by : Radi Chow
Kyla membuka tirai jendela pesawat, awan-awan putih di langit biru, berarak dengan tebal, lembut tersapu sayap pesawat yang berjalan pelan membelahnya. Matahari terlihat sesekali lewat, membiaskan cahaya terang di antara celah lapisan awan yang menghadangnya, dan ketika Kyla memandang luas ke depan, awan itu berpencar, cahaya itu pecah, menyenter ke segala penjuru celah yang dapat dilewati olehnya. Ia membayangkan jika lukisan tentang surga itu mungkin akan seperti yang dilihatnya sekarang. Terlalu indah untuk diutarakan dengan kata-kata.
Pesawat itu terasa begitu lambannya, hingga Kyla sudah merasa jenuh dengannya. Ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, perjalanan ini terlalu jauh untuknya, terkadang ia ingin saja turun dari pesawat itu atau melompat dari pintu pesawat dengan gantungan tas parasut yang dapat membawanya kembali ke paris, kota idaman yang sangat ia cintai.
“tu veux quelque chose?” (anda menginginkan sesuatu?) tanya pramugari pada kyla ketika pandangan mereka saling berjumpa. Sepertinya pramugari itu memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi dan mencoba untuk menawarkan keramahan padanya. Ia merasa Kyla mungkin jenuh dengan perjalanan yang jauh seperti ini. Beberapa kali transit, mungkin cobaan yang melelahkan untuk gadis seusianya. Kyla yang ketangkap basah sedang tidak mood, tampak salting dan segera menjawab, “Non, merci.” (tidak, terima kasih).
Pramugari itu mengangguk dan berjalan ke depan, melayani beberapa penumpang, yang meminta ini dan itu kepadanya. Walau pramugari itu tampak lelah, namun ia tidak henti-hentinya tersenyum, tuntutan pekerjaan membuatnya harus berlaku sesopan mungkin. Kyla hanya menghela nafas, beruntung ia memupuskan cita-citanya untuk menjadi pramugari. Berkeliling dunia, mungkin saja dapat dilakukan olehnya, tapi jika harus melayani penumpang dan stand by setiap waktu jika diperlukan, ia tidak sanggup melakukan semua itu.
“Ayah tidak mau mendengar apapun sebelum kamu dapat mengabulkan apa yang ayah inginkan. Bertemulah sekali saja dengan Brian dan beritahu ayah apa yang kamu rasakan. Ayah harap itu adalah kabar baik, jika tidak galeri ini mungkin akan ayah berikan kepada adikmu.”
Ucapan ayah Kyla begitu membekas di otaknya sekarang, permintaan yang aneh dan berlebihan itu membuat Kyla tidak bisa berkutik. Bagaimana tidak, galeri lukisan yang ia dirikan dengan bantuan keuangan ayahnya, akan diserahkan kepada adik tiri Kyla, jika itu terjadi maka Kyla akan kehilangan semuanya.
Sejak kecil Kyla begitu menyukai lukisan, darah seni mengalir dari ibu Kyla yang jelas-jelas peranakan Indo dengan ayahnya Perancis, kemudian setelah ibunya meninggal ia dibawa ke luar negeri dan kini harus tinggal dengan ibu tiri berkebangsaan Perancis. Kyla menyukai ibu tirinya, beliau cantik luar dalam, berkepribadian sederhana namun elegan, memiliki lesung pipi yang menggoda ayahnya dan putra ganteng yang juga ia bawa dari perceraian sebelumnya. Kyla jatuh hati pada keduanya, Ibu dan adik tiri yang sama-sama menyukai seni, seperti dirinya. Tidak peduli apapun yang terjadi, ia telah jatuh cinta pada Paris beserta isinya, sekarang, jika ia harus memilih maka ia tidak ingin meninggalkan Paris, namun tidak ada pilihan jika itu berhadapan dengan ayahnya yang super keras kepala.
“Hanya bertemu dan jika tidak ada perasaan, maka ayah tidak dapat memaksaku lagi,” ucapnya dengan nada separuh hati.
“Baiklah, tapi ayah lebih menyukai jika ada kabar baik.”
“Bertemu dengan Brian, mungkin bukan hal yang sulit, hanya bertatap muka dan endingnya kembali ke Paris. Tugas yang sangat mudah, dan jika ayah bersikeras, maka aku akan mengancam untuk minggat dari rumah, ha.ha.ha.”
Kyla manyut dan tersenyum tidak jelas, bagaimana mungkin ia menyukai pria seperti Brian? Ia sudah gila jika bisa suka pada pria itu, baginya pria itu sangat tidak jelas, pikirannya begitu kosong akan sosok pria itu. Kyla hanya mendengar kabar angin bahwa pria yang namanya Brian itu adalah anak teman ayahnya di Indonesia. Pria itu pernah berkunjung ke rumah Kyla di Indo dan Kyla hanya bertemu dengannya sekali. Pria itu sangat unik bin ajaib, wajah super kuper dengan rambut brokoli, yang hobi menenteng kiloan buku tebel kemana-mana dan menjadi terkenal karena setiap kali berita siaran di telinga Kyla, ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah, seorang kutu buku yang selalu bersembunyi di balik tembok tirani perpustakaan. Kyla merasa kasihan sekarang, jika memikirkan masa lalu Brian yang begitu kelam.
Pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional ibukota, Kyla tampak sedikit lega, namun raut kelelahan terlihat jelas di wajahnya, maklum saja selama perjalanan ini ia hanya terlelap sesekali, sisanya dihabiskan karena kepalanya pusing memikirkan masalahnya sendiri.
Kyla berjalan melewati ruangan panjang yang di sekat dengan kaca yang bening, hingga tampak jejeran taksi maupun mobil pribadi yang sedang bertengger dan berseliweran di luar, berdiri sejenak untuk melihat keramaian yang riuh di depan pintu keluar. Sejumlah orang ternyata sedang berdiri di samping palang pembatas, mengusung spanduk yang berisi nama penumpang yang sedang mereka tunggu. Kyla teringat dengan pesan ayahnya bahwa akan ada orang yang menjemputnya, sesampainya ia di bandara. Dengan mata jeli, Kyla melirik ke sana-sini, melihat apakah ada namanya di antara sejumlah orang yang membawa spanduk itu. Beberapa kali ia memeriksa dengan teliti dan dalam hitungan beberapa menit penumpang yang baru turun dari pesawat, yang berjalan duluan di depan berangsur-angsur berkurang dan sekarang tinggal beberapa.
Pandangan Kyla berhenti tatkala bola matanya membesar menuju ke arah spanduk yang bertuliskan namanya. Ia tidak dapat melihat wajah orang itu sebab spanduk itu menghalanginya. Karena semakin penasaran ia pun bergegas keluar dari pintu bandara, mendekati pria itu.
“Maaf, saya Kyla. Apakah anda…”
Kyla membungkam kembali suaranya, pria itu telah membuatnya terheran-heran ketika menurunkan spanduk yang ia bawa.
“Brian?”
Pria itu mengangguk pelan, bola matanya yang coklat bening membuat ingatan Kyla yang sedikit suram, kini terbuka lebih terang.
“Tidak mungkin. Apakah mataku telah rusak. Pria culun dengan rambut brokoli, kaca mata bak LUP. Apa yang sedang terjadi? Kemana itu semua? Bagaimana bisa?”
Mobil merah Ferrari yang mewah itu melaju dengan kencang, membelah jalanan ibukota. Kyla duduk di belakang, terheran-heran karna pria itu telah berubah drastis. Pita suaranya seperti terputus dan tidak mengeluarkan sedikitpun basa-basi dari mulutnya.
“Bagaimana dengan Paris?”
Kyla duduk tak bergeming, ia tidak menjawab sedikitpun. Pikirannya sedang kacau, menelaah beberapa kejadian di masa lalu.
“Kyla?!!”
“Ya. Ada apa?”
“Maaf, apa yang kamu ucapkan barusan?”
“Bagaimana Paris?”
“Tentu, masih sama seperti dulu. Menakjubkan, indah dan tak terlukiskan dengan kata-kata.”
Senyum mengembang dari wajah Brian, ia mengangguk dan tertawa pelan. Kyla merasa itu jawaban yang bodoh, mengapa ia tidak terlalu berhati-hati ketika mengucapkannya. Lamunan kemana-mana telah membuatnya tidak sadar. Sekarang, entah apa itu, Kyla merasa sesuatu yang aneh telah terjadi, badannya terasa panas dari ujung kepala ke ujung kaki. Mungkin cuaca di ibukota yang belum terbiasa untuknya. Ia memegang kepalanya dan panas seperti telah menjalar di sana, anehnya mengapa jantungnya berdegup kencang, ia tidak mengerti dengan semua itu. Kelelahan yang amat sangat membuatnya tertidur pulas di perjalanan.
Kyla mengusap tangannya pada sprei lembut yang terbuat dari satin itu, kemudian menarik nafas dalam-dalam, ketika aroma pewangi yang lembut dan harum memenuhi seluruh hidungnya dan sekarang sedang menuju pikirannya. Gadis itu terperanjat, duduk memeluk sprei putih itu, mengumpulkan ingatannya yang berserakan ketika ia tidak sadar, ia merasakan suasana yang aneh, ruangan yang terpampang itu bukanlah kamarnya, ia jelas akan hal itu. Dan terakhir yang ia ingat, ia bersama pria itu, yang mengantarnya ke suatu tempat. Pria itu telah melakukan sesuatu padanya, ruangan ini tampak seperti kamar hotel, ia dapat menebaknya karena tidak beda dengan kamar-kamar hotel di Paris. Lalu kemana seluruh pakaian yang ia kenakan kemarin, daster putih lembut yang melekat di badannya sekarang, sangat asing, dengan mode baru tentunya jika ia tidak salah menebaknya, tapi ia tidak merasa mempunyai daster seperti itu.
“Maafkan saya, apakah saya boleh masuk?”
Seseorang mengetuk pintu, Kyla meyakinkan dirinya bahwa akan ada jawaban untuknya dan dari pendengarannya, sepertinya orang yang bertanya adalah seorang perempuan. Lalu ia memberanikan diri menyahut, namun dengan nada yang ditekan selembut mungkin.
“Ya, silakan.”
Meja makan itu sangat panjang, di atasnya telah terhidang beragam menu pilihan dari masakan eropa hingga Indonesia. Kyla sangat menikmati makanannya, ia merasa begitu bersemangat, nafsu makannya juga, entah kemana perginya perasaan yang menghantuinya beberapa waktu yang lalu. Wajahnya tampak sangat segar dan bersinar kebahagiaan. Ceritanya, ia telah mendengar begitu banyak penjelasan dari pelayan yang mengetuk pintunya saat ia kebingungan ketika menemukan dirinya berada di kamar yang bukan kamarnya. Jawaban yang memuaskan dirinya dari pelayan itu telah membuat ia seperti terbang di awan-awan. Sekarang, segala kepenatan yang ia lewati di pesawat, kini sirna sudah.
Begitu banyak yang belum ia ketahui mengenai Brian dan untuk itu Kyla telah memutuskan menetap di ibukota, sementara dirinya mencari jawaban dari segala pertanyaan yang terus mengiang di telinganya, sekalian ia dapat berziarah ke makam ibu kandungnya dan setelah itu menikmati hingar-bingar ibukota.
“Saya yang melepaskan pakaian anda atas permintaan tuan muda Brian. Beliau sangat khawatir dengan kondisi anda, karna panas yang belum juga reda saat anda dibawa kemari. Kemudian tuan muda-lah yang menjaga anda di sini semalaman.”
“Dimana dia sekarang?”
“Tuan muda pesan untuk melayani anda sebaik mungkin dan memberikan apa saja yang anda perlukan. Mungkin akan terlambat pulang karena ada acara pelelangan di galeri seni kepunyaan beliau.”
Penjelasan pelayan di kamar tidur itu telah menohok tenggorokan Kyla, membuatnya bungkam untuk beberapa saat. Hingga garpu yang ia pegang terlepas. Ia benar-benar tidak bisa percaya, dan menyesal karna telah meremehkan pria itu berkali-kali saat ia masih di Paris dan ketika di pesawat. Ia tidak mengenal sosok Brian sedikitpun, bahkan saat pria itu mengunjunginya dulu, ia tidak peduli dan bersikap acuh. Kini pria itu telah menjelma menjadi seseorang yang tidak sama, berbeda dari segala segi, tampan, berkarisma dan yang lebih mengesankan, ia menyukai seni.
C’mon Kyla apa yang sedang kau tunggu lagi?
Lukisan tua itu, dengan goresan cat minyak dominan kebiruan dan putih seperti cahaya seolah-olah terpancar keluar, menyenter ke segala penjuru celah yang ia lewati, seperti di dunia lain, tepatnya di atas awan, dimana perasaan menyenangkan itu berkumpul untuk merayakan kebebasan, burung-burung merpati putih itu kemudian dengan riangnya menyambut sang cahaya yang pelahan muncul dari tabir yang tersembunyi, merayakan kedatangan Pencipta yang agung di suatu dunia yang megah, sebuah surga.
Kyla begitu terpukau dengan lukisan itu, dan terkejut setengah mati karena Brian-lah yang menggambar itu semua. Brian memiliki mimpi yang sama dengannya, yang sudah lama ingin diwujudkan olehnya, menuangkan surga indah itu ke dalam gambaran lukisan, seperti yang ia lihat saat di pesawat. Surga indah itu sekarang ada di sini, di sebuah galeri seni, di mana orang yang menggambarnya telah membuktikan bahwa ia sangat berbakat dan hati Kyla sekarang terguncang, goncang-gancing oleh perasaan aneh dan setelah dipikir-pikir harus diakui ia telah jatuh cinta pada Brian.
“Bagaimana menurutmu?”
Kyla terperanjat dan berdiri dengan tegang saat Brian datang menghampiri dirinya. Ini bukan mimpi, melainkan kenyataan, pria itu tampak sangat maskulin dan berkharisma serta berbakat dalam seni. Degup jantung dengan cepat merayap, hati yang merah muda kini bersayap, membuat Kyla tidak bisa bernafas, wajahnya merah dan ia tidak bisa berkata apa-apa.
“Kamu boleh memilikinya jika kamu suka,” ucap Brian menatap ke dalam mata Kyla yang indah.
“Be…be..benarkah?”
“Tentu.”
Gadis itu melompat dan memeluk Brian dengan erat, membuat semua orang yang hadir di galeri itu terperangah, kemudian tersenyum, membuat wajah Kyla merah padam, sadar lalu turun dan manggut-manggut tak jelas.
“Tapi.”
“Tapi…apa?”
“Ada satu syarat jika kamu ingin memiliki lukisan itu?”
Brian mengambil sesuatu dari kantong jas hitam yang ia kenakan, kemudian memberanikan diri berlutut dan membuka sebuah kotak hitam kecil lalu disodorkan dekat Kyla yang tampak kebingungan. Sebuah cincin dengan sebutir berlian telah menunggu untuk disematkan di jari Kyla.
“Tunggu sebentar,” ucap Kyla saat hp-nya berdering.
“Nih, ayah? Bagaimana? Apakah kamu berhasil?”
“Jika tidak, kembalilah. Ayah tidak akan menyalahkan dirimu. Ayah cuma mengertakmu saja, galerimu tidak akan ayah berikan pada adikmu.”
“Ayah janji.”
“Halo..halo??”
Kyla tidak lagi mendengarkan dan menurunkan hp-nya. Kemudian menatap Brian yang masih berlutut menunggu giliran bicara. “Lanjutkan,” kata Kyla pada Brian.
“Will you marry me?”
Kyla tidak dapat menunggu lebih lama lagi, kesempatan tidak datang dua kali. Jika ia harus memilih antara Paris dengan Brian, maka jawabannya adalah Brian karna pria itu telah menaklukan dirinya, terasa sakit jika ia harus mencabut kembali panah cinta itu sekarang.
“Yes.”
Ketika Brian menyematkan cincin itu, Kyla berteriak histeris dan melanjutkan pembicaraan dengan ayahnya yang belum terputus.
“Ayah, saya akan menikah. Brian baru saja melamar saya.”
“Apa….?”
“Serahkan saja galeri itu pada adik.”
“Masa bodoh, bukan urusanku lagi.”
Kyla berharap ini bukanlah mimpi, sebab keputusannya yang begitu mendadak, mungkin akan menariknya ke dalam penyesalan kelak. Namun setelah beberapa bulan ia di Indonesia, telah membuatnya sadar dengan keinginan dirinya untuk menetap di sini, bersama Brian yang begitu memesona dan baik padanya, mungkin ia tidak akan menyesal untuk menghabiskan hari-hari itu bersamanya. Dan ia akan rela menyebutkan apa yang selama ini enggan untuk ia pikirkan.
“Goodbye, Paris.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar