Langit kian gelap. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Aku tak tahu lagi di mana kini aku berada. Sekilas perasaan tak asing melihat jalan yang kulewati sekarang ini. Aku tidak bisa berhenti, langkah ini mulai berani menentang keinginanku. Tak lagi mendengarkan aspirasi otak dalam kepalaku. Apa yang harus kulakukan?.
Tiba-tiba sekelebat bayangan melesat cepat melewati langkah kakiku. Tampak samar sosok wanita berjalan di depanku. Langkahnya cepat, beberapa saat ia sudah jauh meninggalkan aku di belakangnya. Kakiku terpacu tak mau kalah, dapat kulihat lebih jelas punggung wanita itu sekarang. Rambutnya tergerai panjang, tubuhnya yang mungil mengingatkanku pada Grace, pacarku. Mungkinkah itu dia?
“Grace, tunggu!!! Apakah itu kamu? Jawab aku Grace?”
Tak ada balasan. Aku merasa yakin sekali itu dia. Apakah ia masih marah? Mungkin, sebab kami bertengkar beberapa hari yang lalu. Kubilang ingin putus dengannya. Egoiskah diriku? Kami sudah pacaran hampir dua tahun, terhitung dibangku SMU kelas 3. Walaupun tidak kuliah di kampus yang sama, kontak antara kami berdua masih saja lancar seperti dulu. Hingga beberapa hari yang lalu kudapati dirinya bergandengan tangan dengan seorang pria di salah-satu pusat perbelanjaan ternama di kotaku. Tanpa penjelasan, ia berlalu. Membuang muka, meninggalkanku seperti orang bodoh yang kebakaran jenggot. Aku benar-benar marah, tak satupunteleponnya kuangkat. Hatiku masih sangat sakit. Tapi setelah dipikir-pikir betapa angkuhnya diriku jika tidak memberi maaf, sebab aku masih cinta padanya. Hatiku sangat sulit untuk berpaling darinya. Memang benar ternyata cinta pertama itu sulit untuk dilupakan?
Sosok wanita yang kuyakini Grace itu tak kelihatan, apakah ia belok ke kiri atau ke kanan.
“Stop!!! Berhenti kubilang!!”
Syukurlah kali ini kakiku mendengar apa yang kuperintahkan. Mataku melirik ke segala arah.
“Tak mungkin, bukankah ini sekolahku yang dulu” batinku.
“Bangun, bangun, Ron!!!! Kau tahu jam berapa sekarang??? Tidak kuliah hari ini???”
Samar terdengar suara di kejauhan, seperti suara ibuku. Suasana kini berubah, Aku berada di ranjang menatap langit-langit kamarku. Ternyata semua itu cuma mimpi.
“Aarrgh…Haaaantuuu..,” teriakku kencang.
Aku terkejut dan terperanjat. Kucubit tanganku, mungkinkah masih mimpi? Aneh, kali ini mimpi hantu yang memakai duster putih.
“Ini ibu, bodoh!!! Kau ingin membuat jantungku copot.”
Ibu melayangkan sandalnya ke wajahku. Aku segera menangkis dengan kedua tangan.
“Ahh…., ibu ini nakutin orang saja. Ibu kayak hantu tau.”
Ibu semakin murka dia lampiaskan sandalnya bertubi-tubi ke arahku. Lalu berhenti dan tersadar setelah jari telunjukku mengarah ke wajahnya. Syukurlah ibu tidak memakai bakiak hari ini, mungkin mukaku bisa bonyok dibuatnya.
“Maaf ya, maskernya lupa ibu copot. Ha..ha..ha..”
Ibu mengangkat tangannya tinggi. Lengan bajunya disingkap hinggaketiak. Belum terpikir apa yang akan ibu lakukan. Tiba-tiba,…..
“Hiiii.hiii…”
“Aarghhhh…….”.
Sial banget, dikerjain sampai dua kali. Benar-benar seperti hantu sungguhan. Hampir saja jantung kesayangan ini melompat keluar.
“Ayo, nanti terlambat ke kampus.” ucap ibu sambil senyum berjalan keluar dari kamarku.
Aku bangkit dan mendekati meja belajar yang tak jauh dari ranjang. Kuraih hp yang kuletakkan di atas meja. Kulihat adakah yang menelepon dan mengirimkan pesan. Ada, ternyata tertera nama Grace di panggilan tak terjawab. Kubuat silent jadi gak kedengaran. Bukan hanya panggilan yang masuk, sms juga ada. Terus kubaca dalam hati.
“Ron, Kutunggu jam 8 di taman sebelah sekolah SMU kita dulu. Aku tak akan beranjak hingga kau datang!!!”
Singkat, padat dan penuh makna ancaman. Biarlah untuk kali ini tidak kuturuti. Aku ingin ia merasakan juga penderitaan yang kualami.
Malam tadi hujan lebat. Jendela dan beranda belum lagi kering oleh himbasan air hujan. Tubuhku gemetar teringat lagi mimpi semalam. Ketika hendak ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar panggilan dari hpku. Mungkin saja Grace. Aku melangkah balik, meraih kembali hp yang baru saja kuletakkan di ranjang. Bukan Grace tapi Jenny, teman sekampusnya.
“Halo, Jenny ya? Ada apa pagi-pagi gini telepon?” tanyaku singkat.
“Lihat Grace gak, pamannya baru telepon bilang kalau Grace belum pulang ke rumah sejak tadi malam. Ia Cuma pamit trus bilang ke rumah teman.”
Jenny tampak panik, aku juga bingung dibuatnya. Apakah Grace benar-benar menungguku semalam? Kuceritakan mengenai sms dan mimpiku barusan.
“Ok, kalau gitu kita ketemu setengah jam lagi di depan kantor pos dekat rumahmu”
Jenny menutup telepon. Aku bergegas mandi dan sarapan pagi. Jenny sudah menungguku di sana. Setelah bicara singkat, kami segera menghentikan angkot. Tujuan kali ini adalah ke sekolahku. Di perjalanan, Jenny cerita semua yang ia ketahui. Semua cuma salah-paham, Grace tidak pernah menghianati diriku. Ia melakukan itu semata-mata hanya tak ingin aku dan laki-laki itu bertengkar apalagi sampai berkelahi. Aku menyesal tidak percaya dan mengacuhkan dirinya tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasannya.
Lelaki itu ternyata Ray, teman kecil Grace. Aku pernah dengar sebelumnya dari Grace, bahwa Ray di bawa orang tuanya ke Amrik untuk tinggal di sana. Ray juga cinta pertama Grace yang mulai ia lupakan sejak bertemu denganku.
Kubawa Jenny menuju sekolahku yang dulu setelah turun di perempatan jalan. Tampak sepi, sekolah mungkin diliburkan. Tak ada seorangpun di taman sebelah sekolah. Tiba-tiba saja seseorang memukul pundakku dari belakang.
“Mas Rony, ya?”
Jenny dan diriku sontak kaget ketika melihat sesosok tua telah berdiri di belakang kami.
Namun aku mengenali sosok itu. Beliau tidak lain penjaga sekolahku yang dulu.
“Oh, Pak Yamin. Gimana kabarnya Pak?”
Kusapa sembari menjabat tangannya yang mulai layu diselaputi kulit yang mulai kering keriput.
“Baik, mas.” jawabnya singkat.
“Untung saja ketemu mas di sini. Itu loh, teman yang sering pulang bareng mas dulu. Aduh, namanya siapa ya? Saya lupa.”
“Grace.” aku menyalip kata pak Yamin yang belum habis bicara.
“Masih belum siuman. Tadinya saya ingin cari alamat non Grace di gedung sekolah. Kalau gitu, mari saya antar ke rumah sakit.”
Aku, Jenny dan Pak Yamin bergegas ke rumah sakit. Jenny sibuk mengabari pamannya sewaktu di perjalanan. Maklum saja, sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia kemudian tinggal dan dijaga oleh pamannya.
“Gimana Grace, Dok?” tanyaku cemas.
“Sudah lewat masa kritis, untung saja segera dibawa kemari hingga cepat mendapat pertolongan” jawab dokter singkat.
Aku masuk dan melihat keadaan Grace. Tampak olehku tubuh Grace terbujur kaku dengan infus dan sedikit perban yang masih melilit di tangannya. Sekujur tubuhku lemas, air mataku membuncah keluar seketika itu juga. Perasaan bersalah menghinggapi diriku.
“Kumohon bangunlah, Grace. Ini semua salahku.”
Aku memegang tangannya yang dingin. Ia tak bereaksi sedikitpun. Dokter menyuruhku untuk membiarkan Grace istirahat. Mungkin sebentar lagi Grace bakal siuman. Aku hanya bisa berdoa dan berharap agar ia segera sadar.
Waktu beranjak malam, Jenny permisi pulang setelah membelikan untukku sebungkus nasi. Aku beranjak dan berjalan pelan ke kamar mandi. Namun setelah pada langkah kedua, tiba-tiba ada yang menarik pelan tanganku dan kudengar suara parau sedang memanggil namaku.
“Ron, jangan pergi. Kumohon tetaplah di sini”
“Grace, kamu sudah siuman. Oh, terima kasih Tuhan.”
Aku menjatuhkan badanku untuk memeluknya. Tangisan kami membludak di seisi ruangan.
Seminggu berlalu, Grace sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kami sudah berbaikan. Sejak cobaan itu berlalu, kami semakin mesra dan tidak pernah marahan lagi. Dan kini seratus persen kupercayakan isi hatiku padanya. Penasaran apa buktinya? Jangan cuma ngiri, cincin tunangan nih buktinya. Ha.ha…..-^
“May, apa yang kamu lakukan?” ketus Mira, membelalakan matanya, menghardik teman sebangkunya itu dengan suara keras. Lalu melihat gadis itu bangkit dari aspal tempat ia merebah.
“Kok ditampar?” ketusnya geram. Namun sebelum Maya menelan perkataan Mira, pria itu telah berlalu, melangkah ke depan jalan kemudian berbelok ke kanan. Memasuki gerbang sekolah.
“Maksud lo? Pria itu tidak melakukan sesuatu padamu? Ia hanya ingin membantumu bangun karena kamu tiba-tiba terjatuh?” tanya Maya, dan tanpa basa-basi gadis itu membalas dengan anggukan.
“Apakah itu benar?”
“Iya. Iya.”
“Pokoknya nanti kamu harus minta maaf pada Fabian. Titik.”
“Fabian? Maksud lo ketua Osis kita?”
Tenggorokan Maya tercekat. Suaranya tidak dapat mengudara. Malu dan rasa bersalah berlomba dan berlari menembus barikade otaknya. Membuatnya lumpuh di tempat. Ia masih tidak percaya pria yang ditamparnya barusan adalah Fabian, sang ketua Osis. Entah mengapa ia baru menyadarinya, sekarang, pria yang berdiri semenit yang lalu sangat mendekati kemiripan wajah Fabian.
Maya berusaha mengembalikan ingatannya. Mengecek adegan sebelum dan setelah ia menampar pria itu. “Ya, pause di sana,” pinta Maya pada batinnya. Pria itu mempunyai mata biru keabuan. Rambutnya sedikit pirang dan itu bukan akibat diwarnai. Maya yakin itu akibat penyilangan ras alias peranakan dua orang dari negara yang berbeda. Mungkin salah satu ortunya adalah orang bule. Ah, namun itu semua tidak terlalu penting. Maya menutup matanya memandangi sekilas wajah yang muncul di benaknya. Seperti sebuah kamera, ia berhasil menangkap wajah pria itu. Ia tertegun. “Tidak salah lagi ia adalah Fabian,” batin Maya.
“May, ayo cepetan ntar pintu gerbangnya ditutup Mr. Pincher,” teriak Mira, membuyarkan lamunan Maya yang sedang asik ber-zoom-in ria.
“Iya,” jawab Maya dengan tatapan bak anak panah yang hendak menjadikan Mira sebagai sasarannya. Namun gadis belagu itu menangkis dan tidak tergubris sedikitpun. Ia lebih takut pada Mr. Pincher yang terkenal dengan keganasannya dalam menuang dosa murid-murid yang terlambat dan tidak mematuhi peraturan sekolah ke dalam buku hitam.
“Pake acara jatuh segala,” Maya membatin diselingi desahan panjang, menyusul teman sebangkunya yang sudah lari estafet masuk ke dalam sekolah.
Acara belajar mengajar yang membosankan akhirnya berakhir begitu saja. Namun kegelisahan yang mengumpal dalam hati Maya tak kunjung hilang. Ia risau, karena tamparan itu seharusnya tak melayang jatuh ke wajah Fabian, cinta pertamanya.
“Tunggu dulu, cinta pertamanya? Maksud lo?” ia meralat suara hatinya. Namun berat untuk mengingkari perasaannya sendiri. Ya walau sedikit, namun ia hanya ingin menjadi secreat admired-nya Fabian saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan Mira selalu mendecap dan bergeleng setiap kali Maya mengucapkan hal itu berulang kali.
Seperti mendengar bisikan gosip seminggu yang lalu, yang tiba-tiba muncul. Membuat Maya sedikit merenggut.
“Fabian gay, tapi…,” Maya segera menendang jauh-jauh pikiran itu. Terlalu sayang untuknya, ia tidak mau mencoreng apalagi menyiramkan sekaleng cat minyak pada wajah pria yang telah dipahat dalam dinding hatinya. Terlalu sayang, terlalu berat untuk…
“Ahh.. pokoknya tidak mau,” tukasnya selagi gossip itu mencoba untuk menembus dinding hatinya yang terlihat goyah, dan rapuh.
Sebenarnya Maya sangat sulit untuk tidak sedikit percaya. Ia punya alasan,
Pertama, pria seperti Fabian belum punya pacar. Mungkin ia terlalu banyak milih, atau ia belum berencana untuk pacaran. Namun apakah harus seperti itu? Kalau diingat-ingat sudah selusin makhluk-makhluk cantik berseliweran untuk mengemis cintanya. Semua adalah bibit unggul, cantik, pintar, anggun, baik hati, manis, dan masih banyak lagi kategori yang menggiurkan. Walau Maya harus jujur dia tidak ada di antara mereka. Ya, bolehlah ia dikatakan manis, walau sedikit terpaksa. Tapi mungkin cuma itu saja.
“Apa, masa cuma itu saja?” gerutu batinnya seraya memaki-maki dirinya sendiri. Kemudian memulai penyelidikan, mencari apakah masih ada kategori yang lain, yang dapat ia banggakan.
Kalau dibilang cantik, anggun dan manis sepertinya ia pernah dengar, tapi itu meletup keluar dari mulut kedua ortunya saja. Mungkin mereka mencoba untuk menjaga perasaan buah hatinya saja. Lalu untuk kategori pintar, tentu saja ia tidak tergolong, rapor-nya selalu kebakaran jika ia menatap sekilas.
“Tidak semuanya ya… Kan masih ada dua atau tiga yang tidak hangus terbakar,” protes Maya.
Terakhir, baik hati, ini adalah pilihan yang sulit. Ya, sulit untuk diajukan. Sebab pada sehariannya, Maya merasa ia belum pernah memberi, sedikitpun. Selalu saja meminta, dan kebanyakan meminta.
Namun sebelum Maya terperosok lebih jauh dengan terkaannya yang tak karuan, ia segera menarik nafas dan melepaskan desahan panjang. Seharusnya ia tidak membuat dongkol para pembaca, namun alasan kedua sepertinya belum terpikirkan. Baginya untuk apa membuat seribu alasan jika ia tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Fakta selalu menang. Sedangkan terkaan terkadang benar dan terkadang salah. Buat apa ia harus pusing, ia mungkin akan kalah dalam peperangan. Mending kalau ia dapat ikut berperang, sebab takutnya sebelum ia mengangkat senjata, seluruh keberaniannya telah luntur. Dan sesaat setelah ia bergumul dengan cermin di kamarnya, menangkap banyaknya kekurangan yang ada pada dirinya. Ia pasti kalah.
“Namun tamparan harus segera dilunasi,” pikirnya, lalu Maya melangkah mengitari seisi sekolah, mencari pria itu.
Saat itu, sekolah telah sepi dan Maya tidak menemukan jejak pria itu. Ia seperti ditelan oleh kesunyian sekolah, sesaat senja akhirnya menyelimuti. Mendung perlahan bergantung, menempel di langit, menghapus cahaya keemasan mentari yang mulai redup.
Lalu Maya sadar, ia ditinggal sendirian di sekolah. Dan hujan perlahan jatuh menghujam bumi, bertubi-tubi.
“Arrgh…,” teriakan Maya berusaha untuk mengalahkan suara hujan yang berlalu-lalang. Wajahnya pucat, seluruh aliran darahnya membeku. Ia melihat sesuatu sedang bergerak, maju mendekati dirinya. Dan tanpa sadar, kedua tangannya sudah menempel bak perangko di wajahnya. Lalu ia merasakan sentuhan hangat menyentuh keningnya. Pelahan membuat Maya merasa damai dan tenang, sehingga berani menyingkirkan kedua tangannya, membuka matanya lebar-lebar.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, May?”
“Fabian.”
“Mira bilang kamu mencariku seharian. Apakah untuk minta maaf?” tanya Fabian dengan nada terdengar jahil.
“Ok, aku terima maafmu. Namun sebagai imbalannya, kamu harus mentraktirku nonton, sepulang sekolah besok.”
Maya kehilangan suaranya, kesadarannya. Otaknya melayang di atas langit. Ia tidak menyangka dapat jalan bareng dengan Fabian, berpayungan berdua, dan itu, sangat dekat. Sepanjang jalan ia seperti kesambar geledek, saat Fabian terus terang, mengatakan kalau Mira itu adalah sepupu jauhnya. Namun Fabian melarang Mira untuk memberitahu orang-orang, termasuk Maya. Cerita selanjutnya seperti menohok tenggorokannya sendiri, pria itu tahu perasaan Maya terhadapnya. Cinta pertama pada pandangan pertama.
Entah harus marah atau tidak, Mira telah menceritakan sifat-sifat Maya pada Fabian, selengkap kamus bahasa Indonesia, beserta penerjemahannya. Membuat pria itu menyungingkan senyuman, berkali-kali, saat ia bercerita. Dan Maya menyukai senyuman itu, begitu hangat, dan sepertinya bunga-bunga cinta telah mekar di pematang hati mereka berdua.
“Terima kasih, Mir,” bisiknya pelan seraya berjalan membelah jalan yang basah karena hujan di senja itu.
Shane itu perfecto. Altetis. Charming. Smart. Idola. Dan sayangnya pria itu rebutan gadis geng LIAR sekolahnya. Tak hayalSasha harus melompat mundur saat gadis-gadis itu sedang berkerumun mendekati Shane. Ia tidak punya kesempatan apalagi wewenang untuk merebut perhatian pria itu. Ia seperti kutu buku berjalan. Yang mengikuti kemana bayangannya melangkah.
“Ahh…,” jerit Shasa saat dirinya jatuh ditubruk gadis-gadis geng LIAR yang berlari seperti hendak mengikuti lomba estafet.
“Awas,” teriak salah seorang gadis yang ikut terjerembab saat kakinya menyenggolSasha yang sudah duduk tersungkur di lantai. Gadis itu membelalakan matanya sambil berdiri dan membersihkan roknya yang kotor dan berdebu.
“Dasar CPU berjalan. Mengapa kamu menghalangi jalanku?”
“Ma..af.”
Gadis itu berlalu sambil merepet seperti kereta api, meninggalkan Sasha yang sedang bingung meraba lantai untuk mencari kacamatanya. Yang setebal kaca akuarium rumahnya. Tak seorangpun yang membantunya mencari. Gadis-gadis geng LIAR itu seperti terhipnotis pada Shane. Sedikitpun tidak melirik dan mengubris keberadaan Sasha.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya seorang pria yang berdiri tepat dihadapan Sasha. Dan segera saja menangkap kesusahan Sasha ia pun ikut mencari. Matanya melirik sesuatu. Kemudian melangkah ke samping dan meraih kacamata kelas kakap yang terseret masuk di bawah kursi panjang yang berjejer di koridor sekolah.
Pria itu jongkok dan menggantungkan kacamata Sasha dengan hati-hati dan menariknya berdiri.
“Adakah yang sakit?”
“Tidak.”
“Ahh..” teriak Shasa sehingga salah seorang gadis geng LIAR yang berada di hujung koridor berpaling. Kemudian menyahut dengan garang.
“Itu Shane, dia ada di sana.”
----//-----
Shane menyeret Sasha dengan tergesa-gesa mendaki tangga ke atap gedung sekolah. Dengan nafas yang tersengal-sengal kemudian Shane menguncinya dari depan. Sasha yang masih syok berusaha mengatur nafas dan ketika Shane memandangnya dari dekat. Ia terperanjat dan mundur beberapa langkah. Mulutnya mangap dengan lebarnya. Ia belum pernah berhadapan sedemikian dekat dengan Shane sebelumnya. Dan harus diakui olehnya, Shane sangat tampan. Namun segera saja Sasha menepis pikiran itu. Seharusnya ia sadar, siapa dirinya. Pria seperti Shane tidak mungkin akan jatuh cinta padanya. Gadis CPU berjalan, batinnya.
Shane melemparkan senyum yang paling charming yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Kemudian melangkah maju menghampiri Sasha yang masih kalut oleh adukan pikiran di kepalanya. Tubuhnya mematung, pria itu berhasil menghipnotisnya seperti gadis-gadis geng LIAR yang lain. Shane mengangkat kedua tangannya, menempelkannya di bahu Sasha yang kikuk dan kaku. Lalu ia menyentuh kedua pipi Sasha dengan lembut. Mendekatkan wajahnya. Membuat jantung Sasha berdetak hebat. Nafasnya bergemuruh. Suaranya hilang. Tertelan olehnya berkali-kali. Oh my god, pria itu akan menciumnya sekarang dan ini adalah kesempatan langka alias sekali seumur hidup, pikirnya.
Sasha memeremkan matanya. Memancungkan bibirnya. Ia tidak sabar lagi menantikan first kiss dari pria itu. Namun dugaannya meleset. Shane ternyata melepaskan gagang kacamata yang setebel akuarium rumahnya itu. Sementara Shasa tertimpa malu dan kembali diam membeku. Shane melanjutkan dengan melepas sepasang kunciran rambut Sasha yang culun. Lalu tertawa dan berguman.
“Kamu terlihat cantik. Aku tidak menyangka sebelumnya,” ucap Shane seraya meletakkan kacamata itu pada gantungan telinga Sasha.
“Makasih,” jawab Sasha dengan manjanya. Dan setelah itu mereka berdua berdiri berdampingan menatap ke ruas jalan yang rimbun oleh perpohonan dan beberapa kenderaan yang berseliweran.
Sasha belum pernah seperti ini sebelumnya. Sejak dulu ia selalu takut terjun dalam roman percintaan. Berpacaran seperti layaknya kawula muda. Mengenal dan dan saling berbagi kedekatan. Baginya semua itu adalah mustahil. Melihat dirinya sendiri di depan cermin membuatnya yakin tak ada pria yang bakal menyukai dirinya. Namun ternyata dugaannya meleset. Ia telah menemukan cinta sejati pada pria itu dan menurutnya Shane juga demikian.
Rupanya malam itu Sasha mendapat ajakan ngedate dari Shane. Berdua mereka menghabiskan diri untuk nonton dan jalan-jalan di mall. Sasha merasakan hatinya seperti bunga yang bersemi di musim gugur. Bergandengan tangan dengan Shane ternyata bukan mimpi.
----//----
“Apa? Shane punya gebetan baru.”
“Ia. Positif. Dan tau gak sapa cewek barunya itu?”
“Sapa, sapa?”
“CPU berjalan.”
“Hahh..”
Akhirnya rumor ganas beredar di seantero jagat sekolah. Heboh dan mengejutkan. Belum lagi ditambah bumbu penyedap di sana sini. Membuat aromanya menyeruak, menarik simpati di antara orang-orang yang pro pada Sasha. Sedangkan cibiran, kemarahan serta amukan muncul dari gadis geng LIAR yang merupakan fans fanatik Shane.
Sejak masuk, Sasha merasa ada yang aneh dengan tatapan orang-orang yang diam-diam mengamatinya. Tiba-tiba ia merasa merinding. Ketakutan. Kegelisahan mulai menyelimuti dirinya. Namun sebelum semuanya menyeruak, Sasha teringat dengan janji Shane semalam yang tidak akan membiarkannya terluka. Selalu berada disisinya. Melindungi dirinya.
“Aduh,” teriak Sasha ketika kakinya dijegal oleh gadis geng LIAR yang telah menantinya di kamar mandi sebelum pelajaran dimulai. Ia terjatuh ke lantai. Kacamata keramatnya terjatuh. Sasha dapat mendengar suara kaca yang pecah. Bukan setelah jatuh tapi karena terinjak oleh tapak sepatu seseorang. Ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya, pandangannya kabur tanpa kacamata.
Tiba-tiba saja guyuran air dingin kran menguyur sekujur tubuhnya. Kemudian salah satu dari mereka menarik dan menjambak rambutnya dengan kasar dari belakang. Menyeretnya dengan kasar hingga tubuh Sasha terangkat berdiri. Seorangnya lagi menghujamkan tamparan yang membabi buta padanya. Menyiksanya tanpa belas kasihan. Sasha berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Ia malah mendapat siksaan yang lebih liar dari sebelumnya. Mereka menyumbat mulutnya dengan sapu tangan, hingga suara Sasha kembali tertelan dalam permainan mereka. Namun setelah mendengar bel masuk berbunyi, barulah mereka melepaskan dirinya. Menghempaskan tubuh Sasha yang sudah lebam ke lantai. Mereka lantas mengancam Sasha agar tidak buka mulut. Sebab mereka tidak akan mentolerirnya.
Sasha meringkuk dan memeluk dirinya. Menangis dengan sejadi-jadinya. Hingga salah seorang guru menemukannya di sana. Membawanya ke ruangan perawatan. Namun ia hanya diam ketika ditanya siapa pelakunya. Sehingga membuat para guru tidak dapat memprosesnya lebih lanjut. Melihat Sasha yang syok. Membuat Kepala Sekolah segera menelepon orang tuanya. Sesampainya di rumah. Sasha menolak permintaan ortunya untuk memperkarakan kejadian yang menimpanya. Ia beralasan semua itu akibat kelalaiannya.
Sasha duduk meringkuk di atas kasurnya. Tak henti menangis. Meratapi nasibnya yang tragis. Miris sebab keberaniannya telah pudar. Kepercayaanya telah luntur. Janji Shane untuk melindungi dirinya, ternyata hanya bual-bualan belaka. Hatinya telah hancur berkeping-keping. Cintanya kini berada di ujung tanduk. Siap untuk terjun dan lenyap dalam jurang yang kelam.
----//----
Dua hari, Sasha mengurung diri. Tidak sekolah. Tidak nafsu makan. Dan tidak melakukan apa-apa. Pandangannya kosong. Jiwanya seperti tertarik dalam dimensi lain. Hanya jantungnya yang berdetak. Selainnya kosong melompong tanpa gairah dan semangat.
“Non, ada telepon dari mamanya Shane,” bisik pembantunya sambil menyodorkan telepon itu ke arah Sasha.
“Iya.”
“Halo,..apa,.. ya saya akan ke sana sekarang.”
Sasha menutup teleponnya. Bergegas ganti pakaian. Ia tidak lagi memakai kacamata sebab ibunya telah membeli contact lens untuknya. Lalu segera melaju ke rumah sakit diantar oleh supirnya. Lima belas menit kemudian Sasha tiba di sana. Memasuki lift rumah sakit ke lantai empat. Kemudian berjalan dan berhenti di depan pintu. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu besi itu. Tampak Shane dan ibunya segera menatapnya. Melihat kondisi Shane membuat Sasha tak dapat membendung air matanya. Seluruh rasa sakit kemarin itu hilang seketika. Entah mengapa ia seperti membandingkan rasa sakitnya dengan keadaan Shane sekarang. Miris dan menyakiti hatinya.
“Maaf. Shane tidak dapat meneleponmu sebab ia harus segera operasi setelah kecelakaan kemarin,” ucap ibu Shane dengan lemah lembut.
“Maafkan aku, karena tidak menepati janjiku padamu,” timpa Shane dengan air mata yang mengucur deras di matanya.
“Kemarilah,” pinta Shane pada Sasha. Kemudian gadis itu mendekat. Shane mengangkat sebelah tangannya yang tidak di perban. Menyodorkan pelukan. Dan Sasha segera mengambil kesempatan untuk membenamkan kepalanya di atas tubuh Shane.
Sasha menemani Shane seharian. Shane terlihat terpukul sewaktu mendengar kabar yang menimpa Sasha. Dan ia menyesal. Karena ia tidak dapat melindungi gadis yang ia cintai. Membiarkannya sendiri, terluka dan menangis.
Setelah dipaksa maka Sasha akhirnya mengaku bahwa ia telah dikerjain oleh gadis geng LIAR sekolahnya.
“Besok tante akan ke sekolah. Mereka harus bertanggung jawab dengan tindakan mereka,” kata mamanya Shane.
“Jangan khawatir. Mamaku adalah pengacara. Dan ia pasti bisa menegakkan keadilan untukmu,” sambung Shane dengan senyum mengambang.
Gadis geng LIAR dibubarkan. Mereka akhirnya mengaku dan diputus untuk dikeluarkan dari sekolah. Namun terakhir diurungkan karena permohonan Sasha pada Kepala Sekolah.
Hiruk pikuk terdengar riuh di setiap telinga murid-murid yang berlalu-lalang di lorong sekolah. Perasaan gugup bercampur-aduk dengan kecemasan yang berlebihan, mendera ketika pandangan mereka menuju ke arah mading sekolah yang menempelkan pengumuman kelulusan, membuat nafas mereka menderu seiring detak jantung mereka. Teriakan histeris hingga isak tangis menghiasi wajah setiap murid yang namanya tertera dalam pengumuman, yang mengartikan kelulusan mereka mutlak telah diberikan oleh sekolah. Ada beberapa murid yang diam, terpaku linglung, bertanya-tanya, mengapa nama mereka tidak tertera di sana? Pengumuman kelulusan menjadi momok paling menakutkan bagi sebagian orang, yang mungkin telah berusaha keras mengukir sebuah prestasi di dalam dinding sekolah namun apa boleh buat jika akhirnya mereka kecewa dan kembali menerima kenyataan pahit, mengenyam bangku sekolah untuk setahun lagi.
“Lihat, Mia mendapatkan juara umum,” ucap seorang murid cewek berkepang dua menunjuk mading sekolah, membuat puluhan pasang mata ikut melihat.
“Tidak mungkin!!” teriak gadis berkacamata silinder tebal yang berdiri di belakang kerumunan.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Mia dapat mengalahkan aku? Semua hanya gurauan, ya gurauan, sebab, sebab aku telah belajar lebih giat dari siapapun yang ada di sini. Mengapa? Mengapa?”
Gadis berkacamata silinder tebal itu berhambur menjauh dari kerumunan, kemudian mengacak-acak rambut hitamnya, berseru dengan keras kekalahan pahit yang baru menimpanya beberapa tahun ini. Posisi kedua membuatnya shock setengah mati, ingin rasanya ia melompat dari lantai empat untuk menebus kekalahannya yang pahit. Ia telah kehilangan semangat, rasa bangga menjadi yang pertama, semuanya karena ia tidak rela, sebab yang mengalahkan dirinya adalah seorang gadis yang dianggapnya tidak pantas untuk meraih gelar kehormatan tersebut, menjadi orang paling pintar di sekolahnya sekarang.
Mia duduk dengan anggun di taman sekolah, merapatkan kakinya, menekan roknya dengan sebelah tangan sedangkan jari-jari tangan yang lain menyisir rambut panjangnya yang lembut, berusaha untuk bertahan dengan angin sepoi yang berhembus menerpa sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia merasa ingin menangis, ia sangat menderita, batinnya terasa terbakar, tersayat oleh pilu kesedihan yang mendalam, semua karena pria itu, yang berada untuknya dan selalu melindunginya tanpa ia sadari. Dan sekarang betapa ia ingin melihat pria itu sekali lagi, orang yang telah ia sia-siakan dan konsekuensinya ia akan menderita sepanjang hidupnya. Tiba-tiba kenangan itu muncul menghampiri Mia tanpa ia bisa mengelak, dan sekali lagi ia kembali terlarut dalam pusaran kejadian masa lalu.
Two Years Ago
Langit sedang benderang, terik memanasi bumi seperti kompor gas yang siap meledak kapan saja, tapi itu tidak terlalu berlebihan, jika dipikir-pikir lagi semua akibat ulah manusia itu sendiri, sombong dan terlanjur manja untuk menghamburkan seisi dunia tanpa memikirkan akibatnya. Jika tidak diimbangi dengan keseriusan untuk menjaganya agar tetap aktif berproduksi, maka ramalan 2012 mungkin akan benar menjadi kenyataan dan kita siap-siap akan menjadi bulan-bulanan dunia di akhir zaman.
Pak Joko sedang bertutur panjang lebar mengenai pelajaran Geografi yang telah dikuasainya dengan matang sejak menjadi guru di sekolah ini, baginya ramalan suku Maya bukan isapan jempol belaka, apalagi didukung dengan berbagai perihal riset ilmiah yang membingungkan, namun seratus persen akurat, maka sudah jelas ia sangat percaya ramalan itu akan menjadi kenyataan.
“Apes deh, hari gini masih ngomongin kiamat, capek dehh,”
“Betul, betul, betul,..”
“Jika kiamat itu datang maka, nasib lagi apes, sebab gue belum kawin..,”
“Huh..huhh..,”
“Pak, yang lain napa, kok tiap kali masuk bahasin 2012, emang rencananya Bapak mau merit tahun segitu?”
“Betul, betul, betul..,”
“Wah..ha..ha,”
“Stopp… sudah anak-anak, tapi jika kita mengerti dan segera mengambil tindakan maka…,”
“Yahh, dilanjutin lagi, capek dehh,”
“Huh..huhh…,”
Keriuhan begitu terasa di kelas Geografi, murid-murid merasa begitu jengkel karna Pak Joko selalu mengungkit masalah 2012 di setiap kelas yang ia berikan, berturut-turut tanpa mengenal bosan dan lelah, beliau begitu bersemangat untuk menceritakan hal-hal yang berbau dengan suku Maya, dan jika diperlukan maka pelajaran tentang yang satu itu akan menemani soal-soal ujian yang bakal dikeluarkan untuk ulangan semester. Bagi murid-murid yang pintar hal itu sangat menjengkelkan, namun bagi murid-murid lain, itu adalah berkah, sebab jawaban itu telah melekat seperti perangko di dalam kepala mereka, dan kenyataannya jawaban untuk soal yang satu ini selalu membantu nilai mereka. Bahkan Pak Joko tak tanggung-tanggung memberikan nilai sempurna jika soal yang satu ini dikerjakan dengan karangan bebas sesuka hati alias diberi penjelasan panjang lebar.
“Tok, tok, tok....”
“Iya, silahkan masuk.”
Sejenak suasana kelas menjadi hening, suara murid-murid itu seperti teredam di dalam kaset pita suara mereka. Wajah mereka tampak terkejut melihat sosok kurus tinggi
memakai kacamata telah berdiri di ambang pintu. Wajah orang itu terlihat sangat pucat, ia tampak lebih tua dari mereka, seperti seorang senior yang kekurangan gizi atau yang sedang didera stress berat, kedua bola matanya tampak suram dan warna hitam disekitar kantong matanya melukiskan dirinya sebagai seorang pesakitan.
“J.J., apakah itu namamu?” tanya Pak Joko saat membaca sepucuk surat yang diserahkan murid itu kepadanya.
Murid itu mengangguk dan kemudian mengikuti Pak Joko ke dalam barisan kursi murid-murid, menunjukkan tempat kosong yang disebelahnya duduk seorang gadis berambut panjang.
“Mia, dia akan duduk bersamamu, kuharap kaubisa membantunya.”
“Nah, kamu bisa duduk di sebelahnya.”
Gadis yang bernama Mia itu tampak sangat tidak tertarik, ia tidak menyahut saat pria itu memanggilnya. Anehnya sepanjang pelajaran hari ini, Mia merasa pria itu terus memperhatikan dirinya, namun ia toh tidak peduli.
Two Weeks Later
Mia merasa ada yang aneh dengan pria itu, sejak ia masuk ke kelas ini, belum sekalipun ia mendengar pria itu meminjam catatan ataupun bertanya mengenai pelajaran sekolah kepadanya. Dan setelah dua minggu ia berada di sini tak seorangpun yang berani mendekatinya, ataupun berteman dengannya. Mia merasakan sesuatu yang miris menyayat kalbunya hari ini, betapa ia telah tega menghiraukan pria itu beberapa minggu ini, tanpa mau bercakap ataupun memandang wajah pria itu, walau hanya sekilas. Sebenarnya Mia merasa ia tidak perlu melakukan apa-apa, sebab jika bertanya mengenai pelajaran sekolah kepadanya, maka ia juga harus angkat tangan karena beberapa bulan ini ia susah untuk berkonsentrasi dalam pelajaran, sering kali ia ketiduran di kelas dan catatannya yang carut marut tak mungkin ia pinjamkan untuk pria itu.
Pria itu tidak datang hari ini, dan tidak seorangpun yang membicarakannya, mereka menganggap dirinya seperti ‘invisible man’ atau manusia yang tak tampak, yang tidak perlu untuk dihiraukan apalagi diajak berbicara seperti layaknya teman. Terkadang mereka melihat pria itu sebagai pesakitan yang harus dijauhi. Mia merasa aneh, melihat sosok pria asingitu tidak berada di sebelahnya hari ini, hatinya bertanya-tanya apakah pria itu telah menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan sekolah ini untuk selamanya. Masa bodoh dengan semua itu, pria itu bukan siapa-siapa, ia hanyalah orang asing yang tidak dikenal olehnya.
Lonceng bermain dan murid-murid telah membentuk antrian panjang di kantin, sedang Mia hanya duduk di taman, menyesap minuman botol yang berisi air mineral yang dibawanya dari rumah. Kemudian berhenti minum ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan saat Pak Joko berbicara kepada Kepala Sekolah yang duduk tepat di belakang, sambil memunggungi Mia.
“Murid itu, maksudku Jojo, bagaimana keadaannya, Pak? Bukankah ia terlalu mengambil resiko untuk bersekolah padahal ada kanker ganas sedang menggorogoti kepalanya?”
“Mungkin ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, dokter telah angkat tangan dan itu berarti ia tidak akan selamat, hanya mukjizatlah yang dapat menyembuhkan dirinya.”
“Aneh, mengapa ia malah memilih sekolah di sini dan memilih duduk bersama Mia?”
Kedua pria itu berbicara tanpa menyadari Mia telah mendengar semua percakapan mereka. Mia menebak-nebak apa yang sedang mereka bicarakan, di sekitar suara yang membisingkan, hanya beberapa kalimat yang dapat ditangkap olehnya. Jojo, kanker dan dirinya. Tanpa berpikir lagi ia berdiri dan berteriak sedikit kencang ke arah kedua pria yang memunggunginya sekarang. Dan mereka berbalik dengan wajah tampak terkejut.
“Apa yang kalian ucapkan? Jojo, siapa pria itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan saya?”
“Tenang, Mia. Kami tidak sedang membicarakan siapa-siapa.” terang Pak Jojo dibarengi dengan anggukan pelan Pak Kepala Sekolah.
“Tidak, kalian pasti bohong, jelas saya mendengarkan kalian menyebut nama Jojo dan saya. Kumohon bapak dapat memberitahu saya sekarang.”
Setelah berusaha menenangkan Mia yang berteriak, sehingga membuat murid-murid yang berada di sekitar melihat dengan tanda-tanya. Pak Jojo dan Kepala Sekolah segera menggiring Mia ke kantor mereka. Tidak ada pilihan lain, mereka memutuskan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, terutama siapa jati diri Jojo sebenarnya.
Mia berlari, terisak keluar dari kantor Kepala Sekolah, setelah menerima penjelasan dari kedua pria itu. Betapa tidak, setelah mendengar semuanya, ia akhirnya menyadari sesuatu, pria asing yang duduk bersamanya sejak dua minggu yang lalu, tidak lain dan tidak bukan adalah Jojo, pria yang sangat ia cintai, cinta pertamanya yang begitu saja raib dari kehidupannya, hingga untuk melupakan pria itu, dirinya memutuskan untuk berpindah sekolah. Dan pria itu sekarang sedang sekarat, menunggu ajal, tapi sebelum itu ia sangat ingin bertemu dengan Mia untuk terakhir kalinya. Mia mungkin sangat menyesal karena selama ini tidak menghiraukan pria itu, jika saat itu ia sadar dan mencoba mencari siapa jati diri pria itu, mungkin semuanya tidak akan begini. Ia akan sangat bahagia menemani pria itu, orang yang sangat ia rindukan dan cintai dengan segenap jiwanya, walau pria itu berada di ujung nafas terakhirnya.
Rintik hujan telah membasahi seluruh jalanan yang tadinya kering kerontang. Mia telah diberi izin keluar sekolah. Ketika di dalam mobil, Mia tidak dapat menahan isak tangis, air matanya mengucur kian deras, jatuh membasahi rok abu-abunya hingga membuat dua lingkaran yang kian merembes lebar. Nafasnya terasa sangat berat. Di ingatannya sekarang berkelebat wajah Jojo yang masih sangat muda, yang sedang tersenyum kepadanya, saat pria itu menolongnya ketika hampir tenggelam di kolam renang, ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Juga saat pria itu memberikan semangat padanya di kejuaraan lari nasional antar sekolah yang menjadi satu-satunya kelihaian Mia, dan saat Mia sedang mengalami kemunduran dalam pendidikannya, pria itu juga yang mengajarinya metode belajar instan yang unik, menghafal pelajaran dengan memakai ikat kepala yang bertuliskan ‘semangat’ sambil menghadap cermin, dan Jojo selalu berkata, “Jika ada orang yang harus memberikanmu semangat, dirinya adalah dirimu sendiri, dan bayanganmu di cermin itu akan menjadi penyemangat dirimu.”
Sesampainya di rumah sakit, Mia segera berlari menuju ke lobi, menanyakan kepada perawat yang sedang bertugas, kamar Jojo yang sedang dirawat. Kemudian setelah berada di pintu kamar Jojo dirawat, Mia hanya berdiri mematung, ia merasa sangat berat untuk bertemu dengannya, ia tidak ingin melihat kondisi pria itu sekarang, melihat puluhan alat bantu sedang terpasang di dadanya, selang-selang yang menjadi penompang hidupnya dan penyakit sialan yang menggerogoti seisi tubuhnya. Ia tidak rela dan marah kepada Jojo karena menghadapi semua itu tanpa dirinya. Namun Mia segera menepis segala perasaan yang menyambanginya, sekarang ia harus memberi pria itu semangat seperti yangpernah dilakukan dulu terhadapnya.
Mia terkejut saat masuk ke dalam ruangan, ketika melihat apa yang menjadi bayangannya tadi tidak menjadi kenyataan, namun ia bisa merasakan penderitaan kedua orang tuanya, yang sedang berdiri di sana, melihat anak semata wayang mereka sedang sekarat, tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Tante, Om,” sapa Mia dan kedua orang tua Jojo segera mengangguk lemah kemudian menyeret langkah mereka keluar dari ruangan, membiarkan Mia dan Jojo berdua di sana, berbicara setelah hampir beberapa tahun lamanya mereka tidak bertemu.
“Mia.”
Pria itu terbaring, lemah dan kini tanpa bantuan alat sedikitpun, ia merasa semua itu tidak penting lagi, ia merasa waktunya akan berakhir sebentar lagi, dan ia tidak akan menyiakan waktu ini begitu saja. Mia menangis, melangkah dengan berat, mendekat, menjatuhkan wajahnya ke dada pria itu, yangmenyambutnya dengan hati yang sangat sakit, perasaan yang bercampur aduk, ia meraung dan menangis dengan pilu, seperti seseorang yang tidak ingin merelakan kebahagiaannya terenggut oleh kematian, yang ingin merasakan kembali kenangan di masa lalunya yang indah. Ia terlanjur mencintai Mia dan begitupula sebaliknya.
Jojo didorong dengan kursi roda, menuju ke taman. Hujan rintik itu tidak ada lagi, meninggalkan bau tanah yang basah. Bunga serta rerumputan kini bercahaya, terbilas butiran air hujan yang memantulkan cahaya mentari yang akan segera meredup di hujung senja. Mia membungkuk, memeluk leher Jojo dari belakang, kemudian bersama mereka menatap mentari senja itu dalam diam. Wajah Mia tampak tegang, pucat dan khawatir, tangannya terasa sangat dingin, tapi entah mengapa Jojo dapat memberikan kehangatan ketika ia memeluknya. Detik-detik itu terasa sangat berharga sekaligus menyakitkan, ia merasakan akan kehilangan pria itu sekali lagi, dan kali ini untuk selamanya.
“I love you, Mia,” bisik pria itu ke dalam telinga Mia sebelum nafas terakhir itu memutuskan kebahagiaan mereka. Gadis itu menangis, memeluk Jojo seerat mungkin, dan ia harus siap merelakan pria itu pergi untuk selamanya.
Present Day
Mia membaca surat terakhir yang ditulis Jojo sebelum ia menemui ajalnya. Kemudian merasakan seolah tulisan itu berbicara kepadanya,
“Apa kabar, Mia. Lama kita tidak bertemu. Mungkin dirimu sudah melupakan diriku saat ini. Apakah kamu masih marah? Oh tentu saja, buktinya kamu tidak mau melihatku saat aku memasuki kelasmu waktu itu. Dan tidak menyahut panggilanku saat aku duduk di sebelah bangkumu. Aku tidak tahu bagaimana hatimu sekarang, mungkin dirimu tidak dapat memaafkan diriku, soal pernyataan cintamu yang kutolak mentah-mentah, soal diriku yang berpura-pura tidak menghiraukan dirimu lagi saat itu. Dan ketika diriku tiba-tiba lenyap dari hatimu dan kehidupanmu.
Semua kulakukan bukan untuk menyakitimu, terus terang aku terlanjur cinta padamu, bahkan saat pertama kali kita jumpa, mungkin kamu sudah tidak mengingatnya, bocah kecil yang terjatuh saat berlari dan kemudian kamu mengendongnya seperti anak cewek tomboy ke dalam ruang kesehatan. Sejak itu aku telah memutuskan untuk membalas kebaikan hatimu dan Tuhan mengizinkan aku untuk menolongmu saat dirimu hampir tenggelam di dalam kolam renang. Dan kita mulai berteman sejak saat itu.
Aku mencintaimu, tentu saja, jika dirimu tidak percaya maka kamu bisa mempercayai-Nya, seperti diriku mempercayai-Nya, namun aku tidak akan menyatakan perasaanku padamu jika pernyataan itu akan berhujung pada penyesalan atas penderitaan dan hilangnya kebahagiaanmu.
Ya, penyakit sialan ini telah menjalariku sejak kecil, walau tidak begitu kelihatan di awal mulanya, tapi perlahan namun pasti usiaku akan berakhir di usia mudaku yang tidak bakal lama lagi. Pernyataan cintamu sungguh membuatku terharu sekaligus miris, terharu karena dirimu begitu mencintaiku, begitu juga sebaliknya, dan miris karena cintamu bukan diperuntukan bagiku. Aku berusaha untuk tidak menghalangi kebahagianmu, walau hatiku sakit namun kuputuskan untuk meninggalkan kehidupanmu untuk selamanya. Dan membawa kenangan kita untuk kupendam dalam perjalananku menuju ajal.
Namun penyesalan rupanya selalu datangnya terlambat, aku menyadari menghabiskan sisa hidupku denganmu mungkin dapat memperpanjang usiaku, aku bahkan harus menjadi orang yang lebih egois, mempertahankan dirimu untukku. Dan ketika dirimu melepaskan tanganku maka aku akan rela, pergi untuk selamanya.
Tapi aku tidak melakukannya, tidak berani, seperti seorang pengecut diriku terus bersembunyi melawan takdir. Dan sejak kematian terasa begitu dekat, akhirnya diriku memutuskan untuk bertemu lagi denganmu, untuk yang terakhir kali, dan kali ini tetap sama, tanpa kata pisah tentunya.
Jika kamu sudah membaca surat ini, maka aku ingin kamu tetap tegar, kumohon maafkan aku.”
“Bagiku, cintamu adalah anugerah yang terindah yang dihadiahkan oleh-Nya.”
“I love you, Mia”
Mia mendekap surat itu erat di dadanya, tidak perduli dengan berita juara umum yang ia dapatkan dengan metode belajar instan unik yang diajarkan Jojo kepadanya. Ketika angin kembali menerpanya ia merasa Jojo telah duduk disampingnya, tersenyum dan tanpa sadar, Mia menempelkan kepalanya di bahu pria itu.