Sabtu, 05 Februari 2011

A Dream

by : Radi Chow
Langit kian gelap. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Aku tak tahu lagi di mana  kini aku berada. Sekilas perasaan tak asing melihat jalan yang kulewati sekarang ini. Aku tidak bisa berhenti, langkah ini mulai berani menentang keinginanku. Tak lagi mendengarkan aspirasi otak dalam kepalaku. Apa yang harus kulakukan?.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melesat cepat melewati langkah kakiku. Tampak samar sosok wanita berjalan di depanku. Langkahnya cepat, beberapa saat ia sudah jauh meninggalkan aku di belakangnya. Kakiku terpacu tak mau kalah, dapat kulihat lebih jelas punggung wanita itu sekarang. Rambutnya tergerai panjang, tubuhnya yang mungil mengingatkanku pada Grace, pacarku. Mungkinkah itu dia?

“Grace, tunggu!!! Apakah itu kamu? Jawab aku Grace?”
Tak ada balasan. Aku merasa yakin sekali itu dia. Apakah ia masih marah? Mungkin, sebab kami bertengkar beberapa hari yang lalu. Kubilang ingin putus dengannya. Egoiskah diriku? Kami sudah pacaran hampir dua tahun, terhitung dibangku SMU kelas 3. Walaupun tidak kuliah di kampus yang sama, kontak antara kami berdua masih saja lancar seperti dulu. Hingga beberapa hari yang lalu kudapati dirinya bergandengan tangan dengan seorang pria di salah-satu pusat perbelanjaan ternama di kotaku. Tanpa penjelasan, ia berlalu. Membuang muka, meninggalkanku seperti orang bodoh yang kebakaran jenggot. Aku benar-benar marah, tak satupun  teleponnya kuangkat. Hatiku masih sangat sakit. Tapi setelah dipikir-pikir betapa angkuhnya diriku jika tidak memberi maaf, sebab aku masih cinta padanya. Hatiku sangat sulit untuk berpaling darinya. Memang benar ternyata cinta pertama itu sulit untuk dilupakan?

Sosok wanita yang kuyakini Grace itu tak kelihatan, apakah ia belok ke kiri atau ke kanan.
“Stop!!! Berhenti kubilang!!”
Syukurlah kali ini kakiku mendengar apa yang kuperintahkan. Mataku melirik ke segala arah.
“Tak mungkin, bukankah ini sekolahku yang dulu” batinku.
“Bangun, bangun, Ron!!!! Kau tahu jam berapa sekarang??? Tidak kuliah hari ini???”
Samar terdengar suara di kejauhan, seperti suara ibuku. Suasana kini berubah, Aku berada di ranjang menatap langit-langit kamarku. Ternyata semua itu cuma mimpi.

“Aarrgh…Haaaantuuu..,” teriakku kencang.
Aku terkejut dan terperanjat. Kucubit tanganku, mungkinkah masih mimpi? Aneh, kali ini mimpi hantu yang memakai duster putih.
“Ini ibu, bodoh!!! Kau ingin membuat jantungku copot.”
Ibu melayangkan sandalnya ke wajahku. Aku segera menangkis dengan kedua tangan.
“Ahh…., ibu ini nakutin orang saja. Ibu kayak hantu tau.”
Ibu semakin murka dia lampiaskan sandalnya bertubi-tubi ke arahku. Lalu berhenti dan tersadar setelah jari telunjukku mengarah ke wajahnya. Syukurlah ibu tidak memakai bakiak hari ini, mungkin mukaku bisa bonyok dibuatnya.
“Maaf ya, maskernya lupa ibu copot. Ha..ha..ha..”
Ibu mengangkat tangannya tinggi. Lengan bajunya disingkap hingga  ketiak. Belum terpikir apa yang akan ibu lakukan. Tiba-tiba,…..
 “Hiiii.hiii…”
“Aarghhhh…….”.
Sial banget, dikerjain sampai dua kali. Benar-benar seperti hantu sungguhan. Hampir saja jantung kesayangan ini melompat keluar.
“Ayo, nanti terlambat ke kampus.” ucap ibu sambil senyum berjalan keluar dari kamarku.
Aku bangkit dan mendekati meja belajar yang tak jauh dari ranjang. Kuraih hp yang kuletakkan di atas meja. Kulihat adakah yang menelepon dan mengirimkan pesan. Ada, ternyata tertera nama Grace di panggilan tak terjawab. Kubuat silent jadi gak kedengaran. Bukan hanya panggilan yang masuk, sms juga ada. Terus kubaca dalam hati.
“Ron, Kutunggu jam 8 di taman sebelah sekolah SMU kita dulu. Aku tak akan beranjak hingga kau datang!!!”
Singkat, padat dan penuh makna ancaman. Biarlah untuk kali ini tidak kuturuti. Aku ingin ia merasakan juga penderitaan yang kualami.

“Apakah Grace benar-benar menungguku semalam?” pikirku.
Malam tadi hujan lebat. Jendela dan beranda belum lagi kering oleh himbasan air hujan. Tubuhku gemetar teringat lagi mimpi semalam. Ketika hendak ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar panggilan dari hpku. Mungkin saja Grace. Aku melangkah balik, meraih kembali hp yang baru saja kuletakkan di ranjang. Bukan Grace tapi Jenny, teman sekampusnya.

“Halo, Jenny ya? Ada apa  pagi-pagi gini telepon?” tanyaku singkat.
“Lihat Grace gak, pamannya baru telepon bilang kalau Grace belum pulang ke rumah sejak tadi malam. Ia Cuma pamit trus bilang ke rumah teman.”
Jenny tampak panik, aku juga bingung dibuatnya. Apakah Grace benar-benar menungguku semalam? Kuceritakan mengenai sms dan mimpiku barusan.

“Ok, kalau gitu kita ketemu setengah jam lagi di depan kantor pos dekat rumahmu”
Jenny menutup telepon. Aku bergegas mandi dan sarapan pagi. Jenny sudah menungguku di sana. Setelah bicara singkat, kami segera menghentikan angkot. Tujuan kali ini adalah ke sekolahku. Di perjalanan, Jenny cerita semua yang ia ketahui. Semua cuma salah-paham, Grace tidak pernah menghianati diriku. Ia melakukan itu semata-mata hanya tak ingin aku dan laki-laki itu bertengkar apalagi sampai berkelahi. Aku menyesal tidak percaya dan mengacuhkan dirinya tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasannya.
Lelaki itu ternyata Ray, teman kecil Grace. Aku pernah dengar sebelumnya dari Grace, bahwa Ray di bawa orang tuanya ke Amrik untuk tinggal di sana. Ray juga cinta pertama Grace yang mulai ia lupakan sejak bertemu denganku.
Kubawa Jenny menuju sekolahku yang dulu setelah turun di perempatan jalan. Tampak sepi, sekolah mungkin diliburkan. Tak ada seorangpun di taman sebelah sekolah. Tiba-tiba saja seseorang memukul pundakku dari belakang.
“Mas Rony, ya?”
Jenny dan diriku sontak kaget ketika melihat sesosok tua telah berdiri di belakang kami.
Namun aku mengenali sosok itu. Beliau tidak lain  penjaga sekolahku yang dulu.
“Oh, Pak Yamin. Gimana kabarnya Pak?”
Kusapa sembari menjabat tangannya yang mulai layu diselaputi kulit yang mulai kering keriput.
“Baik, mas.” jawabnya singkat.
“Untung saja ketemu mas di sini. Itu loh, teman yang sering pulang bareng mas dulu. Aduh, namanya siapa ya? Saya lupa.”
“Grace.” aku menyalip kata pak Yamin yang belum habis bicara.
“Ya, non Grace. Tidak salah lagi.”
“Emang Grace napa, pak?” Jenny memotong pembicaraan kami.
“Anu, non Grace. Semalam diserempet motor dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Untung saja bapak lewat jadi bapak tolong.”
“Lalu gimana keadaannya sekarang, pak?” tanyaku panik.
“Masih belum siuman. Tadinya saya ingin cari alamat non Grace di gedung sekolah. Kalau gitu, mari saya antar ke rumah sakit.”
Aku, Jenny dan Pak Yamin bergegas ke rumah sakit. Jenny sibuk mengabari pamannya sewaktu di perjalanan. Maklum saja, sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia kemudian tinggal dan dijaga oleh pamannya.

“Gimana Grace, Dok?” tanyaku cemas.
“Sudah lewat masa kritis, untung saja segera dibawa kemari hingga cepat mendapat pertolongan” jawab dokter singkat.
Aku masuk dan melihat keadaan Grace. Tampak olehku tubuh Grace terbujur kaku dengan infus dan sedikit perban yang masih melilit di tangannya. Sekujur tubuhku lemas, air mataku membuncah keluar seketika itu juga. Perasaan bersalah menghinggapi diriku.
“Kumohon bangunlah, Grace. Ini semua salahku.”
Aku memegang tangannya yang dingin. Ia tak bereaksi sedikitpun. Dokter menyuruhku untuk membiarkan Grace istirahat. Mungkin sebentar lagi Grace bakal siuman. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar ia segera sadar.
Waktu beranjak malam, Jenny permisi pulang setelah membelikan untukku sebungkus nasi. Aku beranjak dan berjalan pelan ke kamar mandi. Namun setelah pada langkah kedua, tiba-tiba ada yang menarik pelan tanganku dan kudengar suara parau sedang memanggil namaku.
“Ron, jangan pergi. Kumohon tetaplah di sini”
“Grace, kamu sudah siuman. Oh, terima kasih Tuhan.”
Aku menjatuhkan badanku untuk memeluknya. Tangisan kami membludak di seisi ruangan.

Seminggu berlalu, Grace sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kami sudah berbaikan. Sejak cobaan itu berlalu, kami semakin mesra dan tidak pernah marahan lagi. Dan kini seratus persen kupercayakan isi hatiku padanya. Penasaran apa buktinya? Jangan cuma ngiri, cincin tunangan nih buktinya. Ha.ha…..-^