menurut saja, kemudian kami sampai ke suatu tempat, sejenak mataku terbelalak melihat palang hijau yang bertuliskan nama jalan yang sedang kami lewati. “Begitu kebetulan.” Pikirku.
Aku dan kedua orang tuaku disambut oleh sepasang suami istri yang usianya tidak jauh beda dengan kedua orang tuaku.
“Apakah ini Sayaka? Aduh ia sudah tumbuh begitu besar dan wajahnya sangat cantik. Seperti ibunya.”
“Apa kabar, Paman, Bibi.” ucapku seraya menatap sepasang suami istri itu. Ibuku berbisik bahwa mereka adalah teman kedua orangtuaku sewaktu sekolah. Ibu juga bilang jika merekalah yang merencanakan perjodohan ini dan berencana melanjutkan perjodohan ini ke arah pertunangan setelah kami sudah cukup umur. Mungkin itulah alasannya kenapa ibu melarangku untuk berpacaran selama ini.
“Mari masuk.”
“Ya, terima kasih.”
“Ishida kamu memang tidak berubah ya. Masih suka melukis rupanya.”
“Ah, itu hanya sekadar iseng saja.”
“Ishida? Apakah nama keluarga mereka Ishida? Mungkin yang ini juga kebetulan.” batinku.
“Di mana putra kalian?” tanya ayahku.
“Saya akan memanggilnya, tunggu sebentar.” Istri pria itu berjalan ke belakang,
“Kamu tidak akan mengenalinya lagi. Ia tumbuh begitu besar dan wajahnya tentu saja mirip denganku sewaktu muda.” kata paman Ishida terbahak-bahak.
“Betulkah itu?”
Hanya beberapa menit dan wanita itu sudah membawa putra mereka ke hadapan kami. Saat itu aku sedang melirik lukisan yang dibuat paman Ishida dan tidak memperhatikan.
“Perkenalkan ini Toru.”
“Hah, sudah sebesar ini.”
Pandanganku seketika beralih ke arah pemuda yang bernama Toru itu, memastikan apakah indera pendengaranku bermasalah. Ternyata ia memang sang penyelamatku. Hari ini aku dapat melihatnya dengan jelas. Wajahnya sangat tampan dan lesung pipi itu begitu menawan saat ia tersenyum. Tidak, kali ini aku akan memastikan jika semua ini bukanlah mimpi, lantas aku menginjak sebelah kakiku, rasa denyut itu memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Semua adalah kenyataan dan mengapa begitu banyak kebetulan di sini. Aku butuh penjelasan.
“Sayaka, beri salam cepat!!”
“I…iya, hai….”
Tingkahku terlihat aneh dan aku sangat malu karenanya. Pria itu hanya tersenyum membuat jantungku berdetak sangat cepat dan wajahku merona padam. Suaraku seperti tercekat dan begitu minuman dingin itu disajikan oleh wanita paruh baya yang merawatku di rumah kabin. Aku segera meneguknya dengan rakus hingga isinya kosong, begitu mereka melihatku sontak mereka kaget setengah mati, lalu tertawa sedangkan kedua orang tuaku hanya mengangguk malu. Pendekatan kami dimulai sejak saat itu, dan seperti mendapatkan kesempatan kedua maka aku telah bertekad untuk mempertahankan cinta pertamaku, sang penyelamatku, Toru Ishida.
Liburan musim dingin setahun kemudian pun tiba, Ishida mengajakku berlibur ke rumah kabin, dan tidak mengizinkan wanita yang merawatku untuk ikut. Entah mengapa kedua orang tua Toru juga tidak berkomentar, begitu bersemangat ketika kami memberitahukan
rencana ini pada mereka. Tidak ada yang mesti kutakutkan jika Toru ada bersamaku, kebahagiaanku adalah bersamanya dan liburan ini, hanya berdua saja, tak akan kulewatkan.
Langit begitu cerah dan tidak ada badai salju dalam bulan ini. Salju yang turun hanya sepertiga dari salju tahun kemarin dan itu memberi kami banyak kesempatan untuk bermain di luar. Ketika Ishida mencari kayu bakar, aku terpaksa iseng membuat boneka salju yang sedikit lumayan besar, menncoba membuat duplikat boneka salju Toru yang masih kuingat tahun lalu. Bukan hanya satu melainkan dua buah boneka salju, aku dan Toru. Aku menambahkan sepasang ranting panjang untuk masing-masing boneka dan meletakkan topi merah jambuku untuk menunjukkan salah satunya adalah diriku. Kukaitkan ranting itu seperti sedang bergandengan dan kini semua tampak sempurna, perfecto.
Ketika hendak berbalik aku bertubrukan dengan Toru yang sedang memegang kayu bakar. Tubuhku seperti hendak limbung ke belakang, Toru segera melepas kayu bakar itu dan menarikku sebelum diriku menimpa boneka salju. Adegan selanjutnya seperti di film-film, waktu seperti menjadi slow motion dan perlahan tangannya yang hangat telah menyentuh tengkuk belakangku, sebelah tangannya lagi menarik pelan tanganku, tatapan Toru begitu lekat dan dengan mata kupejamkan, pelahan ia menciumku. “Ciuman pertamaku.” Dunia seperti terbalik dan entah hanya perasaan atau halusinasi, ketika kami hendak berbalik dan menutup pintu, dari balik jendela aku melihat sepasang boneka salju saling tersenyum dan kemudian mengulang adegan yang baru aku dan Toru lakukan. It’s amazing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar