Minggu, 12 Desember 2010

Five Things make me ‘BETE’


by : Radi Chow

Pagi yang ngebosenin, cuaca panas dengan teriknya yang giat menyengat, membuat gue gerah setengah mati. Napa sih orang-orang pada tetap nyante memanggang kulit mereka?  Gue menatap ke sekeliling ruangan kelas, kosong melompong, hanya tinggal daku seorang diri,  mengumpat kesal dengan panas. Kemana semua orang?

Mereka semua pada ‘break’, menggosip dan ngoceh tak jelas di luar sana, berdesak dan bergulat ria di kantin demi sebungkus gorengan dan sebotol minuman ringan. Bukankah akan menguras banyak tenaga? Dan mengingatnya saja sudah membuatku merinding setengah mati.  Keringat yang bercucuran dengan aroma terapi bakal menyeruak, bercampur dengan udara, kemudian, nafsu makanku bakal hilang selama berminggu-minggu lamanya. Lalu dimana Pak Moon, sang penjual ice-cream pada jam segini?

“Pak Moon sedang pulang kampung, mungkin sebulan lagi ia baru akan menggelar dagangannya.” Begitulah kabar burung terakhir yang berbisik di telingaku. Sungguh hatiku sangat sedih, sakit mendengarnya, lidahku terasa keluh, air mataku hampir saja menetes tapi gak jadi, sebab kan sayang kalo terbuang sia-sia. Mengapa beliau pulang disaat yang tidak tepat, saat kota sedang dilanda krisis, kekeringan tenggorokan mendera semua orang dan gelombang panas membuat diriku tak lagi dapat berpikir jernih. Loh, kemana juga remote portable AC yang sangat langka untuk saat ini?

Untuk pertanyaan ini, agak sulit, butuh tenaga ekstra untuk menemukan jawabannya, sangat tidak etis untuk dibeberkan, memalukan walau itu bukan lagi rahasia besar. “Tunggu apa lagi? Buat penasaran saja,” ketusku.
“Ya, ya, akan saya jawab. Loh situ kok marah?”
“Gak marah kok?” ucapku sambil mendengus. (Waduh kok gue ngomong sendiri ya???)
Jawabannya tidak ada, sebab AC ini telah ada sejak sekolah ini didirikan, yakni sekitar 25 tahun yang lalu. Lantas? Tentu saja tidak ada remotenya, menurut silsilah keluarga AC, barang ini merupakan keluaran ketiga, dan tidak membawa remote saat ia datang dan masuk ke sekolah. Titik. Bukankah tanpa remote, kok gak diidupin pake tangan, atau manual gitu?

AC sekolah sudah tercatat di MURI, membanggakan sekaligus tragis. Membanggakan
karena pihak sekolah mendapat piagam MURI, tragis karena AC kita tercatat sebagai AC terbutut yang pernah ada di Indonesia, yang masih berfungsi sampai sekarang.
Lihat saja, zaman sudah modern, AC baru dengan penampilan modis dan desain keren telah berjamur dimana-mana, namun pihak sekolah dengan berpegang pada piagam MURI yang mereka dapatkan, beralasan kita harus melestarikan warisan sekolah, budaya dan sebagainya. Apaan tuh?! AC butut kok dilestarikan?! Gue melirik jam dinding, tepat di depan ruangan, dipajang dengan mereng sedikit ke kanan. Mungkin yang pasang pada mereng kali otaknya? He.he. “What?”

Jam setengah satu siang, dan aku masih tetap di kelas, menunggu setengah jam lagi untuk memulai pelajaran sejarah yang membosankan selangit. “Setengah jam?” desahku panjang.  AC yang berhembus tak mempan sedikitpun, karena takut dehidrasi, akhirnya kuputuskan untuk berkipas dengan buku pelajaran Dona Toon, teman sebangkuku.
“Dona Toon, dimana kamu berada sekarang?” bisikku.
Kita tak butuh orang pintar, dukun, paranormal, anjing pelacak ataupun sejenisnya untuk melacak dan menyium jejak yang terakhir ditinggal oleh Dona Toon. Walau ia pandai mengelak namun gue toh tetap tahu dimana ia bersembunyi sekarang?
Gadis itu dapat ditemukan di salah satu sudut sekolah, tepatnya sudut yang bangkunya tepat menghadap lapangan basket. Dan untuk orang baru yang belum mengenalnya, jangan takut, sebab kalian akan menemukan dirinya di sana, di antara kerumunan semut, dan tak ada yang lain. (Pernah dengar pepatah gak? Di mana ada gula, di situ ada semut?)

Dona Toon begitu tergila-gila dengan basket, bukan bolanya, melainkan pemainnya. Matanya selalu minta dimanja dengan cowok-cowok ganteng yang tidak jelas tingginya, lalu pernah sekali ia bilang, “ Gue sangat suka dengan cowok atletis, apalagi yang abis berkeringat, seksi banget.”
“Berkeringat itu seksi? Nih cewek pasti stress banget,” batinku.

Sedikit bocoran, dapat kurasakan kekecewaan yang mendalam pada diri Dona, sejak dirinya didiskualifikasi dari tim basket cewek beberapa bulan yang lalu. Alasannya jelas, ia melempar bola, tepat ke arah ‘vital’ pelatih basket, yang terkenal ‘killer’ plus cerewet luar biasa. Katanya pelatih itu gila, tak memberi dirinya ruang, privasi, untuk istirahat dan ngemil walau cuma  beberapa menit. Trus kesalnya lagi, ia menyuruh gadis yang lemah dan ayu seperti dirinya, dengan perut keroncongan, lari berkeliling lapangan dan push up. (Untuk referensi biro jodoh, Dona, gadis berponi lurus kayak Dora,  kulit sawo matang, mata bulat, muka bulat, pokoknya rata-rata serba bulat, berat diatas normal, 70kg, kekar, dan calon pesumo masa depan. Dan katanya ia adalah gadis lemah nan ayu. Bisa dibayangkan?! Waduh jadi ngomongin orang, tapi gpp cuma Tuhan yang tahu, he.he.)
Berita baiknya, sang pelatih tidak sampai dirawat inap, walau selama beberapa hari langkah kakinya terlihat diseret-seret, dan untuk kali ini, Dona berkilah ia tidak sengaja, kemudian memohon maaf dengan tidak tulus sambil mengumpat sumpah serapah. Namun sang pelatih yang malang, belakangan ini mulai melupakan kejadian tragis yang menimpanya, dan sedikit merubah sifat otoriternya.

Lamunanku seketika itu buyar, seorang cowok ganteng dan kelihatan putus asa, tiba-tiba masuk ke dalam kelas, diikutin oleh cewek berambut panjang. Dan mereka berdua tampak tidak asing. Dan setelah otakku berputar, akhirnya profil mereka kemudian muncul. Sang cowok bernama Fabian, pria idaman semua cewek di seantero sekolah, termasuk gue. Memiliki tinggi syarat pragawan, atletis, dengan rambut cepak dunk mirip Beckham, dan senyumannya bagai bisa yang mematikan hati semua hawa yang menghuni dunia. Beralih ke Mia, penyihir yang suka ngekorin Fabian kemana-mana, cewek genit dengan mata sipit, mulut jeber dan sok imut. Gayanya sangat centil kalo jalan, dan sering kali ia mengibas rambutnya kesana-kemari seperti iklan sampo berjalan. Cukup!! Memikirkan Mia, membuat moodku bertambah jelek, udara bertambah panas, gerah, dan keringat kembali menguyur sekujur tubuh.
“Pokoknya elu harus jelasin, buat sapa sms ini?” teriak Mia dengan nada tinggi, sambil mengarahkan hp yang ia pegang ke arah Fabian. Pria itu hanya diam, tak berkata apa-apa, terlihat sangat pasrah. Gadis itu terus menuntut penjelasan, dan Fabian seperti tidak menghiraukan.
“Halo,” tegurku pada mereka, tak ada respon sedikitpun, membuat adrenalin darahku mendidih yang siap untuk mengunyam mereka berdua.
“Klu you pada ingin maen sinetron jangan di sini, tuh masuk tv, ato kalo gak di jalan tuh,” ketusku kesal.
“Bukan urusanmu,” balas mereka bersamaan.
Bukan urusanku kata mereka? Bagus, kini mereka telah memancing hiu di air keruh, membuat suasana hatiku panas, mendidih luar dalam, dan tanpa pikir panjang lebar, kuraih tas yang terletak di samping tempat dudukku, lalu kulempar.  Tas itu melesat cepat, melewati beberapa meja, namun tampaknya mereka cerdik, lalu menghindar, mundur ke belakang. Alhasil, tas itu mengenai papan tulis, dan mendarat dengan sempurna di lantai.
“Dasar gila,” ucap mereka, kembali bersamaan dan melanjutkan pertengkaran. Tapi sebelum kukorbankan tas yang tergeletak di belakang mejaku, tiba-tiba terdengar pernyataan yang mencekat suaraku. Rasanya bumi terbalik 360 derajat, gempa dahsyat mengutak-atik kepalaku dan nafasku seperti terhenti untuk beberapa saat. 
“Gue mencintai Dona. Dan sekarang kamu puas?” Mia terbelalak, ia seakan tak percaya dengan ucapan Fabian barusan. Dan sepertinya Mia merasakan apa yang kurasakan barusan.
“Plaak.”
“Kita putus.”
Kejadiannya begitu cepat, dan untung saja sempat terekam di memori otakku. Mungkinkah telingaku rusak? Atau komponen di isi kepalaku mulai karatan, sudah tak muat, terasa berita yang masuk, terdengar samar dan kurang jelas.
Mia telah berhambur keluar, kini tinggal Fabian yang berdiri sambil mengelus pipinya yang kepanasan karena tamparan barusan. Pandangannya mengarah padaku, dan ia berucap….
“Tolong bilangin Dona, gue cinta sama dia.”
Padahal tidak mendung dan hujan, tapi mengapa gue seperti mendengar ada sambaran geledek yang lewat?

Bel berbunyi, waktu setengah jam seperti begitu cepat berlalu. Dan Dona mulai merepet panjang lebar, karena tasnya tiba-tiba sudah ada di depan kelas. Gue hanya diam, dan memberikan alasan singkat, tanpa mengungkit masalah Fabian. Ia menganguk, dan memukul-mukul noda putih kapur yang menempel di tasnya. Kemudian menjejalkan tangan ke dalam tas, mengais isinya. Wajahnya kembali merona setelah membaca isi sms yang tertera di hpnya.
“Sial, gue lupa tadi Mia ada bilang soal sms,” batinku kesal.
Kesimpulannya, hari ini benar-benar apess bangett. Pertama, karena panas sedang ngambek, dan dampaknya menuai seember keringat gue. Kedua, Pak Moon tidak jualan, beliau memilih pulang kampung ketimbang menyogok kerongkongan gue yang kering karena kemarau yang panjang. Ketiga, pihak sekolah tidak menguburkan AC butut yang menjadi kebanggaan sekolah. Keempat, gue gak diopenin sedikitpun oleh Fabian dan Mia, menganggap gue ini patung usang tak bernyawa. Dan kelima adalah penyebab utama mengapa gue bete banget hari ini? Jelas gue ‘jealous’ banget dengan Dona Toon, ternyata ia beneran jadian dengan Fabian, alasannya sepele, cowok itu salut dengan keberanian Dona yang telah memberikan pelajaran berharga buat pelatih basket, yang notabene sangat dibenci oleh anggota tim basket cowok. Alhasil, Dona sekarang menjadi primadona alias bunga kembang sekolah, semua cowok pada berebut mengerumuni dirinya. (Jadi teringat pepatah, ada bunga ada kumbang. Duh!!!)
Jadi lengkap sudah penderitaan gue, namun walaupun berat tapi gue sudah ikhlas kok sekarang. Buat Dona, gue sangat senang karena ia sudah mendapat pacar yang ganteng, dan akhir kata gue ucapin semoga bahagia. (Tuhan, bolehkan gue meralat ucapanku yang ngawur tentang profil Dona. Gue gak mau kena karma karenanya. Peace!!!)
      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar