Sabtu, 25 Desember 2010

Sasha, Fall in luv

by : Radi Chow

Apa yang diharap oleh Sasha pada Shane?
Shane itu perfecto. Altetis. Charming. Smart. Idola. Dan sayangnya pria itu rebutan gadis geng LIAR sekolahnya. Tak hayal Sasha harus melompat mundur saat gadis-gadis itu sedang berkerumun mendekati Shane. Ia tidak punya kesempatan apalagi wewenang untuk merebut perhatian pria itu. Ia seperti kutu buku berjalan. Yang mengikuti kemana bayangannya melangkah.
“Ahh…,” jerit Shasa saat dirinya jatuh ditubruk gadis-gadis geng LIAR yang berlari seperti hendak mengikuti lomba estafet.
“Awas,” teriak salah seorang gadis yang ikut terjerembab saat kakinya menyenggol Sasha yang sudah duduk tersungkur di lantai. Gadis itu membelalakan matanya sambil berdiri dan membersihkan roknya yang kotor dan berdebu.
“Dasar CPU berjalan. Mengapa kamu menghalangi jalanku?”
“Ma..af.”
Gadis itu berlalu sambil merepet seperti kereta api, meninggalkan Sasha yang sedang bingung meraba lantai untuk mencari kacamatanya. Yang setebal kaca akuarium rumahnya. Tak seorangpun yang membantunya mencari. Gadis-gadis geng LIAR itu seperti terhipnotis pada Shane. Sedikitpun tidak melirik dan mengubris keberadaan Sasha. 
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya seorang pria yang berdiri tepat dihadapan Sasha. Dan segera saja menangkap kesusahan Sasha ia pun ikut mencari. Matanya melirik sesuatu. Kemudian melangkah ke samping dan meraih kacamata kelas kakap yang terseret  masuk di bawah kursi panjang yang berjejer di koridor sekolah.
Pria itu jongkok dan menggantungkan kacamata Sasha dengan hati-hati dan menariknya berdiri.
“Adakah yang sakit?”
“Tidak.”
“Ahh..” teriak Shasa sehingga salah seorang gadis geng LIAR yang berada di hujung koridor berpaling. Kemudian menyahut dengan garang.
“Itu Shane, dia ada di sana.”

----//-----

Shane menyeret Sasha dengan tergesa-gesa mendaki tangga ke atap gedung sekolah. Dengan nafas yang tersengal-sengal kemudian Shane menguncinya dari depan. Sasha yang masih syok berusaha mengatur nafas dan ketika Shane memandangnya dari dekat. Ia terperanjat dan mundur beberapa langkah. Mulutnya mangap dengan lebarnya. Ia belum pernah berhadapan sedemikian dekat dengan Shane sebelumnya. Dan harus diakui olehnya, Shane sangat tampan. Namun segera saja Sasha menepis pikiran itu. Seharusnya ia sadar, siapa dirinya. Pria seperti Shane tidak mungkin akan jatuh cinta padanya. Gadis CPU berjalan, batinnya.
Shane melemparkan senyum yang paling charming yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Kemudian melangkah maju menghampiri Sasha yang masih kalut oleh adukan pikiran di kepalanya. Tubuhnya mematung, pria itu berhasil menghipnotisnya seperti gadis-gadis geng LIAR yang lain. Shane mengangkat kedua tangannya, menempelkannya di bahu Sasha yang kikuk dan kaku. Lalu ia menyentuh kedua pipi Sasha dengan lembut. Mendekatkan wajahnya. Membuat jantung Sasha berdetak hebat. Nafasnya bergemuruh. Suaranya hilang. Tertelan olehnya berkali-kali. Oh my god, pria itu akan menciumnya sekarang dan ini adalah kesempatan langka alias sekali seumur hidup, pikirnya.
Sasha memeremkan matanya. Memancungkan bibirnya. Ia tidak sabar lagi menantikan first kiss dari pria itu. Namun dugaannya meleset. Shane ternyata melepaskan gagang kacamata yang setebel akuarium rumahnya itu. Sementara Shasa tertimpa malu dan kembali diam membeku. Shane melanjutkan dengan melepas sepasang kunciran rambut Sasha yang culun. Lalu tertawa dan berguman.
“Kamu terlihat cantik. Aku tidak menyangka sebelumnya,” ucap Shane seraya meletakkan kacamata itu pada gantungan telinga Sasha.
“Makasih,” jawab Sasha dengan manjanya. Dan setelah itu mereka berdua berdiri berdampingan menatap ke ruas jalan yang rimbun oleh perpohonan dan beberapa kenderaan yang berseliweran.
Sasha belum pernah seperti ini sebelumnya. Sejak dulu ia selalu takut terjun dalam roman percintaan. Berpacaran seperti layaknya kawula muda. Mengenal dan dan saling berbagi kedekatan. Baginya semua itu adalah mustahil. Melihat dirinya sendiri di depan cermin membuatnya yakin tak ada pria yang bakal menyukai dirinya. Namun ternyata dugaannya meleset. Ia telah menemukan cinta sejati pada pria itu dan menurutnya Shane juga demikian.
Rupanya malam itu Sasha mendapat ajakan ngedate dari Shane. Berdua mereka menghabiskan diri untuk nonton dan jalan-jalan di mall. Sasha merasakan hatinya seperti bunga yang bersemi di musim gugur. Bergandengan tangan dengan Shane ternyata bukan mimpi.

----//----

“Apa? Shane punya gebetan baru.”
“Ia. Positif. Dan tau gak sapa cewek barunya itu?”
“Sapa, sapa?”
“CPU berjalan.”
“Hahh..”
Akhirnya rumor ganas beredar di seantero jagat sekolah. Heboh dan mengejutkan. Belum lagi ditambah bumbu penyedap di sana sini. Membuat aromanya menyeruak, menarik simpati di antara orang-orang yang pro pada Sasha. Sedangkan cibiran, kemarahan serta amukan muncul dari gadis geng LIAR yang merupakan fans fanatik Shane.
Sejak masuk, Sasha merasa ada yang aneh dengan tatapan orang-orang yang diam-diam mengamatinya. Tiba-tiba ia merasa merinding. Ketakutan. Kegelisahan mulai menyelimuti dirinya. Namun sebelum semuanya menyeruak, Sasha teringat dengan janji Shane semalam yang tidak akan membiarkannya terluka. Selalu berada disisinya. Melindungi dirinya.
“Aduh,” teriak Sasha ketika kakinya dijegal oleh gadis geng LIAR yang telah menantinya di kamar mandi sebelum pelajaran dimulai. Ia terjatuh ke lantai. Kacamata keramatnya terjatuh. Sasha dapat mendengar suara kaca yang pecah. Bukan setelah jatuh tapi karena terinjak oleh tapak sepatu seseorang. Ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya, pandangannya kabur tanpa kacamata.
Tiba-tiba saja guyuran air dingin kran menguyur sekujur tubuhnya. Kemudian salah satu dari mereka menarik dan menjambak rambutnya dengan kasar dari belakang. Menyeretnya dengan kasar hingga  tubuh Sasha terangkat berdiri. Seorangnya lagi menghujamkan tamparan yang membabi buta padanya. Menyiksanya tanpa belas kasihan. Sasha berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Ia malah mendapat siksaan yang lebih liar dari sebelumnya. Mereka menyumbat mulutnya dengan sapu tangan, hingga suara Sasha kembali tertelan dalam permainan mereka. Namun setelah mendengar bel masuk berbunyi, barulah mereka melepaskan dirinya. Menghempaskan tubuh Sasha yang sudah lebam ke lantai. Mereka lantas mengancam Sasha agar tidak buka mulut. Sebab mereka tidak akan mentolerirnya.
Sasha meringkuk dan memeluk dirinya. Menangis dengan sejadi-jadinya. Hingga salah seorang guru menemukannya di sana. Membawanya ke ruangan perawatan. Namun ia hanya diam ketika ditanya siapa pelakunya. Sehingga membuat para guru tidak dapat memprosesnya lebih lanjut. Melihat Sasha yang syok. Membuat Kepala Sekolah segera menelepon orang tuanya. Sesampainya di rumah. Sasha menolak permintaan ortunya untuk memperkarakan kejadian yang menimpanya. Ia beralasan semua itu akibat kelalaiannya.

Sasha duduk meringkuk di atas kasurnya. Tak henti menangis. Meratapi nasibnya yang tragis. Miris sebab keberaniannya telah pudar. Kepercayaanya telah luntur. Janji Shane untuk melindungi dirinya, ternyata hanya bual-bualan belaka. Hatinya telah hancur berkeping-keping. Cintanya kini berada di ujung tanduk. Siap untuk terjun dan lenyap dalam jurang yang kelam.

----//----

Dua hari, Sasha mengurung diri. Tidak sekolah. Tidak nafsu makan. Dan tidak melakukan apa-apa. Pandangannya kosong. Jiwanya seperti tertarik dalam dimensi lain. Hanya jantungnya yang berdetak. Selainnya kosong melompong tanpa gairah dan semangat.
“Non, ada telepon dari mamanya Shane,” bisik pembantunya sambil menyodorkan telepon  itu ke arah Sasha.
“Iya.”
“Halo,..apa,.. ya saya akan ke sana sekarang.”
Sasha menutup teleponnya. Bergegas ganti pakaian. Ia tidak lagi memakai kacamata sebab ibunya telah membeli contact lens untuknya. Lalu segera melaju ke rumah sakit diantar oleh supirnya. Lima belas menit kemudian Sasha tiba di sana. Memasuki lift rumah sakit ke lantai empat. Kemudian berjalan dan berhenti di depan pintu. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu besi itu. Tampak Shane dan ibunya segera menatapnya. Melihat kondisi Shane membuat Sasha tak dapat membendung air matanya. Seluruh rasa sakit kemarin itu hilang seketika. Entah mengapa ia seperti membandingkan rasa sakitnya dengan keadaan Shane sekarang. Miris dan menyakiti hatinya.
“Maaf. Shane tidak dapat meneleponmu sebab ia harus segera operasi setelah kecelakaan kemarin,” ucap ibu Shane dengan lemah lembut.
“Maafkan aku, karena tidak menepati janjiku padamu,” timpa Shane dengan air mata yang mengucur deras di matanya.
“Kemarilah,” pinta Shane pada Sasha. Kemudian gadis itu mendekat. Shane mengangkat sebelah tangannya yang tidak di perban. Menyodorkan pelukan. Dan Sasha segera mengambil kesempatan untuk membenamkan kepalanya di atas tubuh Shane.
Sasha menemani Shane seharian. Shane terlihat terpukul sewaktu mendengar kabar yang menimpa Sasha. Dan ia menyesal. Karena ia tidak dapat melindungi gadis yang ia cintai. Membiarkannya sendiri, terluka dan menangis.
Setelah dipaksa maka Sasha akhirnya mengaku bahwa ia telah dikerjain oleh gadis geng LIAR sekolahnya.
“Besok tante akan ke sekolah. Mereka harus bertanggung jawab dengan tindakan mereka,” kata mamanya Shane.
“Jangan khawatir. Mamaku adalah pengacara. Dan ia pasti bisa menegakkan keadilan untukmu,” sambung Shane dengan senyum mengambang.
Gadis geng LIAR dibubarkan. Mereka akhirnya mengaku dan diputus untuk dikeluarkan dari sekolah. Namun terakhir diurungkan karena permohonan Sasha pada Kepala Sekolah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar