Minggu, 12 Desember 2010

Arigato, Sakura-san


by : Radi Chow

“Apakah kalian sudah dengar gossip baru hari ini?” begitulah yang terdengar oleh Mike ketika ia menempelkan bokongnya di tempat duduk yang telah dibagi semalam oleh wali kelas mereka. Ia tidak peduli sedikitpun dengan berita itu. Kemudian menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangannya. Sekilas tampak ia tidak menyimak namun telinganya masih menangkap samar berita bahwa akan ada pertukaran pelajar asing hari ini. Sekarang ia acuh dan tak mengubris perkataan orang-orang disekitarnya lagi.  
Derap kaki menderu, berserakan masuk ke dalam kelas. Murid yang lain duduk menempati kursi mereka.
“Silent, please.”
Suasana sejenak hening ketika Miss Silent, sang wali kelas muncul dan kemudian berdiri tepat di tengah papan tulis. Namun ia tidaklah sendiri. Seseorang mengekori beliau dari belakang. Mike mengangkat kepalanya, melewati pagar bahu murid yang duduk di depannya. Ia sedikit tertarik. Apa yang membuat teman sekelasnya menelan suara mereka sendiri?
Mike tertegun. Di depan matanya telah berdiri sesosok gadis cantik dengan rambut hitam kecoklatan. Poni rambutnya yang lurus dan lembut membelah setengah dahinya. Wajahnya yang bulat dengan lesung pipi yang berisi bergantung bersampingan dengan senyumannya yang merekah. Kulitnya putih mulus bak pualam. Memantulkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Mungkin hanya khayalan Mike. Bibirnya yang terlipat dengan senyuman yang menyerupai bulan sabit membuat semua orang tak berhenti berdecak kagum. Dan bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang berdiri di depan kelas?
“Ayo, jangan takut. Kamu dapat memperkenalkan dirimu sekarang,” pinta Miss Silent pada gadis itu.
“Hai, Watashi wa Sakura-san desu,” ucap gadis itu dengan gugup, namun masih menyimpan tatapan ramah terhadap semua yang duduk di hadapannya sekarang.
Miss Silent meneruskan lanjutan ceritanya. Rupanya gadis yang bernama Sakura adalah petukaran pelajar yang berasal dari negeri matahari terbit, Jepang. Namun tidak seperti kebanyakan orang jepang dengan mata sipitnya, ia tampak berbeda.  Matanya begitu indah, coklat, bulat dan bening. Ada lagi, sakura adalah blasteran indo-jepun. Ayahnya adalah seorang duta besar, yang fallin luv dengan perempuan Indo, saat ia berdinas di Jakarta. Trus kemudian ayahnya membawa keluarganya untuk tinggal di Jepang. Walau Sakura tidak pandai ngomong bahasa Indonesia namun ia mengerti apa yang teman-temannya ucapkan karena ibunya sering berbicara dengan bahasa Indonesia kepadanya.
“Kamu dapat duduk di sebelah Mike,” tambah Miss Silent dengan telunjuk  mengarah  ke arah Mike yang duduk di barisan kelima dari depan. Dan gadis itu mengangguk dan melangkah maju ke kursi kosong yang yang telah ditunjuk oleh Miss Silent. Lalu duduk seraya tersenyum ke arah Mike yang terlihat acuh.
P.S : Oh ya, mungkin temen-temen pada bengong, siapa Miss Silent sebenarnya? Hm.., beliau adalah wali kelas Mike, tadi sudah dibahas di atas. Dipanggil Miss Silent sebab tiap hari tanpa pandang bulu, jika beliau melihat ada kebisikan maka ia akan segera berucap “Silent, please,” segitu aja.
----//----
Mike terlihat berantakan, dekil, dengan rambut yang acak-acakan. Pakaiannya kusut, wajahnya seperti hanya dibilas air secukupnya sewaktu hendak kemari. Dan ia tidak ingat apakah ia telah gosok gigi atau belum. Ia seharusnya malu sekali. Terutama dengan penampilannya sekarang.
Malu? Mengapa juga ia harus malu dan minder? Itu bukanlah sifatnya. Biasanya ia acuh saja dipanggil pengemis atau gelandangan. Walaupun ia anak konglomerat. Namun kesehariannya ia tidak peduli sedikitpun mengenai penampilan, style rambut ataupun semacamnya. Ia merasa bebas memilih. Dan tak seorangpun yang bisa mengaturnya.
Bel istirahat berbunyi dan murid-murid kembali berdesakan. Seperti burung yang diberi kebebasan untuk sesaat. Mereka berhamburan dari seluruh kelas. Ada yang langsung menuju kantin. Adapula yang cuma duduk dan hang out di taman dan koridor sekolah. Namun Sakura hanya duduk tak berkutik. Jujur saja ia sebenarnya belum memahami sistem dan situasi belajar di Indonesia.
Mike tidak menghiraukan Sakura sejak tadi. Ia langsung beranjak keluar bersama yang lain. Membuat Sakura hampir menangis. Namun ia tahan sebisa mungkin. Ia hanya harus mencoba bersabar, membaur dan beradaptasi dengan lingkungan yang asing baginya.
“Ini untukmu,” kata Mike ketika meyodorkan sebungkus roti dan sebotol air mineral ke hadapan Sakura.
“Arigato gozaimasu,” sahutnya sembari menyapu air mata dengan punggung tangannya yang lembut.
“Sumimasen,” tambah Mike dengan menundukan kepalanya. Seperti kebiasaan orang Jepang pada umumnya. Membuat Sakura merasa geli dan menyungingkan kembali senyumannya.
----//----
Enam bulan berlalu sejak Sakura kembali ke Jepang. Dan kelas kembali pada keadaannya semula. Tidak ada yang berubah sedikitpun di sini. Mereka masih murid yang sama. Duduk di bangku yang sama. Dan mengenyam buku pelajaran yang sama, walau sebagian sudah kumal dan tercoret-coret sana sini. Namun itu masih buku yang sama yang akan mereka pakai sampai akhir semester, hingga waktu meluluskan mereka dari bangku sekolah.
Walau semua tampak sama, namun seseorang ditemukan telah berubah total. Mike telah menemukan sesuatu. Inspirasi bagi kaum cendekiawan. Namun ia menganggapnya sebagai berkah dan motivasi yang mendidihkan darahnya. Semangat empat lima yang menggelora di sekujur tubuhnya. Ia mendapatkan kembali kepingan jiwanya yang melayang di dunia lain. Dan semua itu berkat Sakura. Gadis manis itu telah merubahnya mati-matian. Tidak ada lagi tingkat kemiringan, yang ada hanyalah pengembalian putaran otaknya yang telah mencapai 360 derajat. Dan mungkin para psikolog akan terheran-heran dan bertekuk lutut menyembah Sakura karena telah menyembuhkan semua penyakit Mike yang ganjil.
Murid dan para guru telah mengenal Mike sejak ia masih ngompol di bangku Sekolah Dasar. Sikapnya yang hiperaktif, acuh, suka berantem plus main hakim sendiri, malas, langganan tidur di kelas, kumal, dekil, ditambah dua atau tiga lusin buku dosa yang telah menumpuk di kantor kepala sekolah. Membuatnya menjadi satu-satunya murid yang mendapat penghargaan sebagai murid terfavorit untuk kategori pemanggilan orang tua. Dan besar harapan ia akan diselamatkan, didoakan dan segera ditamatkan dari SMU sesegera mungkin. Agar sekolah dapat menutup dan menambal malu yang selama ini menggerogoti. Terbukti Mike selalu naik kelas walaupun rapornya berdarah semua. Anehnya lagi tidak ada satupun keluhan yang keluar dari guru maupun orang tua murid.
Sepulangnya Sakura ke negeri matahari terbit akhirnya menambah polemik dan spekulasi bahwa Mike akan kembali ke wujudnya semula. Namun semua itu tidaklah terbukti sama sekali. Entah janji apa yang telah diberikan Sakura kepadanya, hingga ia dapat berubah seratus persen. Ia tidak lagi culas. Ia tidak lagi ngorok di kelas. Ia tidak lagi malas. Ia tidak lagi dan tidak lagi mengisi buku dosa. Penampilannya, perubahan sikapnya yang kontras telah memukau orang-orang yang melihatnya.
---//---
Pengumuman kelulusan telah digelar di dinding sekolah. Dan menurut kabar yang tersiar seminggu lagi akan diadakan pesta dansa untuk melepas kelulusan mereka. Mike yang tidak diunggulkan dan diremehkan kerajinannya telah menohok dan mencekat tenggorokan semua orang. Ia mendapat ranking sepuluh besar dan nilai kelulusannya ternyata tak disangka-sangka. Di atas rata-rata. Sekaligus memuaskan. Tahun-tahun yang berat baginya telah berlalu. Dan hati kecilnya bersyukur sebab Tuhan sudah berbaik hati mempertemukan dirinya dengan Sakura.
Acarapun berlangsung meriah. Semua murid berkumpul di aula sekolah sambil bersendau gurau. Kesempatan yang begitu indah. Mengingat dan mengenang masa-masa sekolah adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka semua. Tangisan dan kebahagiaan silih berganti menyeruak di antara kerumunan.
Dan puncak acara yang ditunggu akhirnya memenuhi klimaksnya. Pesta dansa itu pun digelar. Murid-murid berhamburan ke tengah aula. Hanya tampak Mike yang berdiri lesu. Menyandar pada dinding di pojok ruangan. Tiba-tiba lampu padam. Namun tidak terdengar keriuhan di telinga Mike. Lampu sorot kemudian hidup menyinari seseorang yang telah berdiri di tengah aula. Dan murid-murid yang lain bergegas mundur beberapa langkah. Berusaha untuk tidak menghalangi pandangan Mike pada orang itu. Gadis itu memakai gaun putih yang tergerai di bawah lutut, dengan sepatu hak tinggi berkilau keemasan. Memperlihatkan keanggunan yang membuat semua pria tidak rela untuk mengedipkan mata.
“Sakura,” bisik Mike dalam hati. Kemudian ia berjalan mendekati cahaya itu, untuk memastikan keburaman matanya. Gadis itu melempar senyum yang begitu menghenyakan, membuat Mike semakin yakin dengan tebakannya. Segera saja Mike mengulurkan telapak tangannya. Lalu gadis itu segera menyambutnya hingga tubuhnya terlempar dalam pelukan Mike. Musik segera diputar dan akhirnya memaksa sepasang kaki mereka untuk ikut berdansa. Dan murid yang lain juga ikut terhanyut dalam alunan musik slow and melow abis.
“Sakura, bagaimana kamu bisa datang ke sini,” tanya Mike tanpa basa-basi.
“Hanya untuk memenuhi janjiku padamu,” ucapnya seraya membisikannya di telinga Mike.
“Janji?”
“Ya, aku akan melamarmu menjadi pacarku.”
“Hah?”
Ucapan terakhir Sakura membuat hati Mike hampir kepelanting. Senang, bahagia sekaligus malu dan tak dapat berkata apa-apa. Dan ketika musik akhirnya berhenti. Mike berguman sambil menatap ke dalam mata Sakura yang coklat bening.
“Arigato, Sakura-san.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar